Suluk, Model Pendidikan Spiritual Jalan Menuju Ma’rifatullah

Suluk

Pecihitam.org – Suluk secara bahasa hampir sama dengan tarekat, yakni cara mendekatkan diri kepada Tuhan. Hanya saja Tarekat masih bersifat konseptual, sedangkan suluk bersifat teknis operasional. Oleh karena itu, dalam dunia tarekat, terminologi “suluk” dimaknai latihan atau “riadhah” berjenjang dan dalam waktu tertentu dalam bimbingan guru tarekat. Orang yang mengikuti suluk disebut salik.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dari pengertian di atas bisa diketahui bahwa pelaksanan suluk harus dilakukan secara continue atau terus menerus dan berjenjang sesuai dengan tradisi tarekat tertentu dalam rangka tazkiyah an-nafs yang pelaksanaannya harus dalam bimbingan seorang mursyid atau guru tarekat.

Dalam hal ini ada sebuah maqolah bahwa barangsiapa yang belajar ilmu tanpa bimbingan seorang guru maka gurunya itu adalah syetan.

Dalam al-Qur’an, istilah suluk menunjukan makna kadihun yang artinya “bekerja dengan sungguh-sungguh”, seperti yang tercantum dalam ayat berikut ini :

يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ 

Artinya : “Hai manusia, Sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, Maka pasti kamu akan menemui-Nya.” (QS. Insyiqaaq 84: 6)

Pada ayat diatas dimagsudkan bahwa manusia di dunia ini baik disadarinya atau tidak adalah dalam perjalanan kepada Tuhannya. dan tidak dapat tidak Dia akan menemui Tuhannya untuk menerima pembalasan-Nya dari perbuatannya yang buruk maupun yang baik.

Tujuan annya adalah tidak lain adalah untuk jalan ma’rifatullah, Allah Swt. berfirman :

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا  

Baca Juga:  Menjawab Tuduhan, Benarkah Kaum Sufi Anti Surga dan Tak Takut Neraka?

Artinya : “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: ‘Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa’. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (QS. al-Kahfi 18: 110

Merujuk pada kenyataan, bahwa kualitas spiritual dan religiositas salik tidak selalu sama, disamping tujuan yang ingin dicapai juga bersifat gradual, maka teknis pelaksanaan suluk juga diformulasikan dalam beberapa tipe.

Model atau tipe suluk yang biasa dijumpai dalam tarekat, berkisar pada empat jenis, yaitu: Dzikir, kegiatan pokok dalam suluk adalah dzikir yang diselingi dengan ibadah sunnat lainnya sesuai dengan arahan mursyid. Suluk model ini biasanya bertujuan untuk penyempurnaan pelaksanaan ibadah.

Suluk Riadhah, latihan pisik dan psikis untuk membangun ketahanan rohani dan jasmani. Cara yang ditempuh biasanya dengan mengurangi makan, minum, mengurangi masa tidur, menekan dorongan hasrat-hasrat biologis, sedikit bicara. Tujuan esensial dari suluk ini adalah bersifat moralitas melalui penguasaan hawa nafsu.

Suluk Penderitaan, yakni suluk yang dijalani dengan berbagai rintangan dan kesulitan yang menuntut keuletan dan keberanian, kesabaran dan ketabahan. Tujuannya lebih terfokus pada pembinaan kepribadian yang merdeka, mandiri dan percaya diri.

Suluk Pengabdian, dalam hal ini pengabdian pada sesama, yaitu bersifat humanistik, bersifat satria yang bertujuan tumbuh suburnya rasa solidaritas dan cinta sesama makhluk Tuhan.

Baca Juga:  Ilmu Laduni, Pengetahuan Langsung dari Allah yang Diilhamkan dalam Hati Seorang Hamba

Apabila dilihat dari sisi lain, terutama dilihat dari aspek spiritualnya, ternyata ditemukan pembedaan suluk pada tipe lain. Tampaknya pembedaan itu didasarkan pada sasaran yang bersifat kejiwaan semata, yaitu : tazkiyah an nafs, penyucian jiwa dari berbagai sifat dan kecenderungan yang jelek, yang disimbolkan sebagai nafs al-ammarah, jiwa yang didominasi hawa nafsu.

Jiwa yang kotor itu disulukkan untuk ditingkatkan kesuciannya ke kualitas nafs al-lawwamah atau jiwa yang sudah terkendali. Kualitas jiwa yang paling sempurna disebut nafs muthmainnah atau jiwa yang tenang mapan sehingga tercipta ketenteraman dan kebahagiaan, karena ia berada pada kondisi spiritual dzikrullah.

Suluk Qalbu, yakni pembebasan hati dari kecenderungan pada kenikmatan kehidupan duniawi atau kenikmatan materialistik bendawi.

Suluk Sirr, pengosongan pikiran dan persepsi yang dapat melemahkan dan mengganggu ingatan kepada Allah.

Suluk Ruh, pencerahan ruh, mengisi jiwa dengan visi Ilahiyah melalui pendalaman rasa cinta kepada Allah

Aktivitas yang dilakukan dalam suluk ada banyak hal, namun yang paling mendasar adalah :Tahkim, yaitu peneguhan tekad melalui ikrar di hadapan mursyid sebagai pernyataan kesediaan secara sukarela untuk mengikuti setiap kegiatan dalam suluk.

Himmah, membangun optimisme dan keteguhan mental spritual agar mampu mengikuti seluruh kegiatan secara ikhlas dan sungguh-sungguh tanpa keraguan. Berbekal taqwa, kesanggupan diri meninggalkan setiap kemaksiatan serta mengerjakan kebajikan, baik yang bersifat lahiriah maupun bathiniyah.

Melaksanakan Syariat, melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim. Khalwat, semedi atau menyendiri dalam saat-saat tertentu untuk mendapatkan suasana yang kondusif dalam pengembaraan spritual.

Baca Juga:  Secuil Nasehat untuk Para Guru Agama; Profesi yang Sangat Mulia Dunia Akhirat

Dzikir, adalah “senjata” yang paling ampuh dalam pertempuran melawan hawa nafsu. Mentaati guru, karena guru atau mursyid adalah figur kesalehan, maka diyakini tidak akan memfatwakan yang salah atau sesat, maka harus dipatuhi.

Amaliyah dalam Suluk merupakan jalan untuk lebih mengenal Allah Swt. (Ma’rifatullah), amaliyah tersebut terdiri dari dua segi yaitu :

  1. Mahqomat, seperti: Taubat,Wara’, Zuhud, Sabar, Tawakal, Ikhlas, Ma’rifah, Mahabbah
  2. Ahwal, seperti: Wahdah, Hulul, Ittihad, Baqa’, Fana, Yaqin, Uns, Syauq, Raja’, Khauf

Amaliyah-amaliyah diatas harus senantiasa diamalkan oleh seorang salik agar mampu mencapai tingkatan ma’rifat sehingga tujuan haqiqi dari pada tarekat dapat terpenuhi (menjadi salik yang sejati).

Sumber :

  • Prof. H. A. Rivay Siregar, Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2002)
  • Abu Bakar Aceh, Pengantar Ilmu (Jakarta : HM Thawi & Son, 1966)
  • Ummu Salamah, Tradisi dan Akhlak Pengamal Tarekat (Garut : al Musaddadiyah, 2001)
  • Abdul Samad Palembani, Sirus Saliki (Mesir : al-Halabi, 1938)