Surah Al-Anbiya Ayat 78-82; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Anbiya Ayat 78-82

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Anbiya Ayat 78-82 ini, menerangkan keadaan Daud dan Sulaiman ketika mereka memberi keputusan dalam suatu perkara yang terjadi di antara rakyat mereka. Allah menegaskan bahwa Dia telah mengaruniakan kepada Sulaiman kemampuan yang lebih tinggi dalam memahami berbagai masalah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anbiya Ayat 78-82

Surah Al-Anbiya Ayat 78
وَدَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شَاهِدِينَ

Terjemahan: Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu,

Tafsir Jalalain: وَ (Dan) ingatlah دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ (Daud dan Sulaiman) yakni kisah keduanya, dijelaskan oleh ayat selanjutnya إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ (di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman) berupa ladang atau pohon anggur إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ (karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya) kambing-kambing itu memakannya dan merusaknya di waktu malam hari tanpa ada penggembalanya, karena kambing-kambing itu lepas dengan sendirinya dari kandangnya.

وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شَاهِدِينَ (Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu) Dhamir jamak dalam ayat ini menunjukkan makna untuk dua orang, yaitu Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Lalu Nabi Daud berkata, “Pemilik ladang itu berhak untuk memiliki kambing-kambing yang telah merusak ladangnya”.

Akan tetapi Nabi Sulaiman memutuskan, “Pemilik kebun hanya diperbolehkan memanfaatkan air susu, anak-anak dan bulu-bulunya, sampai tanaman ladang kembali seperti semula, diperbaiki oleh pemilik kambing, setelah itu ia diharuskan mengembalikan kambing-kambing itu kepada pemiliknya”.

Tafsir Ibnu Katsir: Syuraih, az-Zuhri dan Qatadah berkata: “an nafsyu (“merusak”) tidak terjadi kecuali di waktu malam.” Qatadah menambahkan: “Sedangkan al-Haml (“merusak”) tidak terjadi kecuali di waktu Siang.”

Ibnu Jarir berkata dari Ibnu Masud tentang firman-Nya: وَدَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ (“Dan ingatlah kisah Dawud dan Sulaiman di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya,”) yaitu sebuah tanaman kurma yang baru tumbuh batang-batangnya, lalu dirusak. Maka Dawud memberikan kambing tersebut untuk pemilik kurma.

Lalu Sulaiman berkata: “Bukan begini hai Nabiyyullah.” Dawud berkata: “Lalu bagaimana?” Sulaiman menjawab: “Serahkan kurma itu kepada pemilik kambing itu untuk ditanam hingga kembali sebagaimana ada sebelumnya serta serahkan kambing itu kepada pemilik tanaman untuk disimpannya.

Seandainya kurma itu telah tumbuh seperti semula adanya, maka engkau dapat serahkan kurma itu kepada pemiliknya dan engkau serahkan kambing itu kepada pemiliknya juga.” Itulah firman-Nya: fa faHHamnaa Haa sulaimaana (“ Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum.”) Demikian yang diriwayatkan oleh al-‘Aufi dari Ibnu Abbas.

Ibnu Jarir berkata bahwa ‘Amir berkata: “Dua orang laki-laki datang kepada Syuraih. Salah satu dari keduanya berkata: ‘Sesungguhnya kambing-kambing ini telah memotong satu tanaman milikku.’ Lalu, Syuraih berkata: ‘Siang atau malam. Jika di waktu siang, maka pemilik kambing-kambing bebas. Dan jika di waktu malam maka dia akan menanggung. Kemudian dia membaca:

وَدَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ (“Dan ingatlah kisah Dawud dan Sulaiman di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya,”)

Apa yang telah diakatakan oleh Syuraih ini sama dengan apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah, hadits al-Laits bin Sa’ad dari az-Zuhri dari Haram bin Sa’ad bin Mahishah bahwa unta al-Barra’ bin ‘Azib memasuki sebuah kebun, hingga merusaknya.

Maka, Rasulullah menetapkan bagi pemilik kebun untuk menjaganya waktu siang. Sedangkan apa-apa yang dirusak oleh binatang ternak di waktu malam, maka itu menjadi tanggungan pemiliki binatang tersebut.” Hadits ini dinilai berillat.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menerangkan keadaan Daud dan Sulaiman ketika mereka memberi keputusan dalam suatu perkara yang terjadi di antara rakyat mereka.

Dalam suatu riwayat Ibnu Abbas yang dikutip dari tafsir Ibnu Kashir disebutkan bahwa sekelompok domba telah merusak tanaman seorang petani pada waktu malam, lalu terjadilah sengketa antara pemilik tanaman dan pemilik domba,

dan kemudian mereka datang kepada Daud a.s. untuk minta diadili. Setelah mengadakan pemeriksaan maka Daud a.s. memberi keputusan agar domba-domba itu diserahkan kepada pemilik tanaman, karena dinilai harganya sama dengan nilai tanaman yang dirusaknya.

Sulaiman a.s. yang juga mendengarkan putusan itu mempunyai pendapat yang lain, yang lebih tepat dan lebih adil. Lalu Nabi Sulaiman berkata dalam majelis tersebut bahwa “Sebaiknya domba-domba itu diserahkan dulu kepada pemilik tanaman sehingga ia dapat mengambil manfaat dari susu, minyak dan bulunya, sementara kebun itu diserahkan kepada pemilik domba untuk diolahnya sendiri.

Baca Juga:  Surah Al-Furqan Ayat 4-6; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Apabila nanti tanamannya sudah kembali kepada keadaannya seperti sebelum dirusak oleh domba-domba tersebut, maka kebun itu diserahkan kepada pemiliknya, domba-domba itu pun dikembalikan pula kepada pemiliknya.”

Pendapat Sulaiman jelas lebih tepat, karena akhirnya maing-masing dari kedua pihak yang berperkara akan mendapatkan kembali miliknya dalam keadaan utuh.

Perbedaan pandangan antara ayah dan anak dalam mengambil keputusan atas perkara tersebut adalah bahwa Daud a.s. lebih menitik beratkan perhatiannya kepada nilai kerusakan tanaman itu, yang dilihatnya sama dengan nilai domba yang merusaknya lalu ia memutuskan agar domba-domba itu diserahkan sepenuhnya kepada pemilik tanaman. Sedang Sulaiman a.s. lebih menitik beratkan pandangannya kepada manfaat domba dan manfaat tanaman itu, maka ia mengambil keputusan yang demikian itu. Bagaimana pun juga, masing-masing mereka mendasarkan keputusannya kepada ijtihad, bukan kepada wahyu, sehingga lahirlah dua keputusan yang berbeda.

Selanjutnya Nabi Daud pun mengakui pendapat anaknya itu lebih tepat, sehingga itulah yang ditetapkannya kemudian sebagai keputusannya, dan membatalkan pendapatnya yang semula.

Pada akhir ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia menyaksikan dan mengetahui apa yang telah dilakukan oleh Daud dan Sulaiman dalam memeriksa dan memutuskan perkara tersebut, sehingga tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya.

Tafsir Quraish Shihab: Sampaikanlah, wahai Muhammad, kisah Dâwûd dan Sulaymân. Suatu ketika, mereka berselisih dalam menyelesaikan masalah tanaman yang dimakan oleh sekawanan kambing orang lain di waktu malam. Kami Maha Mengetahui keputusan yang mereka berdua ambil dalam masalah itu (1).

(1) Cerita lengkapnya adalah bahwa sekawanan kambing itu memakan habis tanaman pemilik ladang di malam hari. Nabi Dâwûd memutuskan agar kambing-kambing itu diberikan kepada pemilik ladang sebagai ganti dari tanaman yang rusak dan musnah. Sedangkan Nabi Sulaymân berpendapat bahwa kambing itu diberikan kepada pemilik ladang untuk sementara waktu saja, yaitu rentang waktu sampai tumbuhnya tanaman itu menjadi seperti semula.

Surah Al-Anbiya Ayat 79
فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ ۚ وَكُلًّا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ ۚ وَكُنَّا فَاعِلِينَ

Terjemahan: maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan kamilah yang melakukannya.

Tafsir Jalalain: فَفَهَّمْنَاهَا (Maka Kami telah memberikan pengertian tentang hukum) yakni keputusan yang adil dan tepat سُلَيْمَانَ (kepada Sulaiman) keputusan yang dilakukan oleh keduanya itu berdasarkan ijtihad masing-masing, kemudian Nabi Daud mentarjihkan atau menguatkan keputusan yang diambil oleh Nabi Sulaiman.

Menurut suatu pendapat dikatakan, bahwa keputusan keduanya itu berdasarkan wahyu dari Allah dan keputusan yang kedua yaitu yang telah diambil oleh Nabi Sulaiman berfungsi memansukh hukum yang pertama, yakni hukum Nabi Daud

وَكُلًّا (dan kepada masing-masing) daripada keduanya آتَيْنَا (Kami berikan) kepadanya حُكْمًا (hikmah) kenabian وَعِلْمًا (dan ilmu) tentang masalah-masalah agama وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ (dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud) demikianlah gunung-gunung dan burung-burung itu ditundukkan untuk bertasbih bersama Nabi Daud.

Nabi Daud memerintahkan gunung-gunung dan burung-burung untuk ikut bertasbih bersamanya bila ia mengalami kelesuan, hingga ia menjadi semangat lagi dalam bertasbih.

وَكُنَّا فَاعِلِينَ (Dan Kamilah yang melakukannya) yakni Kamilah yang menundukkan keduanya dapat bertasbih bersama Daud, sekalipun hal ini menurut kalian merupakan hal yang ajaib dan aneh yaitu tunduk dan patuhnya gunung-gunung dan burung-burung kepada perintah Nabi Daud.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ (“Dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung semua bertasbih bersama Dawud,”) dan ayat seterusnya. Hal itu disebabkan keindahan suaranya dalam membaca Kitab Zabur. Jika beliau menyenandungkannya, burung-burung yang terbang di udara pun berhenti saling sahut menyahut dan gunung-gunung bergaung karena suara tersebut.

Tafsir Kemenag: Pada permulaan ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia telah mengaruniakan kepada Sulaiman kemampuan yang lebih tinggi dalam memahami berbagai masalah. Hal ini memang terbukti dalam keputusan yang mereka berikan kepada masing-masing pihak dalam perkara yang terjadi antara pemilik domba dan pemilik tanaman seperti tersebut di atas, dimana keputusan yang diberikan Sulaiman dirasa lebih tepat, dan lebih memenuhi keadilan.

Sesudah menyebutkan hal itu, maka Allah menerangkan selanjutnya rahmat yang telah dikaruniakan-Nya kepada mereka berdua, yaitu hukum-hukum dan ilmu pengetahuan, baik mengenai agama, atau pun masalah duniawi. Rahmat seperti itu juga diberikan Allah kepada nabi-nabi-Nya yang lain, karena itu merupakan syarat pokok untuk menjadi Nabi.

Selanjutnya dalam ayat ini Allah menjelaskan nikmat yang khusus dikaruniakan-Nya kepada Nabi Daud a.s. yaitu: bahwa Allah telah menjadikan gunung-gunung dan burung-burung tunduk kepada Daud a.s., semuanya bertasbih bersamanya.

Baca Juga:  Surah Al-Anbiya Ayat 105-107; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Para akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia kuasa untuk memberikan karunia semacam ini kepada hamba-Nya, karena Dialah Pencipta dan Pemilik seluruh alam ini.

Tafsir Quraish Shihab: Lalu Kami memahamkan kepada Sulaymân bagaimana seharusnya berfatwa. Dan keduanya Kami beri ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan tentang segala hal ihwal kehidupan. Kami menundukkan bersama Dâwûd gunung dan burung untuk menyucikan Allah dari segala sesuatu yang tidak pantas untuk-Nya. Semua itu Kami lakukan dengan kekuasaan Kami yang tidak terkalahkan.

Surah Al-Anbiya Ayat 80
وَعَلَّمْنَاهُ صَنْعَةَ لَبُوسٍ لَكُمْ لِتُحْصِنَكُمْ مِنْ بَأْسِكُمْ ۖ فَهَلْ أَنْتُمْ شَاكِرُونَ

Terjemahan: Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu; Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah).

Tafsir Jalalain: وَعَلَّمْنَاهُ صَنْعَةَ لَبُوسٍ (Dan Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi) yaitu baju yang terbuat dari besi, dialah orang pertama yang menciptakannya dan sebelumnya hanyalah berupa lempengan-lempengan besi saja لَكُمْ (untuk kalian) yakni untuk segolongan manusia لِتُحْصِنَكُمْ (guna melindungi diri kalian) jika dibaca Linuhshinakum, maka Dhamirnya kembali kepada Allah, maksudnya, supaya Kami melindungi kalian.

Dan jika ia dibaca Lituhshinahum, maka Dhamirnya kembali kepada baju besi, maksudnya, supaya baju besi itu melindungi diri kalian. Jika dibaca Liyuhshinakum, maka Dhamirnya kembali kepada Nabi Daud, maksudnya, supaya dia melindungi kalian

مِنْ بَأْسِكُمْ (dalam peperangan kalian) melawan musuh-musuh kalian. فَهَلْ أَنْتُمْ (Maka hendaklah kalian) hai penduduk Mekah شَاكِرُونَ (bersyukur) atas nikmat karunia-Ku itu, yaitu dengan percaya kepada Rasulullah. Maksudnya bersyukurlah kalian atas hal tersebut kepada-Ku.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: وَعَلَّمْنَاهُ صَنْعَةَ لَبُوسٍ لَكُمْ لِتُحْصِنَكُمْ مِنْ بَأْسِكُمْ (“Dan telah Kami ajarkan kepada Dawud membuat baju besi untukmu, guna memeliharamu dalam peperangan,”) yaitu pembuatan baju besi. Qatadah berkata: “Dahulu, baju-baju perang itu hanya berupa tameng.” Dialah awal pertama kali orang yang menjadikannya sebuah baju, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

“Dan Kami telah melunakkan besi untuknya, yaitu buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya,” (QS. Saba’: 10-11). Yaitu, janganlah memperluas lingkarannya, tautkan dengan paku dan jangan tebalkan pakunya. Untuk itu, Dia berfirman: لِتُحْصِنَكُمْ مِنْ بَأْسِكُمْ; yaitu, untuk memeliharamu dalam peperangan.

فَهَلْ أَنْتُمْ شَاكِرُونَ (“Maka hendaklah kamu mensyukuri,”) yaitu atas nikmat-nikmat Allah kepada kalian, ketika Dia memberikan ilham kepada hamba-Nya, Dawud, lalu Dia ajarkan hal itu untuk kalian.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menyebutkan karunianya yang lain, yang diberikannya kepada Daud a.s., yaitu bahwa Daud telah diberi-Nya pengetahuan dan keterampilan dalam kepandaian menjadikan besi lunak di tangannya tanpa dipanaskan, karena keistimewaan ini Daud bisa membuat baju besi yang dipergunakan orang-orang di zaman itu sebagai pelindung diri dalam peperangan.

Kepandaian itu dimanfaatkan pula oleh umat-umat yang datang kemudian berabad-abad lamanya. Dengan demikian pengetahuan dan keterampilan yang dikaruniakan Allah kepada Nabi Daud a.s. itu telah tersebar luas dan bermanfaat bagi orang-orang dari bangsa lain. Di samping menjadi mukjizat Nabi Daud.

Sebab itu, pada akhir ayat ini Allah mengajukan pertanyaan kepada umat Nabi Muhammad, apakah turut bersyukur atas karunia tersebut? Sudah tentu, semua umat yang beriman kepada-Nya, senantiasa mensyukuri segala karunia yang dilimpahkan-Nya.

Tafsir Quraish Shihab: Dâwûd juga Kami ajari cara menganyam baju besi untuk kalian pergunakan sebagai pelindung dari serangan keras bila terjadi perselisihan antara kelompok kalian dengan yang lain.

Surah Al-Anbiya Ayat 81
وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ عَاصِفَةً تَجْرِي بِأَمْرِهِ إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا ۚ وَكُنَّا بِكُلِّ شَيْءٍ عَالِمِينَ

Terjemahan: Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.

Tafsir Jalalain: وَ (Dan) telah Kami tundukkan لِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ عَاصِفَةً (untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya) dan pada ayat yang lain disebutkan Rukha-an, artinya angin yang sangat kencang dan pelan tiupannya, kesemuanya itu sesuai dengan kehendak Nabi Sulaiman تَجْرِي بِأَمْرِهِ إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا (yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami telah memberkatinya) yakni negeri Syam.

وَكُنَّا بِكُلِّ شَيْءٍ عَالِمِينَ (Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu) antara lain ilmu Allah yang telah diberikan kepada Sulaiman itu akan mendorongnya tunduk patuh kepada Rabbnya. Allah melakukan hal itu sesuai dengan ilmu-Nya yang maha mengetahui segala sesuatu.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ عَاصِفَةً (“Dan telah Kami tundukkan untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya,”) yaitu telah Kami tundukkan untuk Sulaiman angin yang sangat kencang. تَجْرِي بِأَمْرِهِ إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا (“Yang berhembus dengan perintah-Nya ke negeri yang Kami telah memberkatinya,”) yaitu negeri Syam. وَكُنَّا بِكُلِّ شَيْءٍ عَالِمِينَ (“Dan adalah Kami Mahamengetahui segala sesuatu.”)

Baca Juga:  Surah Al Alaq; Tafsir, Terjemahan dan Asbabun Nuzulnya

Sulaiman pun mempunyai permadani dari kayu yang dapat diletakkan di atasnya semua yang ia butuhkan dari urusan kerajaan; kuda, unta, kemah dan pasukan. Kemudian ia memerintahkan angin untuk membawanya.

Maka masuklah angin itu ke bawah permadani, lalu membawa dan mengangkatnya serta memperjalankannya. Burung-burung menaunginya, menjaganya dari terik matahari, berjalan kemana saja sekehendaknya. Kemudian ia turun dan angin pun meletakkan semuanya.

Allah Ta’ala berfirman: “Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan balk menurut kemana saja yang di-kehendakinya.” (QS. Shaad: 36).

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah mulai menyebutkan nikmat-Nya yang khusus dilimpahkan-Nya kepada Nabi Sulaiman a.s., yaitu bahwa Dia telah menundukkan angin bagi Sulaiman a.s., sehingga angin tersebut dengan patuh melakukan apa yang diperintahkannya. Misalnya, angin tersebut berhembus ke arah negeri tertentu, dengan hembusan yang keras dan kencang atau pun lunak dan lambat, sesuai dengan kehendak Nabi Sulaiman a.s.. Allah berfirman:

Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut perintahnya ke mana saja yang dikehendakinya. (shad/38: 36)

Menurut pendapat ulama lainnya Sulaiman menggunakan angin sebagai alat transportasi yang mengangkutnya dari satu kota ke kota lain. Firman Allah: Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya pada waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya pada waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula). (Saba`/34: 12)

Pada akhir ayat ini Allah menegaskan, bahwa Dia senantiasa mengetahui segala sesuatu, sehingga tidak sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya.

Tafsir Quraish Shihab: Kami menundukkan angin kepada Sulaymân, hingga berhembus kencang menuju belahan bumi yang Kami bekali dengan banyak kebaikan dengan kehendaknya. Kami Mahatahu segala sesuatu, dan tidak ada sesuatu pun yang terlepas dari pengetahuan Kami, sekecil apa pun.

Surah Al-Anbiya Ayat 82
وَمِنَ الشَّيَاطِينِ مَنْ يَغُوصُونَ لَهُ وَيَعْمَلُونَ عَمَلًا دُونَ ذَٰلِكَ ۖ وَكُنَّا لَهُمْ حَافِظِينَ

Terjemahan: Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan syaitan-syaitan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain daripada itu, dan adalah Kami memelihara mereka itu,

Tafsir Jalalain: وَ (Dan) telah Kami tundukkan pula kepadanya الشَّيَاطِينِ مَنْ يَغُوصُونَ لَهُ (segolongan setan-setan yang menyelam untuknya) mereka menyelam ke dalam laut, lalu mereka mengeluarkan batu-batu permata dari dalamnya untuk Nabi Sulaiman,

وَيَعْمَلُونَ عَمَلًا دُونَ ذَٰلِكَ (dan mereka mengerjakan pekerjaan selain daripada itu) selain menyelam, yaitu seperti membangun bangunan dan pekerjaan-pekerjaan berat lainnya.

وَكُنَّا لَهُمْ حَافِظِينَ (dan adalah Kami memelihara mereka) supaya mereka jangan merusak lagi pekerjaan-pekerjaan yang telah mereka perbuat. Karena watak setan itu bilamana selesai dari suatu pekerjaan sebelum malam tiba, mereka merusaknya kembali, jika mereka tidak disuruh mengerjakan pekerjaan yang lain.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: وَمِنَ الشَّيَاطِينِ مَنْ يَغُوصُونَ لَهُ (“Dan Kami telah tundukkan [pula kepada Sulaiman] segolongan syaitan-syaitan yang menyelam [ke dalam laut] untuknya,”) yakni di dalam air, mereka mengeluarkan mutiara, permata dan lain-lain. وَيَعْمَلُونَ عَمَلًا دُونَ ذَٰلِكَ (“Dan mengerjakan pekerjaan selain daripada itu”) maksudnya selain itu.

Firman-Nya: وَكُنَّا لَهُمْ حَافِظِينَ (“Dan adalah Kami memelihara mereka itu,”) maksudnya, Allah menjaganya agar seseorang tidak mendapatkan kesulitan dari syaitan, bahkan semuanya itu berada dalam genggaman-Nya dan berada di bawah kekuasaan-Nya serta tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menghubungi dan menghampirinya lebih dekat lagi.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menjelaskan rahmat Allah yang lain yang dikarunia-kan-Nya khusus kepada Nabi Sulaiman a.s., yaitu bahwa Allah juga menundukkan segolongan setan yang patuh melakukan apa yang diperintahkan Sulaiman a.s. kepada mereka, misalnya: menyelam ke dalam laut untuk mengambil segala sesuatu yang diperlukannya, atau melakukan hal-hal untuk keperluan Sulaiman a.s. seperti mengerjakan bangunan dan sebagainya.

Pada ayat ini Allah menegaskan pula bahwa Dia senantiasa menjaganya sehingga setan tersebut tidak merusak dan tidak bermain-main dalam melakukan tugasnya.

Tafsir Quraish Shihab: Kami juga menundukkan sebagian setan kepadanya. Dengan perintahnya, setan-setan itu menyelam ke dasar laut untuk mencari mutiara dan merjan, dan mengerjakan tugas-tugas lain seperti membangun benteng dan istana. Kami selalu mengawasi setan-setan itu hingga tidak menyebabkan suatu keburukan kepada siapa pun serta tidak membangkang kepada Sulaymân.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Anbiya Ayat 78-82 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag, dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S