Surah Al-Fath Ayat 8-10; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Fath Ayat 8-10

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Fath Ayat 8-10 ini, menerangkan bahwa Allah menyatakan bahwa sesungguhnya Dia mengutus Muhammad sebagai saksi atas umatnya mengenai kebenaran Islam dan keberhasilan dakwah yang beliau kerjakan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Nabi bertugas menyampaikan agama Allah kepada semua manusia, serta menyampaikan kabar gembira kepada orang- orang yang mau mengikuti agama yang disampaikannya. Mereka yang mengikuti ajakan Rasul akan diberi pahala yang berlipat ganda berupa surga di akhirat.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Fath Ayat 8-10

Surah Al-Fath Ayat 8
إِنَّآ أَرۡسَلۡنَٰكَ شَٰهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا

Terjemahan: Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan,

Tafsir Jalalain: إِنَّآ أَرۡسَلۡنَٰكَ شَٰهِدًا (Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi) atas umatmu pada hari kiamat nanti وَمُبَشِّرًا (dan pembawa berita gembira) kepada mereka di dunia وَنَذِيرًا (dan pemberi peringatan) maksudnya memberi peringatan dan mempertakuti mereka selama di dunia akan siksa neraka kelak di akhirat bila mereka melakukan perbuatan yang berdosa.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman kepada Nabinya, Muhammad saw: إِنَّآ أَرۡسَلۡنَٰكَ شَٰهِدًا (“Sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi.”) yakni atas semua makhluk. وَمُبَشِّرًا (“Dan pembawa berita gembira”) yakni bagi orang-orang yang beriman. وَنَذِيرًا (“Dan pemberi peringatan.”) yakni bagi orang-orang kafir. Mengenai hal ini telah diterangkan dalam surat al-Ahzab.

Tafsir Kemenag: Allah menyatakan bahwa sesungguhnya Dia mengutus Muhammad sebagai saksi atas umatnya mengenai kebenaran Islam dan keberhasilan dakwah yang beliau kerjakan. Nabi bertugas menyampaikan agama Allah kepada semua manusia, serta menyampaikan kabar gembira kepada orang- orang yang mau mengikuti agama yang disampaikannya.

Mereka yang mengikuti ajakan Rasul akan diberi pahala yang berlipat ganda berupa surga di akhirat. Nabi juga bertugas memberikan peringatan kepada orang-orang yang mengingkari seruannya untuk mengikuti agama Allah bahwa mereka akan dimasukkan ke dalam neraka sebagai akibat dari keingkaran itu.

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya Kami telah mengutusmu, wahai Muhammad, sebagai saksi atas umatmu dan umat-umat terdahulu, dan sebagai pembawa berita gembira kepada orang-orang yang bertakwa berupa pahala yang baik serta pemberi peringatan kepada orang-orang yang berbuat maksiat berupa siksa yang buruk.

Surah Al-Fath Ayat 9
لِّتُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُعَزِّرُوهُ وَتُوَقِّرُوهُ وَتُسَبِّحُوهُ بُكۡرَةً وَأَصِيلًا

Terjemahan: supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)Nya, membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang.

Tafsir Jalalain: لِّتُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ (Supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya) lafal Lituminuu dapat dibaca Liyuminuu, demikian pula pada tiga tempat lainnya dalam ayat ini, sesudahnya وَتُعَزِّرُوهُ (menguatkan agama-Nya) maksudnya supaya kalian menolong agama-Nya; dan menurut suatu qiraat lafal Tu’azziruuhu dibaca Tu’azzizuuhu وَتُوَقِّرُوهُ (membesarkan-Nya) artinya supaya kalian mengagungkan-Nya, Dhamir pada kedua fi’il tersebut dapat merujuk, kepada Allah atau Rasul-Nya وَتُسَبِّحُوهُ (dan supaya kalian bertasbih kepada-Nya) yakni kepada Allah بُكۡرَةً وَأَصِيلًا (di waktu pagi dan petang) pada setiap pagi dan sore.

Tafsir Ibnu Katsir: لِّتُؤۡمِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَتُعَزِّرُوهُ (“Supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan menguatkan [agama]Nya.”) Ibnu ‘Abbas dan juga beberapa ulama lainnya mengatakan: “Yakni mengagungkan-Nya.” وَتُوَقِّرُوهُ (“Dan membesarkan-Nya”) yakni menghormati, mengagungkan dan memuliakan-Nya. وَتُسَبِّحُوهُ (“dan bertasbih kepada-Nya”) mensucikan-Nya. بُكۡرَةً وَأَصِيلًا (“Pada waktu pagi dan petang”) yakni pada awal dan akhir siang.

Tafsir Kemenag: Allah melakukan yang demikian agar manusia beriman kepada-Nya dan kepada Muhammad saw, sebagai rasul yang diutus-Nya; membela dan menegakkan agama-Nya dengan menyampaikan kepada manusia yang lain; mengagungkan-Nya dengan membesarkan nama-Nya; dan bertasbih dengan memuji dan menyucikan-Nya dari sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya pada setiap pagi dan petang.

Tafsir Quraish Shihab: Supaya kalian, orang-orang yang diutus rasul kepadanya, beriman kepada Allah dan rasul-Nya, membela Allah dengan cara membela agama-Nya dan mengagungkan-Nya serta mennyucikan-Nya pagi dan petang dari hal-hal yang tidak sesuai dengan kebesaran-Nya.

Surah Al-Fath Ayat 10
إِنَّ ٱلَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ ٱللَّهَ يَدُ ٱللَّهِ فَوۡقَ أَيۡدِيهِمۡ فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ عَلَىٰ نَفۡسِهِۦ وَمَنۡ أَوۡفَىٰ بِمَا عَٰهَدَ عَلَيۡهُ ٱللَّهَ فَسَيُؤۡتِيهِ أَجۡرًا عَظِيمًا

Terjemahan: Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.

Tafsir Jalalain: إِنَّ ٱلَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ (Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu) yaitu melakukan baiat Ridwan di Hudaibiah إِنَّمَا يُبَايِعُونَ ٱللَّهَ (sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah) pengertian ini sama dengan makna yang terkandung dalam ayat lainnya, yaitu firman-Nya, “Barang siapa yang menaati rasul, sesungguhnya ia telah menaati Allah.” (Q.S. An-Nisa, 80).

يَدُ ٱللَّهِ فَوۡقَ أَيۡدِيهِمۡ (Tangan kekuasaan Allah berada di atas tangan mereka) yang berbaiat kepada Nabi saw. Maksudnya, bahwa Allah swt. menyaksikan pembaiatan mereka, maka Dia kelak akan memberikan balasan pahala-Nya kepada mereka فَمَن نَّكَثَ (maka barang siapa yang melanggar janjinya) yakni merusak baiatnya.

Baca Juga:  Surah Al-Fath Ayat 4-7; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

فَإِنَّمَا يَنكُثُ (maka sesungguhnya ia hanya melanggar) karena itu akibat dari pelanggarannya akan menimpa عَلَىٰ نَفۡسِهِۦ وَمَنۡ أَوۡفَىٰ بِمَا عَٰهَدَ عَلَيۡهُ ٱللَّهَ فَسَيُؤۡتِيهِ (dirinya sendiri dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya) dapat dibaca Fasaya tiihi atau Fasanu tiihi, kalau dibaca Fasanu`tihi artinya, Kami akan memberinya أَجۡرًا عَظِيمًا (pahala yang besar.).

Tafsir Ibnu Katsir: Setelah itu Allah berfirman kepada Rasul-Nya sebagai pemuliaan dan penghormatan baginya: إِنَّ ٱلَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ ٱللَّهَ (“Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu, sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah.”) hal itu sebagaimana firman Allah: مَّن يُطِعِ ٱلرَّسُولَ فَقَدۡ أَطَاعَ ٱللَّهَ (“Barang siapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah.”)(an-Nisaa’: 80).

Firman-Nya: يَدُ ٱللَّهِ فَوۡقَ أَيۡدِيهِمۡ (“Tangan Allah di atas tangan mereka.”) maksudnya, Dia [ilmu-Nya] hadir bersama mereka, mendengarkan seluruh ucapan mereka, melihat tempat-tempat mereka, dan mengetahui apa yang mereka sembunyikan di dalam hati mereka, serta apa yang mereka tampakkan. Dia-lah Rabb Yang Mahatinggi, yang menerima baiat melalui Rasulullah saw.

Oleh karena itu di dalam surah ini Allah berfirman: فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ عَلَىٰ نَفۡسِهِۦ (“Maka barangsiapa yang melanggar janjinya, niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri.”) maksudnya, akibat buruk itu akan kembali kepada pelanggarnya. Sedangkan Allah sama sekali tidak membutuhkannya.

وَمَنۡ أَوۡفَىٰ بِمَا عَٰهَدَ عَلَيۡهُ ٱللَّهَ فَسَيُؤۡتِيهِ أَجۡرًا عَظِيمًا (“Dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Allah akan memberinya pahala yang besar.”) yakni pahala yang melimpah. Dan baiat ini adalah Bai’atur Ridwan yang terjadi di bawah pohon Samurah di Hudaibiyyah.

Dan jumlah para shahabat yang ikut berjanji setia kepada Rasulullah saw. saat itu ada yang mengatakan 1300 orang, ada yang mengatakan 1400 orang dan ada yang mengatakan 1500 orang. Dan yang pertengahan adalah yang paling benar.

Imam al-Bukhari meriwayatkan, Qutaibah memberitahu kami, Sufyan memberitahu kami, dari ‘Amr, dari Jabir, ia bercerita: “Pada saat terjadi perjanjian Hudaibiyyah, kami berjumlah 1400 orang.” Dan diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits Sufyan bin ‘Uyainah. Juga diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari hadits al-A’masy dari Salim bin Abil Ja’d, dari Jabir, ia bercerita:

“Pada saat itu kami berjumlah 1400 orang. Dan Rasulullah saw. meletakkan tangan beliau di air tersebut dan air mengalir di antara jari –jarinya, sehingga merka semua melihatnya.”

Di dalam kitab as-Siirah, Muhammad bin Ishaq bin Yasar bercerita: “Kemudian Rasulullah saw. memanggil ‘Umar bin al-Khaththab untuk beliau utus ke Makkah guna menyampaikan kepada para pemuka kaum Quraisy mengenai maksud kedatangan beliau. Maka ‘Umar bin al-Khaththab berkata:

‘Wahai Rasulallah, sesungguhnya aku takut orang-orang Quraisy akan berbuat jahat kepadaku. Sedangkan di kota Makkah itu tidak ada seorangpun dari Bani ‘Adi bin Ka’ab yang akan membelaku. Dan orang-orang Quraisypun telah mengetahui permusuhanku dan kebencianku terhadap mereka.

Tetapi aku ingin memberitahumu seorang yang lebih terhormat di kalangan mereka daripada diriku, yaitu ‘Utsman bin ‘Affan. Kita utus dia untuk menemui Abu Sufyan dan para pembesar Quraisy lainnya untuk menyampaikan berita kepada mereka bahwa kita datang kepada mereka bukan untuk berperang, tetapi datang untuk berziarah ke Baitullah dalam rangka mengagungkan kehormatannya.”

Maka ‘Utsman pun berangkat menuju kota Makkah, hingga akhirnya ia bertemu dengan Abban bin Sa’id bin al-‘Ash, ketika memasuki atau sebelum memasuki kota Makkah. Kemudian Abban menemani ‘Utsman bin ‘Affan lalu mengantarnya sehingga ia dapat menyerahkan surat Rasulullah saw. itu kepadanya.

Lalu ‘Utsman berangkat hingga ia berjumpa dengan Abu Sufyan dan para pembesar Quraisy. Ia menyampaikan apa yang dikirim Rasulullah saw. Maka mereka berkata kepada ‘Utsman setelah ia selesai membacakan surat Rasulullah saw. yang dikirimkan kepada mereka: ‘Jika anda hendak mengerjakan thawaf di Baitullah, maka silakan saja.’ Maka ‘Utsman berkata:

‘Aku tidak akan mengerjakan thawaf sehingga Rasulullah saw. berthawaf.’ Kemudian orang-orang Quraisy menahan ‘Utsman bin ‘Affan bersama mereka. Hingga akhirnya berita itu terdengar oleh Rasulullah saw. dan juga kaum muslimin bahwa ‘Utsman telah terbunuh.”

Ibnu Ishaq bercerita: “’Abdullah bin Abi Bakar memberitahuku, bahwa Rasulullah saw. bersabda ketika mendengar bahwa ‘Utsman bin ‘Affan telah dibunuh: ‘Kita tidak akan meninggalkan tempat ini sehingga kita memerangi kaum itu.’

Selanjutnya Rasulullah saw. menyeru umat manusia untuk berbaiat. Dan itulah yang disebut dengan Bai’atur Ridhwan yang terjadi di bawah sebatang pohon. Orang-orangpun berkata bahwa Rasulullah saw. membai’at mereka untuk mati. Dan Jabir bin ‘Abdillah berkata:

‘Sesungguhnya Rasulullah saw. tidak membai’at mereka untuk mati, tetapi kami berbai’at [berjanji setia] untuk tidak lari.’ Maka orang-orangpun berbai’at. Dan tidak ada seorangpun yang enggan melakukannya kecuali al-Jadd bin Qais, saudara Bani Salamah.

Baca Juga:  Surah Al-Anfal Ayat 17-18; Seri Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Jabir bin ‘Abdullah mengatakan: ‘Demi Allah, sungguh aku seakan-akan melihatnya merapat pada ketiak untanya yang ia tuju.’ Dengan demikian, ia bermaksud bersembunyi dari orang-orang. Lalu, ia datang kepada Rasulullah saw. dan menyampaikan berita bahwa berita tentang kematian ‘Utsman itu sama sekali tidak benar.”

Ibnu Lahi’ah menceritakan dari Abul Aswad, dari ‘Urwah bin az-Zubair, yang isinya mendekati konteks ini. Dan dalam konteksnya itu ia menambahkan bahwa orang-orang Quraisy telah mengutus Suhail bin ‘Amr, Huwaithib bin ‘Abdul ‘Izyi dan Mikraz bin Hafsh kepada Rasulullah saw.

Ketika mereka berada bersamaan, tiba-tiba terjadi perbincangan antara sebagian Muslimin dan kaum musyrikin serta mereka saling melempar batu dan kedua kelompok tersebut berteriak. Lalu kedua kelompok itu mundur beberapa langkah dari beliau. Kemudian ada seorang penyeru Rasulullah saw. berseru:

“Ketahuilah bahwa Ruhul Qudus telah turun kepada Rasulullah saw. dan menyuruh berbai’at. Maka pergilah kalian dengan menyebut Nama Allah Ta’ala dan kemudian berbai’at. Selanjutnya kaum Muslimin berjalan menemui Rasulullah saw. di bawah sebatang pohon.

Maka hal itu menjadikan kaum musyrikin gentar. Merekapun mengirimkan utusan dari kalangan kaum Muslimin yang ada bersama mereka untuk [mengajak] mengadakan perjanjian dan perdamaian.

Al-Hafizh Abu Bakar al-Baihaqi meriwayatkan dari Anas bin Malik, ia bercerita: “Bahwa ketika Rasulullah saw. memerintahkan Bai’atur Ridhwan, ‘Utsman bin ‘Affan menjadi utusan Rasulullah saw. kepada penduduk Makkah, maka orang-orang berbai’at. Kemudian, Rasulullah berdoa:

‘Ya Allah, sesungguhnya ‘Utsman tengah mengemban kepentingan Allah dan Rasul-Nya.’ Kemudian beliau memukulkan salah satu tangannya ke tangannya yang lain. Tangan Rasulullah saw. yang membai’at atas nama ‘Utsman lebih baik daripada tangan mereka sendiri.”

Abu Bakar ‘Abdullah bin az-Zubair al-Humaidi menceritakan dari asy-Sya’bi, ia bercerita: “Ketika Rasulullah saw. mengajak orang-orang untuk berbai’at, maka orang pertama kali sampai kepada Rasulullah adalah Abu Sinan al-Asadi. Ia berkata:

‘Bentangkan tanganmu, aku akan berbai’at kepadamu.’ Maka Rasulullah saw. berkata: ‘Berdasarkan apa engkau berbai’at kepadaku?’ Abu Sinan menjawab: ‘Atas dasar apa yang ada padamu.’ Demikianlah Abu Sinan bin Wahb al-Asadi.”

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Nafi’, ia mengatakan: “Bahwa sesungguhnya orang-orang membicarakan tentang Ibnu ‘Umar, bahwa ia telah masuk Islam sebelum ‘Umar bin al-Khaththab, padahal sesungguhnya tidak demikian. Dan yang benar bahwa pada saat itu terjadi perjanjian Hudaibiyyah, ‘Umar mengutus ‘Abdullah untuk mengambil kuda miliknya yang ada pada salah seorang dari kaum Anshar yang akan ia gunakan untuk berperang, sedang saat itu Rasulullah saw. tengah dibai’at di bawah pohon, dan ‘Umar sendiri tidak mengetahui akan hal itu.

Maka ‘Abdullah bin ‘Umar pun membai’at Rasulullah lalu pergi kepada ayahnya dengan membawa kudanya tersebut. Dan ‘Umar sendiri telah siap berperang, lalu ‘Abdullah bin ‘Umar memberitahukannya bahwa Rasulullah saw. telah dibai’at di bawah pohon.

Maka ‘Umar bin al-Khaththab pun segera bertolak dan berangkat bersama anaknya itu, sehingga ia berbai’at kepada beliau. Dan itulah yang banyak dibicarakan oleh banyak orang, bahwa Ibnu ‘Umar masuk Islam lebih awal sebelum ‘Umar.”

Imam Muslim meriwayatkan dari Ma’qil bin Yasar, ia bercerita: “Aku ikut menyaksikan Bai’atur Ridhwan, sedang Nabi saw. tengah membai’at orang-orang, saat itu aku berada di atas salah satu dari dahan pohon tersebut, tepat di atas kepala beliau. Pada saat itu kami berjumlah 1400 orang, dan kami tidak berbai’at atas kematian, tetapi kami berbai’at kepada beliau untuk tidak melarikan diri.”

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Salamah bin al-Akwa’ ia bercerita: “Aku pernah berbaiat kepada Rasulullah saw. di bawah pohon.” Yazid berkata: “Aku pernah bertanya: ‘Wahai Abu Salamah, dengan tujuan apa kalian berbai’at pada saat itu?’ ia menjawab: ‘Untuk suatu kematian.’”

Imam al-Baihaqi meriwayatkan dari Iyas bin Salamah, dari ayahnya, Salamah bin al-Akwa’ ia bercerita: “Aku pernah datang ke Hudaibiyyah bersama Rasulullah saw. pada saat itu kami berjumlah 1400 orang dengan 50 ekor kambing. Kemudian Rasulullah saw. duduk di tepi sumur Hudaibiyyah, entah beliau berdoa atau meludah ke dalamnya, sehingga akhirnya mengalirlah air, sehingga kami dapat minum dan memberi minum [hewan ternak kami].”

Al-Humaidi juga meriwayatkan, Sufyan memberitahu kami, dari ‘Amr, ia pernah mendengar Jabir bercerita: “Pada peristiwa Hudaibiyyah itu kami berjumlah 1400 orang. Maka Rasulullah saw. bersabda: ‘Kalian adalah sebaik-baik penduduk bumi pada hari ini.’” Jabir berkata: “Seandainya aku dapat melihat, niscaya aku akan tunjukkan kepada kalian tempat pohon itu berada.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Jabir, dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Tidak akan masuk neraka seseorang yang pernah mengikat janji setia di bahwa pohon ini.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Jabir, ia bercerita: “Rasulullah bersabda: ‘Semua orang yang ikut berbai’at di bawah pohon itu akan masuk surga, kecuali pemilik unta merah.’ Kemudian kami berangkat dan segera mencarinya, dan ternyata ia adalah seoran yang telah kehilangan untanya. Lalu kami katakan kepadanya: ‘Kemarilah berbai’atlah.’ Orang itu menjawab: ‘Menemukan untaku lebih aku sukai daripada harus berbaiat.’”

Baca Juga:  Surah An-Nisa Ayat 116-119; Seri Tadabbur Al Qur'an

Abdullah bin Ahmad meriwayatkan dari Jabir, dari Nabi saw. beliau bersabda: “Barang siapa menempuh jalan pegunungan ini, yaitu tsaniyyatul mirar, maka dosa-dosanya akan dihapuskan sebagaimana dihapuskannya dosa-dosa Bani Irail.” Yang pertama kali menaikinya adalah kuda Bani Khazraj, setelah itu orang-orang menyusul mereka. Kemudian Nabi saw. bersabda:

“Kalian semua diberi ampunan, kecuali pemilik unta merah.” Lalu kami katakan kepada orang itu: “Kemarilah agar Rasulullah saw. memohonkan ampunan untukmu.” Maka orang itupun menjawab: “Demi Allah, menemukan untaku yang hilang lebih aku sukai daripada aku dimintakan ampunan oleh Sahabat kalian.” Hadits ini diriwayatkkan juga oleh Muslim dari ‘Ubaidillah.

Selain itu Imam Muslim juga meriwayatkan dari Jabir, ia bercerita: “Seorang budak milik Hathib bin Abi Balta’ah pernah datang mengadukan tuannya, Hathib. Budak itu berkata: ‘Ya Rasulallah, pastilah Hathib itu akan masuk neraka.’ Maka Rasulullahpun bersabda: ‘Engkau telah berdusta, ia tidak akan masuk ke dalamnya, karena ia telah ikut dalam perang Badar dan perjanjian Hudaibiyyah.”

Oleh karena itu seraya memberi pujian kepada mereka, Allah swt. berfirman yang artinya: “bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu Sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. tangan Allah di atas tangan mereka, Maka Barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan Barangsiapa menepati janjinya kepada Allah Maka Allah akan memberinya pahala yang besar.” (al-Fath: 10)

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan pernyataan Allah terhadap baiat yang dilakukan para sahabat kepada Rasulullah saw bahwa hal itu juga berarti mengadakan baiat kepada Allah. Baiat ialah suatu janji setia atau ikrar yang dilakukan oleh seseorang atau beberapa orang yang berisi pengakuan untuk menaati seseorang misalnya karena ia diangkat menjadi pemimpin atau khalifah.

Yang dimaksud dengan baiat dalam ayat ini ialah Bai’atur Ridhwan yang terjadi di Hudaibiyyah yang dilakukan para sahabat di bawah pohon Samurah. Para sahabat waktu itu berjanji kepada Rasulullah saw bahwa mereka tidak akan lari dari medan pertempuran serta akan bertempur sampai titik darah penghabisan memerangi orang-orang musyrik Mekah, seandainya kabar yang disampaikan kepada mereka bahwa ‘Utsman bin ‘Affan yang diutus Rasulullah itu benar telah mati dibunuh orang musyrik Mekah.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Qatadah bahwa ia berkata kepada Sa’id bin al-Musayyab, “Berapa jumlah orang yang ikut Bai’ah ar-Ridhwan?” Sa’id menjawab, “Seribu lima ratus orang.” Ada pula yang berpendapat jumlahnya seribu empat ratus orang.

Dalam ayat ini, diterangkan cara baiat yang dilakukan para sahabat kepada Rasulullah saw yaitu dengan meletakkan tangan Rasul di atas tangan orang-orang yang berjanji. Dalam posisi demikian, diucapkanlah kata baiat.

Maksud kalimat “tangan Allah di atas tangan mereka” ialah untuk menyatakan bahwa berjanji dengan Rasulullah saw sama hukumnya dengan berjanji kepada Allah. Tangan Allah dalam konteks ayat ini merupakan arti kiasan, karena Allah Mahasuci dari segala sifat yang menyerupai makhluk-Nya. Oleh karena itu, ada ahli tafsir yang mengartikan tangan di sini dengan kekuasaan.

Kemudian diterangkan akibat yang akan dialami orang-orang yang mengingkari perjanjian itu, yaitu mereka akan memikul dosa yang besar. Dosa besar itu diberlakukan terhadap mereka karena tidak mau membaiat Nabi saw, sedangkan kaum Muslimin membaiat beliau secara pribadi. Sebaliknya diterangkan pula pahala yang akan diperoleh orang-orang yang menepati baiatnya. Mereka akan memperoleh pahala yang berlipat ganda di akhirat dan tempat mereka adalah surga yang penuh dengan kenikmatan.

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu–untuk menolong dengan segala kemampuan–sebenarnya mereka berjanji kepada Allah. Kekuatan Allah menyertaimu dan selalu berada di atas kekuatan mereka.

Barangsiapa melanggar janjimu setelah dikokohkannya janji itu, maka mudaratnya akan menimpa diri mereka sendiri. Dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah–dengan menyempurnakan baiat kepadamu–maka Allah akan memberinya pahala yang sangat besar.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Fath Ayat 8-10 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S