Surah Asy-Syura Ayat 19-22; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Asy-Syura Ayat 19-22

Pecihitam.org – Kandungan Surah Asy-Syura Ayat 19-22 ini, Allah menerangkan bahwa Dia sendiri selalu berbuat baik kepada hamba-Nya. Dia memberi mereka hal-hal yang bermanfaat, menjauhkan mereka dari bencana yang mengancam, menganugerahkan rezeki kepada hamba-Nya yang mukmin dan yang kafir tanpa perbedaan di antara mereka.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dijelaskan lagi bahwa barang siapa yang menghendaki pahala dengan amal dan usahanya, Allah akan memudahkan baginya untuk beramal saleh, kemudian Dia mengganjar amalnya itu, satu kebaikan dengan sepuluh kebaikan sampai berlipatganda menurut kehendak Allah.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syura Ayat 19-22

Surah Asy-Syura Ayat 19
ٱللَّهُ لَطِيفٌۢ بِعِبَادِهِۦ يَرۡزُقُ مَن يَشَآءُ وَهُوَ ٱلۡقَوِىُّ ٱلۡعَزِيزُ

Terjemahan: Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada yang di kehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

Tafsir Jalalain: ٱللَّهُ لَطِيفٌۢ بِعِبَادِهِۦ (Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya) baik terhadap mereka yang berbakti maupun terhadap mereka yang durhaka, karena Dia tidak membinasakan mereka melalui kelaparan sebab kemaksiatan mereka يَرۡزُقُ مَن يَشَآءُ (Dia memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya) artinya, Dia memberikan kepada masing-masingnya apa yang Dia kehendaki وَهُوَ ٱلۡقَوِىُّ (dan Dialah Yang Maha Kuat) atas semua kehendak-Nya ٱلۡعَزِيزُ (lagi Maha Perkasa) Maha Menang atas semua perkara-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah memberitahukan tentang kemahalembutan-Nya terhadap makhluk-Nya dalam memberikan rizky kepada mereka hingga akhir, dimana Dia tidak melupakan seorang pun juga di antara mereka, baik orang yang berbakti maupun orang yang durhaka. Seperti firman Allah:

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberikan rizkynya, dan Dia mengetahui tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata [Lauhul Mahfudh].” (Hudd: 6)

Firman Allah: يَرۡزُقُ مَن يَشَآءُ (“Dia memberi rizky kepada siapa yang dikehendaki-Nya.”) yaitu Dia melapangkan [bagi] siapa saja yang dikehendaki-Nya. وَهُوَ ٱلۡقَوِىُّ ٱلۡعَزِيزُ (“Dan Dia-lah Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa.”) tidak ada sesuatupun yang dapat melemahkan-Nya.

Tafsir Kemenag: Allah menerangkan bahwa Dia sendiri selalu berbuat baik kepada hamba-Nya. Dia memberi mereka hal-hal yang bermanfaat, menjauhkan mereka dari bencana yang mengancam, menganugerahkan rezeki kepada hamba-Nya yang mukmin dan yang kafir tanpa perbedaan di antara mereka.

Allah juga melapangkan dan menyempitkan rezeki kepada hamba-Nya yang dikehendaki-Nya sebagai ujian bagi orang kaya dalam sikapnya terhadap orang fakir dan ujian bagi orang fakir dalam hubungannya dengan orang kaya, agar supaya hubungan antara seseorang dengan yang lain menjadi baik karena mereka saling membutuhkan. Sebagaimana firman Allah:

Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (az-Zukhruf/43: 32)

Selanjutnya dijelaskan bahwa Allah Mahakuasa dan Mahaperkasa, Dia berbuat menurut kehendak-Nya, tidak seorang pun yang dapat mencegah dan menghalangi apa yang dikehendaki-Nya.

Tafsir Quraish Shihab: Allah mempunyai kebaikan yang sangat besar kepada semua hamba-Nya. Dia memberi rezeki kepada siapa saja yang dikehendaki, mengungguli segala sesuatu dan Mahaperkasa yang tak terkalahkan.

Surah Asy-Syura Ayat 20
مَن كَانَ يُرِيدُ حَرۡثَ ٱلۡءَاخِرَةِ نَزِدۡ لَهُۥ فِى حَرۡثِهِۦ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرۡثَ ٱلدُّنۡيَا نُؤۡتِهِۦ مِنۡهَا وَمَا لَهُۥ فِى ٱلۡءَاخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ

Terjemahan: Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.

Tafsir Jalalain: مَن كَانَ يُرِيدُ (Barang siapa yang menghendaki) dengan amalnya حَرۡثَ ٱلۡءَاخِرَةِ (keuntungan akhirat) pahala akhirat نَزِدۡ لَهُۥ فِى حَرۡثِهِۦ (Kami tambahkan keuntungan itu baginya) dilipatgandakan pahalanya yaitu satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan dan bahkan lebih dari itu.

وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرۡثَ ٱلدُّنۡيَا نُؤۡتِهِۦ مِنۡهَا (dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia) tanpa dilipatgandakan وَمَا لَهُۥ فِى ٱلۡءَاخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ (dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat.).

Tafsir Ibnu Katsir: مَن كَانَ يُرِيدُ حَرۡثَ ٱلۡءَاخِرَةِ (“barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat.”) yakni amal akhirat. نَزِدۡ لَهُۥ فِى حَرۡثِهِۦ (“Akan Kami tambah keuntungan itu baginya.”) yakni Kami dukung dan Kami bantu atas apa yang sedang diusahakannya, serta Kami perbanyak pertumbuhannya dan Kami balas satu kebaikan dengan berbanding sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat hingga batas yang dikehendaki Allah.

Baca Juga:  Mengapa Al-Qur’an Turun secara Berangsur-angsur? Inilah Hikmahnya

وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرۡثَ ٱلدُّنۡيَا نُؤۡتِهِۦ مِنۡهَا وَمَا لَهُۥ فِى ٱلۡءَاخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ (“Dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia, Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagian pun di akhirat.”) artinya, dan barangsiapa yang usahanya hanya untuk mencapai bagian dunia, tidak ada satu pun [ditujukan] untuk kepentingan akhirat sama sekali, niscaya Allah mengharamkan baginya dunia dan akhirat.

Jika Dia menghendaki, Dia akan berikan sebagian dari dunia, dan jika Dia tidak menghendaki, Dia tidak akan memperolehnya baik di dunia maupun di akhirat. Dengan niat ini, si pelaku akan memperoleh perniagaan yang merugi di dunia dan di akhirat.

Dalil dalam masalah ini bahwa Ayat ini dibatasi dengan Ayat yang terdapat dalam surah al-Israa’, yaitu firman Allah yang artinya: “Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), Maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam Keadaan tercela dan terusir.

Dan Barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.

Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). dan pasti kehidupan akhirat lebih Tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya.” (al-Israa’: 17-21)

Ats-Tsauri berkata dari Ma’mar, dari Abul ‘Aliyah, bahwa Ubay bin Ka’ab ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Gembirakanlah umat ini dengan kemuliaan, ketinggian, kemenangan dan kekuasaan di muka bumi. Barangsiapa di antara mereka yang beramal dengan amal akhirat guna meraih dunia, niscaya ia tidak akan mendapatkan sedikit pun bagian di akhirat.”

Tafsir Kemenag: Dalam Ayat ini dijelaskan bahwa barang siapa yang menghendaki pahala dengan amal dan usahanya, Allah akan memudahkan baginya untuk beramal saleh, kemudian Dia mengganjar amalnya itu, satu kebaikan dengan sepuluh kebaikan sampai berlipatganda menurut kehendak Allah.

Begitu pula sebaliknya, barang siapa mengharapkan dari amal usahanya kemewahan dunia dengan segala bentuknya dan tidak sedikit pun mengharapkan amalan dan pahala akhirat, maka Allah akan memberikan sebanyak apa yang telah ditentukan baginya, tetapi ia tidak akan memperoleh sedikit pun pahala akhirat karena amal itu sesuai dengan niatnya, dan bagi setiap orang balasan amalnya sesuai dengan niatnya, sebagaimana sabda Nabi saw:

Bahwasanya amal itu menurut niatnya, dan bahwasanya bagi setiap orang mendapat balasan sesuai dengan apa yang diniatkannya. (RiwAyat al-Bukhari dan Muslim)

Qatadah berkata, “Sesungguhnya Allah memberikan pahala kepada orang-orang yang amalnya diniatkan untuk akhirat selain untuk kesenangan dunia menurut kehendaknya. Allah tidak memberikan pahala di akhirat kepada orang yang beramal dengan niat memperoleh kenikmatan dunia saja.” Hal ini sejalan dengan firman Allah:

Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Kemudian Kami sediakan baginya (di akhirat) neraka Jahanam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia beriman, maka mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik. (al-Isra’/17: 18-19).

Tafsir Quraish Shihab: Barangsiapa yang, dengan amal perbuatannya, menginginkan pahala akhirat, Kami akan memberikan pahala itu secara berlipat ganda. Sedangkan orang yang, dalam amal perbuatannya, menginginkan kesenangan dunia saja, akan Kami berikan bagian itu saja. Dan di akhirat kelak, ia tidak akan memperoleh apa-apa.

Surah Asy-Syura Ayat 21
أَمۡ لَهُمۡ شُرَكَٰٓؤُاْ شَرَعُواْ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمۡ يَأۡذَنۢ بِهِ ٱللَّهُ وَلَوۡلَا كَلِمَةُ ٱلۡفَصۡلِ لَقُضِىَ بَيۡنَهُمۡ وَإِنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Terjemahan: Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.

Baca Juga:  Surah Ar-Rahman Ayat 65-78; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Jalalain: أَمۡ (Apakah) sebenarnya لَهُمۡ (mereka mempunyai) yang dimaksud adalah orang-orang kafir Mekah شُرَكَٰٓؤُاْ (sesembahan-sesembahan) yaitu setan-setan mereka شَرَعُواْ (yang mensyariatkan) maksudnya, sesembahan-sesembahan mereka itu mensyariatkan لَهُم (untuk mereka) untuk orang-orang kafir مِّنَ ٱلدِّينِ (agama) yang rusak لَمۡ يَأۡذَنۢ بِهِ ٱللَّهُ (yang tidak diizinkan oleh Allah?) seperti ajaran menyekutukan Allah dan mengingkari adanya hari berbangkit.

وَلَوۡلَا كَلِمَةُ ٱلۡفَصۡلِ (Sekiranya tidak ada ketetapan yang menentukan dari Allah) ketentuan yang telah terdahulu yang menetapkan bahwa pembalasan itu pada hari kiamat لَقُضِىَ بَيۡنَهُمۡ (tentulah telah diputuskan di antara mereka) dan orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang kafir akan langsung diazab di dunia.

وَإِنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ (Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu) yakni orang-orang kafir لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ (akan memperoleh azab yang amat pedih) yang amat menyakitkan.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: أَمۡ لَهُمۡ شُرَكَٰٓؤُاْ شَرَعُواْ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمۡ يَأۡذَنۢ بِهِ ٱللَّهُ (“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?”) yakni, mereka tidak mengikuti agama lurus yang disyari’atkan Allah kepadamu, bahkan mereka mengikuti apa yang disyariatkan oleh syaitan dari jin dan manusia, seperti mengharamkan apa yang mereka haramkan atas diri mereka sendiri, berupa Bahiirah, saa-ibah, wahiilah dan Haam, serta menghalalkan memakan bangkai, darah, judi dan berbagai bentuk kesesatan dan kebodohan yang bathil yang dahulu mereka buat-buat di masa jahiliyyah dalam bentuk penghalalan, pengharaman, ibadah-ibadah yang bathil dan harta-harta yang rusak.

Ditegaskan dalam kitab Shahih, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Aku melihat ‘Amr bin Luhay bin Qama’ah menarik ususnya di dalam neraka.”
Karena dialah yang pertama kali membuat saa-ibah. Laki-laki ini adalah seorang raja Khuza’ah. Dia yang pertama kali melakukan itu dan membawa orang Quraisy melakukan penyembahan kepada berhala-berhala, semoga Allah melaknat dan mengutuknya.

Firman Allah: وَلَوۡلَا كَلِمَةُ ٱلۡفَصۡلِ لَقُضِىَ بَيۡنَهُمۡ (“Sekiranya tidak ada ketetapan yang menentukan [dari Allah], tentulah mereka telah dibinasakan.”) artinya, hukuman mereka akan disegerakan, seandainya tidak ada ketetapan terdahulu yang menundanya hingga hari kembali.

وَإِنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ (“Dan sesungguhnya orang-orang yang dhalim itu akan memperoleh adzab yang amat pedih.”) yakni, sangat menyakitkan di neraka jahanam dan itulah sejelek-jelek tempat kembali.

Tafsir Kemenag: Dalam Ayat ini Allah menerangkan bahwa orang-orang musyrik tidak mengikuti agama Islam yang disyariatkan Allah, tetapi mengikuti apa yang digariskan oleh setan-setan mereka, baik yang berupa jin maupun berupa manusia.

Mereka mengharamkan sesuatu menurut nafsu mereka seperti mengharamkan unta yang terpotong telinganya, dan menghalalkan bangkai, darah, judi, dan lain-lain. Begitu pula hal-hal yang menunjukkan kesesatan mereka yang telah dilakukan pada zaman Jahiliah.

Sekalipun demikian mereka masih diberi kesempatan untuk bertobat, karena Allah telah menggariskan satu ketentuan yaitu penangguhan azab bagi mereka sampai hari Kiamat. Kalau tidak niscaya mereka itu sudah dibinasakan, sebagaimana firman Allah:

Bahkan hari Kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan hari Kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit. (al-Qamar/54: 46)

Mereka itu telah berbuat zalim terhadap diri mereka sendiri karena telah mengada-adakan hal-hal yang tidak disyariatkan Allah. Mereka itu akan dimasukkan ke dalam neraka, satu tempat yang penuh siksa yang pedih dan seburuk-buruk tempat kembali.

Tafsir Quraish Shihab: Apakah mereka mempunyai tuhan-tuhan yang mensyariatkan suatu ajaran agama yang tidak diperintahkan oleh Allah? Tidak, hal itu tidak terjadi! Kalau bukan karena ketentuan terdahulu tentang ditundanya penyelesaian antara orang kafir dan orang Mukmin sampai hari kiamat, niscaya hal itu akan terjadi di dunia ini. Orang-orang yang menganiaya diri mereka dengan kekafiran benar-benar akan mendapatkan azab yang sangat menyakitkan.

Surah Asy-Syura Ayat 22
تَرَى ٱلظَّٰلِمِينَ مُشۡفِقِينَ مِمَّا كَسَبُواْ وَهُوَ وَاقِعٌۢ بِهِمۡ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فِى رَوۡضَاتِ ٱلۡجَنَّاتِ لَهُم مَّا يَشَآءُونَ عِندَ رَبِّهِمۡ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَضۡلُ ٱلۡكَبِيرُ

Terjemahan: Kamu lihat orang-orang yang zalim sangat ketakutan karena kejahatan-kejahatan yang telah mereka kerjakan, sedang siksaan menimpa mereka. Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh (berada) di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Tuhan mereka. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.

Baca Juga:  Surah An-Nahl Ayat 10-11; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Jalalain: تَرَى ٱلظَّٰلِمِينَ (Kamu lihat orang-orang yang zalim) kelak di hari kiamat مُشۡفِقِينَ (sangat ketakutan) sangat ngeri مِمَّا كَسَبُواْ (karena kejahatan-kejahatan yang telah mereka kerjakan) di dunia, mereka takut akan menerima pembalasannya وَهُوَ (sedangkan pembalasan itu) yakni pembalasan perbuatan jahat mereka itu وَاقِعٌۢ بِهِمۡ (menimpa mereka) pasti menimpa mereka kelak di hari kiamat.

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فِى رَوۡضَاتِ ٱلۡجَنَّاتِ (Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh berada di dalam taman-taman surga) berada di surga yang paling indah bila dibandingkan dengan orang-orang yang derajatnya di bawah mereka لَهُم مَّا يَشَآءُونَ عِندَ رَبِّهِمۡ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَضۡلُ ٱلۡكَبِيرُ (mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Rabb mereka. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.).

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian firman Allah: تَرَى ٱلظَّٰلِمِينَ مُشۡفِقِينَ مِمَّا كَسَبُواْ (“Kamu lihat orang-oang yang dhalim sangat ketakutan karena kejahatan-kejahatan yang telah mereka kerjakan.”) yaitu, di padang kiamat. وَهُوَ وَاقِعٌۢ بِهِمۡ (“Sedang siksaan menimpa mereka.”) yaitu siksaan yang mereka takutkan itu pasti menimpa mereka. Begitulah kondisi mereka di hari kiamat dalam keadaan takut dan khawatir.

Firman Allah: وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ فِى رَوۡضَاتِ ٱلۡجَنَّاتِ لَهُم مَّا يَشَآءُونَ عِندَ رَبِّهِمۡ (“Dan orang-orang yang beriman dan beramal shalih [berada] di dalam taman-taman surga, mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki di sisi Rabb mereka.”)

betapa beda antara golongan pertama dengan golongan kedua ini? Betapa beda antara orang yang ketika di padang kiamat berada dalam kehinaan, kerendahan dan rasa takut yang mencekam karena kedhalimannya dengan orang-orang yang berada dalam surga-surga penuh kenikmatan yang mereka inginkan berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, pemandangan, pernikahan dan berbagai kelezatan yang belum pernah dilihat oleh mata, terdengar oleh telinga dan terlintas dalam hati manusia.

Untuk itu Allah berfirman: ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَضۡلُ ٱلۡكَبِيرُ (“Yang demikian itu adalah karunia yang besar.”) yaitu kebahagiaan yang besar serta kenikmatan yang sempurna, lengkap, meliputi dan menyeluruh.

Tafsir Kemenag: Dalam Ayat ini Allah menerangkan bahwa orang-orang yang zalim itu kelihatan takut, dibayang-bayangi oleh akibat dari berbagai perbuatan jahat yang pernah dilakukannya di dunia, dan siksa yang merupakan balasan dari perbuatan jahatnya yang pasti akan menimpa mereka.

Sedangkan orang-orang yang beriman kepada Allah serta taat kepada apa yang diperintahkan dan dilarang-Nya akan dimasukkan ke dalam surga, satu tempat yang penuh dengan taman-taman yang indah, menikmati segala keindahan dan kesenangan yang ada di dalamnya sesuai dengan keinginannya baik yang berupa makanan, minuman, maupun yang berupa pemandangan yang belum pernah dilihat mata, didengar telinga, dan terlintas dalam hati seorang manusia.

Semuanya itu adalah suatu kenikmatan besar yang dikaruniakan Allah kepada mereka, yang jauh lebih besar dari kemewahan yang pernah ada di dunia, sebagaimana firman Allah:

Itulah karunia Allah, yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (al-hadid/57: 21)

Tafsir Quraish Shihab: Di hari kiamat kelak kamu, wahai orang yang mendengarkan pesan ini, akan mendapatkan orang-orang yang menganiaya diri dengan kesyirikan menjadi takut akan hukuman kesyirikan mereka itu.

Hukuman itu pun pasti akan menimpa mereka. Sebaliknya, kamu akan mendapatkan orang-orang yang beriman dan berbuat baik, hidup bahagia di belahan surga yang paling indah. Mereka mendapatkan semua kesenangan yang mereka idamkan di sisi Tuhan. Imbalan yang besar itu adalah karunia besar Allah yang selalu diidamkan oleh setiap orang.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Asy-Syura Ayat 19-22 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S