Sejarah Singkat Munculnya Aliran Jabariyah dan Paham Sesatnya

aliran jabariyah

Pecihitam.org – Tentang aliran-aliran dalam islam yang berkembang di masanya, salah satunya adalah aliran Jabariyah. Secara bahasa kata Jabariyah berasal dari kata Zabara yang artinya memaksa atau mengharuskan melakukan sesuatu.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Secara estimologi atau istilah menurut Asy-Syahrastani, ia mengartikan Jabariyah sebagai menolak adanya perbuatan dan menyandarkan semua perbuatan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Artinya manusia tidak punya andil sama sekali dalam melakukan perbuatannya, melainkan Tuhan yang menentukan segala-galanya.

Paham Jabariyah pertama kali diperkenalkan oleh Ja’ad bin Dirham, kemudian disebarluaskan oleh Jahm bin Shafwan dari Khurasan.
Dalam perkembangan paham ini juga dikembangkan oleh tokoh lainnya yang antara lain adalah Al Husein bin Muhammad Najjar dan Ja’ad bin Dirrar.

Pendapat lain mengatakan bahwa kemunculan aliran Jabariyah terpengaruh dari paham ajaran Yahudi dan Nasrani.  Yaitu Yahudi yang bersekte Qurro dan Nasrani yang bersekte Yaqubiyah.

Sebagian ahli sejarah Islam menganggap bahwa Jaad bin Dirham mengambil paham Jabariyah ini dari seorang Yahudi di Syam. Namun menurut Abu Zahrah agama Yahudi bukanlah satu-satunya pemilik peran bagi kemunculan paham ini. Kemunculannya sangat mungkin juga karena pengaruh paham orang-orang Persia yang banyak berlatar belakang agama Majusi.

Baca Juga:  Sumber Sama, Mengapa Banyak Perbedaan Pendapat dalam Islam?

Mengenai aliran Jabariyah ini para ahli sejarah teologi Islam ada juga yang berpendapat bahwa kehidupan bangsa Arab yang dikelilingi Gurun Sahara telah mempengaruhi cara hidup mereka.

Ketergantungan mereka terhadap Gurun Sahara yang mana setelah memunculkan sikap menyerah diri terhadap alam. Sehingga logika mereka berpasrah saja kepada takdir Tuhan.

Dalam perjalan sejarahnya paham al-Jabariyyah mengalami perkembangan, Asy Syahrastani membagi Jabariyah dalam dua bentuk yaitu:

  1. Jabariyah murni, yang menolak adanya perbuatan berasal dari manusia dan memandang manusia tidak memiliki kemampuan untuk berbuat apalagi upaya atau kekuatan. Semua perbuatan adalah milik Allah Semata sehingga manusia hanyalah seperti kapas yang diterpa angin, yang sama sekali tidak memiliki apa-apa dan tidak bisa berbuat apa-apa.
  2. Jabariyah pertengahan atau moderat, yaitu yang mengakui adanya perbuatan manusia namun perbuatan manusia tidak membatasi. Jabariyah moderat masih menganggap bahwa manusia memiliki kekuatan-kekuatan pasif yang diberikan oleh Allah.

    Artinya manusia tidak seperti benda mati melainkan tetap mempunyai kekuatan dalam perbuatannya meskipun peranan itu adalah pasif. Oleh karena itu jika seseorang masih meyakini bahwa kekuasaan yang diciptakan pada diri manusia memiliki peranan terhadap perbuatan dan menyebutnya sebagai sebuah kasb (usaha), maka orang tersebut tidak dapat disebut sebagai Jabariah.

Doktrin-doktrin Jabariyah

Secara umum doktrin-doktrin Aliran Jabariyah dapat digambarkan sebagaimana berikut ini:

  1. Fatalisme, yakni kepasrahan total yang menganggap manusia tidak dapat melakukan apa-apa malah tidak memiliki daya, dan dipaksa berbuat oleh Allah SWT.
  2. Surga dan neraka tidak kekal tidak, dan tidak ada yang kekal selain Allah SWT.
  3. Iman adalah makrifat atau membenarkan dalam hati. Dalam hal ini pendapat ini sama dengan konsep iman yang diajarkan aliran Murji’ah.
  4. Kalam Tuhan (al-Quran) adalah makhluk.
  5. Tuhan tidak dapat dilihat di akhirat.

Pada intinya pokok pemikiran Jabariyah adalah penafian perbuatan manusia secara mutlak. Mereka berkeyakinan bahwa manusia sama dengan benda mati yang segala perbuatannya telah ditentukan oleh Allah SWT dan mereka tidak punya peran sedikit pun.

Itulah sekilas konsep mengenai firqoh Jabariyah yang mana firqoh ini kemudian dalam perkembangannya terbagi menjadi dua yaitu Jabariyah yang murni dan Jabariyah moderat. Jabariyah murni masih terbagi lagi menjadi beberapa golongan yaitu Al Jami’ah, an-Najmiyah, dan ad Dhirariyah.

Paham dan aliran Jabariyah ini secara fisik memang sudah tidak ada lagi, namun kemungkinan dari doktrin-doktrin mereka ada yang masih timbul di tengah masyarakat.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *