Surah Asy-Syu’ara Ayat 90-104; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Asy-Syu'ara Ayat 90-104

Pecihitam.org – Kandungan Surah Asy-Syu’ara Ayat 90-104 ini, menjelaskan tentang Surga yang didekatkan sedemikian rupa kepada orang-orang yang bertakwa, sehingga dapat dilihat dengan nyata, begitu pula neraka diperlihatkan bagi orang-orang yang berdosa. Ayat-ayat berikutnya menjelaskan tentang bagaimana penyesalan orang-orang yang menjadi ahli neraka.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syu’ara Ayat 90-104

Surah Asy-Syu’ara Ayat 90
وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ

Terjemahan: dan (di hari itu) didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa,

Tafsir Jalalain: وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ (Dan didekatkanlah surga) yakni dijadikan dekat- لِلْمُتَّقِينَ (kepada orang-orang yang bertakwa) hingga mereka dapat melihatnya dengan jelas.

Tafsir Ibnu Katsir: وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ (“Dan [di hari itu] didekatkan surga.”) yaitu didekatkan sedekat-dekatnya kepada penghuninya, penuh dengan kemegahan dan hiasan bagi yang memandangnya, yakni mereka orang-orang yang bertakwa yang amat menyukainya dan beramal di dunia untuk mencapainya.

Tafsir Kemenag: Surga itu didekatkan sedemikian rupa kepada orang-orang yang bertakwa, sehingga dapat dilihat dengan nyata. Bagaimana surga itu didekatkan, diterangkan pada ayat lain:

Sedangkan surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tidak jauh (dari mereka). (Qaf/50: 31)

Mendekatkan surga kepada orang-orang bertakwa akan menggembirakan mereka karena ketaatan yang telah mereka kerjakan selama di dunia, segera akan membuahkan hasil. Mereka akan segera memasukinya.

Tafsir Quraish Shihab: Pada hari didekatkannya surga ke tempat orang-orang yang berbahagia, lalu mereka–yang telah menjauhkan diri dari kekufuran dan kemaksiatan serta menerima keimanan dan ketaatan di dunia–berjalan ke arah surga.”

Surah Asy-Syu’ara Ayat 91
وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِلْغَاوِينَ

Terjemahan: dan diperlihatkan dengan jelas neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat”,

Tafsir Jalalain: وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ (Dan diperlihatkan dengan jelas neraka Jahim) yakni ditampakkan لِلْغَاوِينَ (kepada orang-orang yang Sesat) yakni orang-orang kafir.

Tafsir Ibnu Katsir: وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِلْغَاوِينَ (“dan diperlihatkan dengan jelas neraka jahim kepada orang-orang yang sesat.”) neraka jahim itu disingkapkan dan ditampakkan baginya lalu bergemuruhlah suara mendidihnya yang sampi ke dalam hati. Dan dikatakan kepada penghuninya dengan penuh celaan dan hinaan.

Tafsir Kemenag: Sebaliknya, neraka juga diperlihatkan kepada orang-orang yang sesat. Mereka menyaksikan kedahsyatan kobaran apinya. Dalam Al-Qur’an dilukiskan bahwa kobaran api neraka itu dari jauh saja sudah terdengar gejolaknya. Itulah yang akan menjadi tempat kediaman mereka, tanpa dapat mengelak lagi.

Ayat itu menggambarkan betapa cepat siksaan tersebut menimpa mereka. Sungguh hal itu tidak pernah mereka bayangkan ketika masih ada di dunia ini, karena mereka tidak peduli dengan azab Allah, seperti dijelaskan dalam ayat ini:

Dan kepada mereka dikatakan, “Pada hari ini Kami melupakan kamu sebagaimana kamu telah melupakan pertemuan (dengan) harimu ini; dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tidak akan ada penolong bagimu. (al-Jatsiyah/45: 34).

Tafsir Quraish Shihab: Adapun orang-orang yang menolak kebenaran, neraka jahim akan ditampakkan kepada mereka, sehingga jilatan apinya hampir mengenai mereka. Di saat itu, mereka sangat bersedih dan menyesal.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 92
وَقِيلَ لَهُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ تَعْبُدُونَ

Terjemahan: dan dikatakan kepada mereka: “Dimanakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu menyembah(nya)

Tafsir Jalalain: وَقِيلَ لَهُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ تَعْبُدُونَ (Dan dikatakan kepada mereka, “Di manakah berhala-berhala yang dahulu kalian menyembahnya).

Tafsir Ibnu Katsir: وَقِيلَ لَهُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ تَعْبُدُونَ ( (“Dimanakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu menyembah[nya] selain Allah?)

Tafsir Kemenag: Kemudian pada saat menghadapi neraka yang siap menerima orang-orang kafir dan musyrik, dilontarkan pertanyaan untuk mencemoohkan mereka, “Di manakah tuhan-tuhan berhala yang kamu sembah itu kini berada? Sanggupkah mereka menyelamatkan kamu dari siksaan Allah?” Jangankan untuk menyelamatkan orang lain, melepaskan diri mereka saja, tuhan-tuhan berhala itu tidak sanggup.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka akan dibentak, “Mana tuhan-tuhan selain Allah yang kalian sembah itu?

Surah Asy-Syu’ara Ayat 93
مِن دُونِ اللَّهِ هَلْ يَنصُرُونَكُمْ أَوْ يَنتَصِرُونَ

Terjemahan: selain dari Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?”

Tafsir Jalalain: مِن دُونِ اللَّهِ (Selain dari Allah?) selain dari-Nya, yang dimaksud adalah berhala-berhala. هَلْ يَنصُرُونَكُمْ (Dapatkah mereka menolong kalian) menolak azab yang akan menimpa diri kalian أَوْ يَنتَصِرُونَ (atau menolong diri mereka sendiri?”) yaitu menyelamatkan diri mereka sendiri dari azab?, tentu saja tidak bisa.

Tafsir Ibnu Katsir: مِن دُونِ اللَّهِ هَلْ يَنصُرُونَكُمْ أَوْ يَنتَصِرُونَ (Dapatkah mereka menolongmu atau menolong diri mereka sendiri?”) yakni ilah-ilah yang telah kalian sembah selain Allah yang berupa berhala dan tandingan-tandingan lain pada hari ini tidak dapat berbuat apa-apa serta tidak mampu membela kalian. Karena, kalian dan dia pada hari itu menjadi bahan bakar Jahanam yang akan kalian masuki.

Baca Juga:  Surah Yunus Ayat 101-103; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Tafsir Kemenag: Kemudian pada saat menghadapi neraka yang siap menerima orang-orang kafir dan musyrik, dilontarkan pertanyaan untuk mencemoohkan mereka, “Di manakah tuhan-tuhan berhala yang kamu sembah itu kini berada? Sanggupkah mereka menyelamatkan kamu dari siksaan Allah?” Jangankan untuk menyelamatkan orang lain, melepaskan diri mereka saja, tuhan-tuhan berhala itu tidak sanggup.

Tafsir Quraish Shihab: Adakah di hari ini sembahan-sembahan selain Allah yang kalian anggap sebagai juru selamat dapat menolong kalian? Atau, bahkan, menolong diri mereka sendiri?” Sembahan-sembahan mereka, tentu, tidak dapat melakukan semua itu. Sebab, mereka beserta sesembahan adalah bara dari api neraka itu sendiri.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 94
فَكُبْكِبُوا فِيهَا هُمْ وَالْغَاوُونَ

Terjemahan: Maka mereka (sembahan-sembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat,

Tafsir Jalalain: فَكُبْكِبُوا (Maka sesembahan-sesembahan itu dijungkirkan) dicampakkan فِيهَا هُمْ وَالْغَاوُونَ (ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat).

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: فَكُبْكِبُوا فِيهَا هُمْ وَالْغَاوُونَ (“Maka mereka [sembahan-sembahan] dijungkirkan ke dalam neraka bersama orang-orang yang sesat.”) Mujahid berkata: “Mereka dijungkirkan ke dalamnya.” Ulama lain berkata: “Mereka dijerumuskan ke dalamnya.” Makna yang dimaksud bahwa Dia akan melemparkan sebagian orang kafir kepada orang kafir lain serta para pemimpin yang menyeru mereka kepada kesyirikan.

Tafsir Kemenag: Kemudian orang-orang yang sesat dan telah ditetapkan sebagai penghuni neraka dijungkirkan bersama-sama pimpinan mereka dan tentara iblis seluruhnya. Tentara iblis dalam ayat ini dimaksudkan ialah orang-orang yang suka mengikuti perbuatan maksiat. Baik mereka yang mengikuti atau pemimpin yang diikuti sama-sama dilemparkan ke dalamnya.

Tafsir Quraish Shihab: Wajah-wajah mereka akan dijungkirkan berkali-kali ke dalam neraka jahim, hingga akhirnya mereka, juga orang-orang yang membuat mereka sesat, akan menetap di dasar neraka jahim.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 95
وَجُنُودُ إِبْلِيسَ أَجْمَعُونَ

Terjemahan: dan bala tentara iblis semuanya.

Tafsir Jalalain: وَجُنُودُ إِبْلِيسَ (Dan bala tentara iblis) yakni pengikut-pengikutnya dan orang-orang yang menaatinya dari jenis jin dan manusia أَجْمَعُونَ (semuanya).

Tafsir Ibnu Katsir: وَجُنُودُ إِبْلِيسَ أَجْمَعُونَ (“Dan bala tentara iblis semuanya”) yaitu mereka seluruhnya dijerumuskan ke dalamnya.

Tafsir Kemenag: Kemudian orang-orang yang sesat dan telah ditetapkan sebagai penghuni neraka dijungkirkan bersama-sama pimpinan mereka dan tentara iblis seluruhnya. Tentara iblis dalam ayat ini dimaksudkan ialah orang-orang yang suka mengikuti perbuatan maksiat. Baik mereka yang mengikuti atau pemimpin yang diikuti sama-sama dilemparkan ke dalamnya.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka juga akan ditemani para kaki tangan iblis. Yakni, mereka yang selalu mengemas kejahatan dan dosa sehingga terlihat indah oleh manusia, atau jin dan manusia pelaku kemaksiatan yang selalu mengikuti jalan Iblis.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 96
قَالُوا وَهُمْ فِيهَا يَخْتَصِمُونَ

Terjemahan: Mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka:

Tafsir Jalalain: قَالُوا (Mereka berkata,) orang-orang yang sesat itu وَهُمْ فِيهَا يَخْتَصِمُونَ (sedangkan mereka bertengkar di dalam neraka itu) bersama dengan sesembahan-sesembahan mereka.

Tafsir Ibnu Katsir: قَالُوا وَهُمْ فِيهَا يَخْتَصِمُونَ (“Mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka:)

Tafsir Kemenag: Dalam neraka, para pemimpin yang menyesatkan dan para pengikutnya saling menyalahkan. Mereka saling mempertanyakan siapa yang telah membawa mereka melakukan kejahatan sehingga masuk neraka.

Tafsir Quraish Shihab: Di hari itu mereka akan mengetahui dan meratapi kesalahan yang mereka perbuat. Mereka dan sembahan-sembahan yang menyesatkan mereka bertengkar saling menyalahkan.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 97
تَاللَّهِ إِن كُنَّا لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

Terjemahan: “demi Allah: sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata,

Tafsir Jalalain: تَاللَّهِ إِن (“Demi Allah; sungguh) lafal In di sini merupakan bentuk takhfif daripada Inna, sedangkan isimnya tidak disebutkan, pada asalnya adalah Innahuu كُنَّا لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ (kita dahulu dalam kesesatan yang nyata) yakni jelas sesatnya.

Tafsir Ibnu Katsir: تَاللَّهِ إِن كُنَّا لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ (‘Demi Allah, sungguh kita dahulu [di dunia] dalam kesesatan yang nyata,)

Tafsir Kemenag: Setelah bertengkar, mereka pun sama-sama menyadari bahwa tiada yang patut disalahkan kecuali diri mereka sendiri. Mereka mengakui bahwa kesesatan mereka sangat parah, yaitu mempersekutukan Allah.

Tafsir Quraish Shihab: Demi Allah, sesungguhnya kami di dunia berada dalam kerancuan dan kebodohan yang jelas, serta menyimpang dari kebenaran yang sangat tampak.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 98
إِذْ نُسَوِّيكُم بِرَبِّ الْعَالَمِينَ

Baca Juga:  Surah Hud Ayat 96-99; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Terjemahan: karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan semesta alam”.

Tafsir Jalalain: إِذْ (Karena) sebab نُسَوِّيكُم بِرَبِّ الْعَالَمِينَ (kita mempersamakan kalian dengan Rabb semesta alam) dalam hal menyembah.

Tafsir Ibnu Katsir: إِذْ نُسَوِّيكُم بِرَبِّ الْعَالَمِينَ (karena kita menyamakanmu dengan Rabb semesta alam.’”) yakni orang-orang lemah berkata kepada para pembesar mereka: “Sesungguhnya dahulu kami adalah pengikut kalian. Maka apakah kalian tidak dapat membela kami dari siksa neraka.”

mereka mengatakan dengan penuh penyesalan terhadap diri-diri mereka sendiri. yaitu kami menjadikan orang yang taat kepada perintah kalian sebagaimana mentaati perintah Rabb semesta alam, serta kami abdi kalian bersama Allah, Rabb semesta alam.

Tafsir Kemenag: Mereka sangat menyesali kenapa menganggap berhala itu sama kekuasaannya dengan Allah, sehingga mereka menyembahnya.

Tafsir Quraish Shihab: Yaitu tatkala kami menyederajatkan kalian, wahai sembahan, setara untuk disembah dengan Tuhan semesta alam. Padahal jelas perbedaan antara kalian yang lemah dengan Dia yang Mahakuasa.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 99
وَمَا أَضَلَّنَا إِلَّا الْمُجْرِمُونَ

Terjemahan: Dan tiadalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa.

Tafsir Jalalain: وَمَا أَضَلَّنَا (Dan tiadalah yang menyesatkan kita) dari petunjuk إِلَّا الْمُجْرِمُونَ (kecuali orang-orang yang berdosa) yakni setan atau para pendahulu kita yang kita tiru perbuatan mereka.

Tafsir Ibnu Katsir: وَمَا أَضَلَّنَا إِلَّا الْمُجْرِمُونَ (“Dan tidaklah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa.”) yaitu tidak ada yang mengajak kami kepada hal itu kecuali orang-orang yang durhaka.

Tafsir Kemenag: Di samping karena kesalahan sendiri, mereka juga terpengaruh oleh ajakan-ajakan jahat dari para pemimpin mereka. Para pemimpin itu selalu berpropaganda melakukan berbagai perbuatan yang melanggar agama sehingga mereka mengikutinya. Ini dikatakan lagi oleh Allah dalam ayat lain:

Dan mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). (al-Ahzab/33: 67)

Susunan ayat ini sangat lugas menjelaskan penyesalan dari orang-orang yang mengikuti seorang pemimpin tanpa menyadari ke mana mereka dibawa. Jadi, kita tidak harus menaati seorang pemimpin jika yakin bahwa pemimpin tersebut justru membawa kepada kedurhakaan.

Tafsir Quraish Shihab: Dan kami tidak akan terperosok dalam kebinasaan seperti ini melainkan disebabkan oleh para pembuat dosa yang menyesatkan kami dari jalan kebenaran.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 100
فَمَا لَنَا مِن شَافِعِينَ

Terjemahan: Maka kami tidak mempunyai pemberi syafa’at seorangpun,

Tafsir Jalalain: فَمَا لَنَا مِن شَافِعِينَ (Maka kami tidak mempunyai pemberi syafaat seorang pun) tidak sebagaimana orang-orang Mukmin; mereka memiliki para Malaikat, para Nabi dan orang-orang Mukmin lainnya yang dapat memberi syafaat kepada mereka.

Tafsir Ibnu Katsir: فَمَا لَنَا مِن شَافِعِينَ (“Maka kami tidak mempunyai pemberi syafaat seorang pun”) sebagian mereka berkata, yaitu Malaikat, sebagaimana mereka berkata: “Maka adakah bagi kami pemberi syafa’at yang akan memberi syafaat kepada kami, atau dapatkah kami dikembalikan [ke dunia], sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?” (al-A’raaf: 53)

Tafsir Kemenag: Orang-orang kafir dan musyrik itu baru menyadari bahwa di akhirat ini, tidak ada orang lain ataupun malaikat yang akan membantu mereka melepaskan diri dari azab Allah yang sudah di depan mata. Seandainya, di dunia dulu mereka beriman dan beramal saleh, pasti hal itu akan memberi syafaat kepada mereka..

Tafsir Quraish Shihab: Maka kami pun tidak mendapatkan penolong yang dapat menyelamatkan kami dari siksa, seperti yang kami duga sebelumnya.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 101
وَلَا صَدِيقٍ حَمِيمٍ

Terjemahan: dan tidak pula mempunyai teman yang akrab,

Tafsir Jalalain: وَلَا صَدِيقٍ حَمِيمٍ (Dan tidak pula mempunyai teman yang akrab) yaitu teman yang memperhatikan perkara kita.

Tafsir Ibnu Katsir: Demikianlah mereka berkata: وَلَا صَدِيقٍ حَمِيمٍ (“Dan tidak pula mempunyai teman yang akrab.”) yaitu kawan yang dekat. Qatadah berkata: “Mereka mengetahui, demi Allah, bahwa seorang teman akan bermanfaat jika ia seorang yang shalih. Sesungguhnya orang yang akrab jika ia shalih, maka ia akan memberikan syafaat.”

Tafsir Kemenag: Teman dekat atau keluarga sendiri juga mereka sadari tidak akan dapat menolong. Dalam ayat lain disebutkan:

Maka adakah pemberi syafaat bagi kami yang akan memberikan pertolongan kepada kami atau agar kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami akan beramal tidak seperti perbuatan yang pernah kami lakukan dahulu? (al-A’raf/7: 53).

Tafsir Quraish Shihab: Bahkan tak seorang karib pun–jika memang tak dapat mengeluarkan mereka dari siksaan–yang dapat dijadikan tempat mengadu dari kepedihan yang kami alami ini.”

Baca Juga:  Surah Ar-Ra'd Ayat 30; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Surah Asy-Syu’ara Ayat 102
فَلَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Terjemahan: maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia) niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman”.

Tafsir Jalalain: فَلَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً (Maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi) ke alam dunia فَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman”) makna Lau di sini menunjukkan arti Tamanni atau mengharapkan sesuatu yang mustahil dapat dicapai, dan lafal Nakuunu adalah Jawab dari Lau.

Tafsir Ibnu Katsir: فَلَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (“Maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi [ke dunia], niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman.”) hal itu karena mereka berharap dikembaliken ke dunia agar mereka mengerjakan ketaatan kepada Rabb mereka seperti yang mereka perkirakan. Sedangkan Allah Ta’ala Maha mengetahui bahwa seandainya mereka dikembalikan ke dunia, niscaya mereka akan kembali melaksanakan apa yang dilarang dan mereka adalah orang-orang yang pendusta.

Tafsir Kemenag: Mereka berharap dapat dikembalikan ke dunia. Jika keinginan itu terkabul, mereka berjanji akan beriman dan beramal saleh. Akan tetapi, hal itu tidak mungkin. Itu hanya alasan mereka, sebab sekiranya dikembalikan ke dunia sekalipun, mereka tetap akan ingkar kembali.

Tafsir Quraish Shihab: Di saat itulah mereka berharap dapat kembali lagi ke dunia agar dapat beriman dan memperoleh keselamatan.”

Surah Asy-Syu’ara Ayat 103
إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُم مُّؤْمِنِينَ

Terjemahan: Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.

Tafsir Jalalain: إِنَّ فِي ذَلِكَ (Sesungguhnya pada yang demikian itu) yaitu apa yang telah disebutkan tadi menyangkut kisah Nabi Ibrahim bersama dengan kaumnya لَآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُم مُّؤْمِنِينَ (benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak beriman).

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian firman Allah: إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُم مُّؤْمِنِينَ (“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda [kekuasaan Allah], tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.”) yakni dalam perdebatan Ibrahim terhadap kaumnya dan disampaikannya hujjah kepada mereka tentang tauhid merupakan ayat yang menunjukkan secara jelas dan pasti bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi secara benar selain Allah. وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُم مُّؤْمِنِينَ

Tafsir Kemenag: Demikianlah beberapa keterangan Tuhan yang disampaikan Ibrahim kepada kaumnya. Dengan dalil-dalil di atas tadi, nyatalah bahwa inti ajaran yang beliau sampaikan kepada kaumnya adalah paham ketauhidan dan percaya akan adanya hari kebangkitan. Tidak ada zat yang patut disembah melainkan Allah Yang Maha Esa. Hanya kebanyakan orang tidak mau mengerti atau tidak mau menerima kebenaran itu.

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya apa yang telah Allah sebutkan dalam kisah Ibrahim ini merupakan nasihat dan renungan bagi orang-orang yang mau menerima nasihat dan mengambil pelajaran. Tetapi kebanyakan kaummu yang mendengar kisah ini, wahai Muhammad, tidak juga menuruti seruanmu.

Surah Asy-Syu’ara Ayat 104
وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

Terjemahan: Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.

Tafsir Jalalain: وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (Dan sesungguhnya Rabbmu benar- benar Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang).

Tafsir Ibnu Katsir: وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (“tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar Dialah Yang Mahaperkasa lagi Maha penyayang.”)

Tafsir Kemenag: Allah dengan keperkasaan dan sifat Yang Maha Penyayang-Nya, senantiasa mengingatkan orang-orang yang sesat dan tidak mau beriman dengan ayat-ayat-Nya. Allah mengirimkan rasul kepada mereka supaya memperoleh hidayah dari-Nya. Allah mengutus para rasul itu dengan membawa ajaran-ajaran dan hukum-hukum agama, supaya dapat diikuti oleh mereka dan anak keturunannya.

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya Tuhanmu Mahakuasa untuk membalas orang-orang yang mendustakan kebenaran, Maha Pemberi nikmat bagi orang-orang yang melakukan kebaikan.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Asy-Syu’ara Ayat 90-104 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S