Kisah Singkat Perjalanan Sunan Gunung Jati Selama 120 Tahun

Kisah Singkat Perjalanan Sunan Gunung Jati Selama 120 Tahun

PeciHitam.orgSunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah adalah satu-satunya anggota Walisongo yang makamkan di Jawa Barat. Berbeda dengan anggota walisongo lain yang kebanyakan berkonsentrasi di Jawa Tengah dan Timur bagian pesisir utara.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Tidak disangkal, bahwa Islam berkembang terlebih dahulu di Utara Jawa sebagai pusat perdagangan pada masa itu.

Lima dari sembilan Sunan bermakam di Jawa Timur, Yakni Sunan Gresik, Sunan Giri (Gresik), Sunan Ampel (Surabaya), Sunan Drajat (Lamongan), Sunan Bonang (Tuban).

Di Jawa Tengah terdapat 3 makam anggota Walisongo yakni Sunan Kalijaga di Demak, Sunan Kudus di Kabupaten Kudus dan Sunan Muria di Gunugn Muria Utara kota Kudus.

Daftar Pembahasan:

Sunan Gunung Jati dalam Walisongo

Sebenarnya Walisongo merupakan dewan dakwah yang berada di Jawa khususnya. Walisongo tidak hanya berjumlah 9 saja akan tetapi berganti menurut jenjang dan generasi umur masing-masing para Sunan atau wali.

Beberapa nama anggota walisongo yang lain adalah Syaikh Maulana Ishak, ayah Sunan Giri, Syaikh Subakir yang petilasannya berada di puncak Gunung Tidar Magelang. Selain itu, Raden Patah juga diketahui pernah menjadi anggota Walisongo kemudian dilantik menjadi Raja Demak.

Sunan Pandanaran atau Sunan Bayat, yang bermakam di Bayat Klaten serta Syaikh Abdul Muhyi atau Sunan Pamijahan dimakamkan di Tasikmalaya juga disebut-sebut merupakan anggota walisongo yang lainnya.

Akan  tetapi yang terkenal di Jawa Barat hanya Sunan Gunung Jati yang memiliki daerah dakwah di Kerajaan Pajajaran dan Galuh. Fokus dakwah Sunan Pamijahan di kerajaan Pajajaran bagian dalam, dan Sunan Gunung Jati bagian utara, dari Kota Cirebon sampai dengan Banten

Profil Sunan Gunung Jati

Sunan Gunung Jati diberkahi oleh Allah SWT dengan umur panjang. Sekira 120 tahun beliau diberi umur yang sangat bermanfaat. Sunan Gunung Jati bernama Asli Syarif Hidayatullah (شريف هداية الله)‎ atau ada yang menyebutnya Sayyid Kamil.

Beliau lahir dari pasangan Ulama Abdullah Umdatuddin bin Ali Nurul Alam dan Nyai Rara Santang pada tahun 1448 M. ibundanya adalah putri dari Raja Pajajaran, Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi. Nasab dari pihak ayah berurutan dari Abdullah bin Ali Nurul Alam bin Jamaludin Al-Husein bersambung sampai Rasulullah SAW.

Baca Juga:  Layla Majnun, Betulkah Kisah Ini Nyata?

Silsilah nasab di atas berdasar kitab Negara Kertabhumi yang disusun oleh Raja Cirebon era Modern. Sedangkan dalam kitab Syamsu Adz-Dzahirah fi Nasabi Ahli Bait susunan Organisasi keturunan Rasulullah di Nusantara Rabithah Alawiyyin menjelasakan Nasab sunan Gunung Jati,

Syarif Hidayatullah adalah putra Abdullah Umdatuddin Azamtkhan bin Ali Nurul Alam Azmatkhan bin Jamaludin Akbar al-Husaini atau Syaikh Jumadil Kubro. Silsilah ini sama-sama menyambung sampai Rasulullah SAW.

Ibundanya tidak lagi menganut kepercayaan sebagaimana ayahnya, akan tetapi masuk agama Islam dengan nama gelar Syarifah Mudaim.

Sunan Gunung Jati bukan hanya seorang anggota Walisongo, beliau juga menjadi Raja di Kesultanan Cirebon setelah menggantikan kakak Ibunya, Raden Walangsungsang.

Tahun 1470 M, Sunan Gunung Jati sampai dikota Cirebon dengan dukungan dari Kerajaan Demak. Dan dilantik menjadi Raja Kesultanan Cirebon pada tahun 1479 M.

Setelah sampai di Cirebon beliau diserahi tampuk pimpinan Kerajaan Cirebon karena ketidak-adaan penerus langsung dari pangeran Cakrabuana atau Raden Walangsungsang.

Penobatan menjadi Raja Cirebon inilah, Syarif Hidayatullah diberi gelar Maulana Jati atau kemudian menjadi Sunan Gunung Jati.

Pendidikan dan Pernikahan

Banyak catatan sejarah mengungkapkan bahwa syaikh Nurjati merupakan guru beliau. Penelusuran catatan sejarah menjelaskan bahwa Syarif Hidayatullah tidak lahir di Cirebon. Beliau datang ke Cirebon pada tahun 1470 M pada umur 22 tahun.

Syarif Hidayatullah sebelum sampai ke Cirebon terlebih dahulu singgah di Pasai untuk belajar dan memperdalam Islam. Sebelumnya, pada saat masih di Mesir, beliau memulai pembelajar kepada ayahnya sendiri, Syaikh Abdullah Umdatudin dan kepada Ulama-ulama di Timur Tengah pada masa itu.

Sedangkan Syaikh Datuk Kahfi atau Syaikh Nurjati ayau Nurul Jati merupakan Guru dari Paman beliau Pangeran Cakrabuana dan Ibundanya Nyai Rara Santang atau Syarifah Mudaim. Walaupun dimungkinkan pula Sunan Gunung Jati berguru kepada guru paman dan Ibundanya setelah sampai di Cirebon.

Baca Juga:  Ismail Raji al Faruqi dan Pemikirannya Tentang Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Syaikh Nurul Jati sendiri adalah penyebar Islam pertama di Cirebon dan daerah Sumedang, Jawa Barat.

Beliau diketahui tidak hanya memiliki seorang Istri. Sunan Gunung Jati menikahi anak dari Guru Ibunya, Syaikh Nurjati yakni Nyi Rara Jati. Pernikahan dengan Nyi Rara Jati dikaruniai dua putra yakni Pangeran Jayakelana dan Pangeran Bratakelana.

Pernikahan selanjutnya adalah dengan Nyi Mas Pakungwati putri dari pamannya sendiri yaitu Pangeran Cakrabuana. Pernikahan ini merubah arah Kerajaan Cirebon menjadi berbasis Islam. Karena Syarif Hidayatullah diangkat menjadi pengganti Pangeran Cakarabuana sebagai raja Cirebon atau Caruban.

Setelah menjadi Raja, beliau meletakan Asas-asas Kerajaan Islam di Cirebon menjadi Kesultanan Cirebon. Pada masa ini, Sunan Gunung Jati diangkat menjadi dewan dakwah Walisongo untuk menggantikan Sunan Ampel yang wafat.

Pernikahan selanjutnya adalah dengan Nyi Kawunganten, seorang adik dari penguasa lokal Banten. Pernikahan dengan Nyi Kawunganten mengkasilkan dua putra putri yakni Ratu Wulung Ayu dan Maulana Hasanudin.

Ratu Wulung Ayu kemudian Hijrah mengikuti suaminya ke India sedangkan Maulana Hasanudin meneruskan perjuangan dakwah Islam dengan mendirikan Kerajaan Banten dan menjadi Raja Pertamanya.

Kisah pernikahan Sunan Gunung Jati dengan wanita Tionghoa tidak terekam dengan baik. beberapa sumber menerangkan bahwa Istri berdarah Tionghoa bernama Ong Tien Nio.

Beberapa orang meyakini bahwa Sunan Gunung Jati memiliki Istri dari Kalangan tionghoa karena di Makam Sunan Jati terdapat banyak Keramik yang bercorak Tionghoa.

Metode Dakwah

Dakwah Sunan Gunung Jati berfokus pada daerah Cirebon dan Pesisir Utara sampai ke barat Jawa Barat pada masa sekarang. Sunda Kelapa atau Jakarta juga menjadi daerah perjuangan dakwah Islam Sunan Gunung Jati.

Deretan kota dagang yang menjadi Obyek Dakwah menjadikan beliau menggunakan fasilitas kekuasaan dan kemampuan mempersatukan akulturasi budaya.

Selain menggunakan kekuatan kerajaan untuk meluaskan dakwah Islam, beliau juga melakukan pernikahan-pernikahan yang berdampak baik untuk penyebaran Islam.

Baca Juga:  Karomah Sunan Gunung Jati dari Ahli Bahasa Hingga Ahli Bedah Kedokteran

Metode penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Raden Syarif dikenal cukup unik. Sebagaimana wali-wali lain di Jawa Tengah dan Timur, beliau menggunakan metode kesenian yang mudah diterima oleh warga Cirebon.

Siasat beliau yakni menggunakan Gamelan untuk dakwah, bagi siapa saja yang ingin melihat pertunjukan seni gamelan dari Raden Syarif, dianjurkan untuk mengucapkan syahadat terlebih dahulu.

Beliau menjadi pemrakarsan berdirinya Kerajaan Banten di ujung kulon pulau jawa. Syarif Hidayatullah mengalami perjuangan yang cukup sulit karena pada saat itu terdapat ekspansi Portugis ke wilayah Nusantara.

Beliau juga menjadi Mentor bagi Pati Unus dalam eskpansi mengusir portugis di wilayah Cirebon. Penggunaan metode lebih halus beliau lakukan setelah pulang Haji dari Makkah bersama putranya Maulana Hasanudin.

Jasa besar beliau meletakan dasar penyatuan Banten dalam sebuah kerajaan yang satu. Beliau kemudian menunjuk Sultan yang layak adalah putranya, Maulana Hasanudin pada tahun 1552 M. Pendirian Kerajaan Banten merupakan jalan panjang Dakwah Islam di sana.

Sebelumnya Banten adalah wilayah pelabuhan yang sudah dimasuki Portugis. Perlombaan dakwah Kristen oleh Portugis dibendung oleh beliau beserta putranya Maulana Hasanudin.

Maka pendirian Kesultanan Banten sangat berpengaruh terhadap dakwah dan kekuatan mental Islam dalam menghadapi penjajah serta dakwah misionarisnya.

Beliau wafat pada tahun 1568 M dan dimakamkan di Gunung Jati maka menjadi terkenal sebagai Sunan Gunung Jati.

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan