Suluk Linglung dan Konsep Ketuhanan Sunan Kalijaga Bagian 1

suluk linglung

“Memayu Hayuning Bawono, Ambrasto dur Hangkoro” (Sunan Kalijogo)

Pecihitam.orgSunan Kalijaga adalah salah satu wali yang mempunyai banyak keistimewaan lewat karomah-karomah yang dimilikinya. Sunan kalijaga juga merupakan salah satu wali yang metode pengajarannya menyesuaikan terhadap adat dan kebiasaan masyarakat pada waktu itu yakni lewat kesenian.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Maka dari itu ajaran sunan kalijaga banyak diterima dan lestari sampai saat ini. Selain ajaran kanjeng Sunan Kalijaga juga mempunyai karya tulis (otobiografi) yang dinamakan Suluk Linglung yang mengajarkan konsep Ketuhanan secara tersirat.

Menurut catatan sejarah versi jawa moyang Sunan Kalijaga dimulai dari Arya Wiraraja yang kemudian mempunyai anak Ario adikara atau yang dikenal dengan Ronggolawe dari Ronggolawe menurunkan Arya teja I, kemudian turun kepada Arya Teja II turun lagi ke Arya Teja III sampai kepada Raden Sahur yang bergelar tumenggung wilatikto yaitu ayahanda dari Raden Syahid (Sunan kalijaga).

Sunan kalijaga merupakan salah satu wali yang berjasa besar dalam penyebaran Islam di tanah jawa, Sunan Kalijaga juga meninggalkan banyak karya kesenian seperti seni pakaian, seni wayang, seni suara, seni ukir dan Gamelan. Bahkan Sunan Kalijaga juga punya karya tertulis yang disebut Suluk Linglung.

Baca Juga:  Keperkasaan NU Hadapi Radikalisme dan Wahabi di Indonesia

Menurut Dr. Fahrudin Faiz Suluk lingling sebetulnya adalah catatan hidup Sunan Kalijaga semenjak menjadi berandal di alas Jatiwangi yang ada di tuban.

Sampai beliau berguru kepada sunan bonang dan menemui guru sejati yakni Nabi Khidir. Artinya suluk linglung merupakan sebuah catatan perjalanan hidup Sunan Kalijaga dalam proses pencarian jati dirinya.

Akan tetapi terkait asal-usul sunan kalijaga menjadi berandal juga ada beberapa versi. Dalam tulisan Sendi Satryo Munif dari UIN Walisongo menyebut ada dua versi.

Yakni versi yang pertama adalah yang mengatakan kalau Sunan Kalijaga memanglah nakal sedari kecil dan ketika dewasa menjadi perampok dan pembunuh yang kejam.

Sedangkan versi yang kedua adalah yang mengatakan kalau Sunan Kalijaga menjadi berandal adalah akibat melihat keadaan masyarakat yang waktu itu terjadi ketimpangan dalam ekonomi.

Sehingga Sunan Kalijaga muda mengambil bahan-bahan makanan dari kerajaan untuk kemudian dibagikan kepada masyarakat kecil. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama dan langsung diketahui oleh ayahandanya.

Baca Juga:  Berbagai Gelar Raden Syahid: Lokajaya, Syaikh Melaya dan Sunan Kalijaga

Maka Sunan Kalijaga diusir dan kemudian menetap di alas Jatiwangi dan menjadi perampok orang-orang kaya untuk dibagikan kapada rakyat miskin.

Terlepas dari dua versi diatas tentang sebab sunan kalijaga menjadi berandal, yang jelas setelah menjadi berandal alas yang dikenal dengan sebutan “Berandal Lokajaya” barulah kemudian kanjeng sunan mencatat perjalanan hidupnya yang sudah disebut diatas yakni bertujuan untuk mencari jati dirinya.

Menurut Dr. Ali M Andilah dalam Suluk Linglung Sunan Kalijaga, kita diajarkan untuk mewajibkan menyembah kepada satu Tuhan atau meng-Esakan Tuhan.

Suluk dalam sastra Jawa artinya adalah ajaran Tuhan, maksudnya adalah orang yang sedang berproses dan sedang dalam perjalanan agar dekat dengan Tuhan.

Lebih jelasnya Dr. Ali menerangkan bahwa Suluk Linglung yang sudah diterjemahkan oleh Khafid Khasri dkk. terbitan Balai Pustaka dibagi menjadi 6 episode (pupuh), yang mana dalam setiap episodenya yaitu :

  1. Brahmana ngisep sari (Kumbang menghisap Madu) 8 bait Pupuh Dhandhanggula
  2. Kasmaran branta (Rindu kasih sayang) 23 bait Pupuh Asmarandana
  3. Tak berjudul 2 bait Pupuh Durma
  4. Sang Nabi Khidir (Sang Nabi Khidir) 26 bait Pupuh Dhandhanggula
  5. Tak berjudul 27 bait Pupuh Kinanthi
  6. Tak berjudul 5 bait Pupuh Dhandhanggula
Baca Juga:  Kebatinan Kanjeng Sunan Kalijaga dalam Sebuah Karya Sastra Agung “Kidung Rumeksa Ing Wengi”

Semua episode tersebut adalah menceritakan perjalanan manusia (dalam hal ini Sunan Kalijaga) sebagai seorang murid yang bertekad keras untuk mencari ilmu dan jati diri hingga akhirnya menemukan petunjuk untuk bisa mencapai tingkatan yang lebih tinggi agar bisa dekat dengan Tuhannya.

Demikian semoga bermanfaat. Insya Allh akan dilanjut ke bagian yang kedua. Tabik!

Fathur IM

Leave a Reply

Your email address will not be published.