Surah Al-Kahfi Ayat 19-20; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Kahfi Ayat 19-20

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Kahfi Ayat 19-20 ini, Allah swt menerangkan tentang para pemuda Ashhabul Kahf ketika bangun dari tidur. Keadaan mereka, baik badan, kulit, rambut, maupun yang lainnya masih sama dengan waktu sebelum mereka tidur. Semuanya sehat dan semuanya masih utuh, bahkan pakaian yang melekat di badan mereka tetap utuh.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Allah swt memperlihatkan kepada mereka keagungan, kebesaran, dan kekuasaan-Nya, serta keajaiban dan keluarbiasaan perbuatan-Nya terhadap makhluk-Nya. Oleh karena itu, iman mereka bertambah kuat untuk melepaskan diri dari penyembahan dewa-dewa, dan bertambah ikhlas hati mereka untuk semata-mata menyembah Allah Yang Maha Esa.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Kahfi Ayat 19-20

Surah Al-Kahfi Ayat 19
وَكَذَلِكَ بَعَثْنَاهُمْ لِيَتَسَاءَلُوا بَيْنَهُمْ قَالَ قَائِلٌ مِّنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُم بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنظُرْ أَيُّهَا أَزْكَى طَعَامًا فَلْيَأْتِكُم بِرِزْقٍ مِّنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا

Terjemahan: Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)”. Mereka menjawab: “Kita berada (disini) sehari atau setengah hari”. Berkata (yang lain lagi): “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini).

Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun.

Tafsir Jalalain: وَكَذَلِكَ (Dan demikianlah) yang telah Kami perbuat terhadap Ashhabul Kahfi, seperti yang telah Kami sebutkan tadi بَعَثْنَاهُمْ (Kami bangunkan mereka) Kami bangkitkan mereka لِيَتَسَاءَلُوا بَيْنَهُمْ (agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri) tentang keadaan mereka dan lamanya masa menetap mereka di dalam gua itu

قَالَ قَائِلٌ مِّنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ (Berkatalah seorang di antara mereka, “Sudah berapa lamakah kalian tinggal di sini?” Mereka menjawab, “Kita berada di sini sehari atau setengah hari)” sebab mereka memasuki gua ketika matahari mulai terbit, dan mereka bangun sewaktu matahari terbenam, maka oleh karena itu mereka menduga bahwa saat itu adalah terbenamnya matahari, kemudian

قَالُوا (berkata sebagian yang lainnya lagi) seraya menyerahkan pengetahuan hal tersebut kepada Allah رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُم بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ (Rabb kalian lebih mengetahui berapa lamanya kalian berada di sini, maka suruhlah salah seorang di antara kalian dengan membawa uang perak kalian ini) lafal وَرِقِكُمْ dapat pula dibaca Warqikum, artinya uang perak kalian ini إِلَى الْمَدِينَةِ (pergi ke kota) menurut suatu pendapat dikatakan bahwa kota tersebut yang sekarang dinamakan Tharasus

فَلْيَنظُرْ أَيُّهَا أَزْكَى طَعَامًا (dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik) artinya, manakah makanan di kota yang paling halal فَلْيَأْتِكُم بِرِزْقٍ مِّنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا (maka hendaklah dia membawa makanan itu untuk kalian, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan hal kalian kepada seseorang pun).

Baca Juga:  Surah An Nisa Ayat 97-100; Seri Tadabbur Al Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman, sebagaimana Kami telah menidurkan mereka, maka Kami bangunkan mereka dalam keadaan badan, rambut, dan kulit mereka tetap sehat. Mereka tidak kehilangan sedikit pun dari keadaan dan kondisi mereka setelah berlangsung selama tiga ratus sembilan tahun.

Oleh karena itu, di antara mereka saling bertanya, kam كَمْ لَبِثْتُمْ (“Sudah berapa lamakah kamu berada [di sini]?”) Maksudnya, berapa lama kalian tertidur di sini? قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ (“ Mereka menjawab: ‘Kita berada [di sini] sehari atau setengah hari.”) Hal itu, karena mereka masuk ke gua pada permulaan siang dan bangun pada akhir siang. Oleh karena itu, mereka mendapati keadaan itu seraya berkata,

أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ (‘Atau setengah hari.’ Berkatalah [yang lain lagi], ‘Rabbmu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada [di sini].’”) Maksudnya, Allah yang lebih mengetahui apa yang kalian alami.
Seolah-olah pada diri mereka dihinggapi semacam keraguan karena tidur mereka yang cukup lama, wallahu a’lam.

Kemudian mereka beralih kepada apa yang lebih penting untuk urusan mereka pada saat itu, yaitu keperluan mereka pada makanan dan minuman, di mana mereka berkata,

فَابْعَثُوا أَحَدَكُم بِوَرِقِكُمْ (Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini) Kata وَرِقِ berarti uang perak. Hal itu, karena mereka telah membawa beberapa uang dirham dari rumah mereka untuk memenuhi kebutuhan mereka. Kemudian mereka bersedekah, hingga masih ada sisa di tangan mereka. Oleh karena itu, mereka berkata, fab’atsuu ahadakum biwariqikum ilal madiinati

فَابْعَثُوا أَحَدَكُم بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ (“Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini.”) Yakni, kota yang kalian telah pergi darinya. فَلْيَنظُرْ أَيُّهَا أَزْكَى طَعَامًا (“Dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih suci,”) yakni, makanan yang lebih baik. Yang demikian itu adalah seperti firman Allah berikut ini: “Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun dari kamu yang bersih selama-lamanya.” (QS. An-Nuur: 21).
Dari kata itu pula [zakaa], muncullah kata az-zakat yang membersihkan dan menyucikan harta kekayaan.

Firman-Nya: وَلْيَتَلَطَّفْ (“Dan hendaklah dia berlaku lemah lembut.”) Yakni, dalam pergi dan pulangnya, dalam berbelanja dan dalam menyembunyikan dirinya, dan hendaklah ia berusaha semaksimal mungkin untuk bersembunyi. وَلَا يُشْعِرَنّ (“Dan jangan sekali-kali menceritakan,”) yakni, memberitahukan, بِكُمْ أَحَدًا (“Perihal kamu kepada seorang pun )

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Allah swt menerangkan tentang para pemuda Ashhabul Kahf ketika bangun dari tidur. Keadaan mereka, baik badan, kulit, rambut, maupun yang lainnya masih sama dengan waktu sebelum mereka tidur. Semuanya sehat dan semuanya masih utuh, bahkan pakaian yang melekat di badan mereka tetap utuh.

Allah swt memperlihatkan kepada mereka keagungan, kebesaran, dan kekuasaan-Nya, serta keajaiban dan keluarbiasaan perbuatan-Nya terhadap makhluk-Nya. Oleh karena itu, iman mereka bertambah kuat untuk melepaskan diri dari penyembahan dewa-dewa, dan bertambah ikhlas hati mereka untuk semata-mata menyembah Allah Yang Maha Esa.

Baca Juga:  Surah Al Qadr; Tafsir, Asbabun Nuzul, Keutamaan dan Artinya

Setelah bangun dari tidur yang lama, mereka saling bertanya satu sama lain untuk mengetahui keadaan mereka. Salah seorang dari mereka berkata kepada kawan-kawannya, “Berapa lama kalian tinggal dalam gua ini?” Dia menyatakan ketidaktahuannya tentang keadaan dirinya sendiri selama tidur, lalu meminta kepada yang lainnya untuk memberikan keterangan.

Kawan-kawannya menjawab, “Kita tinggal dalam gua ini sehari atau setengah hari.” Yang menjawab itupun tidak dapat memastikan berapa lama mereka tinggal, sehari atau setengah hari, karena pengaruh tidur masih belum lenyap dari jiwa mereka. Mereka belum melihat tanda-tanda yang menunjukkan sudah berapa lama mereka berada di gua itu.

Kebanyakan ahli tafsir mengatakan bahwa waktu mereka datang memasuki gua itu dulu adalah pada pagi hari, kemudian waktu Tuhan membangunkan mereka dari tidur adalah pada sore hari. Karena itulah orang yang menjawab ini menyangka bahwa mereka berada di gua itu satu atau setengah hari. Kemudian kawan-kawannya yang lain berkata, “Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lama kamu tinggal di sini.”

Perkataan pemuda yang terakhir ini sangat bijaksana untuk membantah pernyataan dan jawaban kawan-kawannya yang terdahulu. Pernyataan itu seakan-akan diilhami oleh Allah swt, atau didasarkan atas bukti-bukti nyata. Sesungguhnya masa yang panjang itu hanya dapat diketahui dan ditentukan secara pasti oleh Allah swt. Mereka akhirnya menyadari keterbatasan kemampuan mereka untuk mengetahui yang gaib.

Setelah sadar, barulah perhatian mereka beralih kepada kebutuhan yang pokok, yakni makan dan minum. Salah seorang di antara mereka disuruh pergi ke kota dengan membawa uang perak untuk membeli makanan. Menurut riwayat namanya Tamlikha. Sebelum membeli, ia diminta terlebih dahulu memperhatikan makanan itu, mana yang halal dan mana yang haram, serta mana yang baik dan mana yang kurang baik. Makanan yang halal dan baik itulah yang dibawa kembali ke tempat perlindungan mereka.

Tamlikha diminta agar berhati-hati dalam perjalanan, baik sewaktu masuk ke kota maupun kembali dari kota, jangan sampai dia memberitahukan kepada seorang pun tentang keadaan dan tempat bersembunyi mereka.

Dari potongan ayat فَابْعَثُوا أَحَدَكُم بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ (i)”, yang artinya “(maka suruhlah) salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini”, terdapat istimbat hukum yang berhubungan dengan wakalah (berwakil). Yakni seseorang dibolehkan menyerahkan kepada orang lain, sebagai ganti dirinya, urusan harta dan hak semasa hidupnya. Ibnu al-‘Arabi berpendapat bahwa ayat ini menjadi dasar paling kuat untuk wakalah (berwakil).

Surah Al-Kahfi Ayat 20
إإِنَّهُمْ إِن يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوكُمْ أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِي مِلَّتِهِمْ وَلَن تُفْلِحُوا إِذًا أَبَدًا

Terjemahan:Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama lamanya”.

Tafsir Jalalain: إإِنَّهُمْ إِن يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوكُمْ (Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempat kalian, niscaya mereka akan melempar kalian dengan batu) niscaya mereka akan membunuh kalian dengan lemparan batu أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِي مِلَّتِهِمْ وَلَن تُفْلِحُوا إِذًا (atau memaksa kalian kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kalian tidak akan beruntung) yakni jika kalian kembali kepada agama mereka أَبَدًا (selama-lamanya)”.

Baca Juga:  Surah An-Nur Ayat 61; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman: إِنَّهُمْ إِن يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ (“Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melemparmu dengan batu.”) Yaitu, jika mereka mengetahui tempat kalian.

يَرْجُمُوكُمْ أَوْ يُعِيدُوكُمْ (“Niscaya mereka akan melemparmu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka.”) Yang mereka maksudkan adalah para pengikut Daqyanus. Mereka takut para penganut Daqyanus mendapati tempat mereka. Karena mereka akan terus disiksa oleh penganut Daqyanus dengan berbagai siksaan sampai mereka kembali kepada agama mereka semula atau kalau tidak, harus mati.

Dan jika kalian setuju untuk kembali kepada agama kalian semula, maka tidak ada keberuntungan bagi kalian di dunia dan tidak juga di akhirat.

Oleh karena itu, Allah berfirman: وَلَن تُفْلِحُوا إِذًا أَبَدًا (“Dan jika demikian, niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya.)

Tafsir Kemenag: Kemudian para penghuni gua itu memperingatkan Tamlikha jika sampai penduduk kota itu, yang menurut perkiraannya masih orang-orang kafir, mengetahui tempat persembunyian mereka, mereka tentu akan dipaksa untuk mengikuti agama berhala. Jika mereka menolak, tentu akan dibunuh dengan lemparan batu, cara pembunuhan pada masa dahulu bagi mereka yang berani melawan kebijakan politik raja atau agama negara.

Kota yang akan didatangi itu ialah kota Ephesus dan rajanya menurut persangkaan mereka masih Decyanus yang zalim itu. Padahal raja itu sudah tidak ada karena dia berkuasa pada tiga abad yang silam. Jika mereka dipaksa kembali untuk memeluk agama Decyanus itu, mereka tidak akan memperoleh kebahagiaan dan keberuntungan untuk selama-lamanya, baik dalam kehidupan duniawi ataupun ukhrawi.

Jiwa orang yang menganut suatu agama karena dipaksa, pada mulanya, akan menolak segala ketentuan-ketentuan dari agama itu. Akan tetapi, lama-kelamaan kemungkinan besar jiwanya tidak akan menolak dan seterusnya memandang baik agamanya yang baru itu. J

ika terjadi hal yang demikian, dia akan sesat dan sengsara untuk selama-lamanya. Akan tetapi, bilamana seseorang dipaksa dengan ancaman untuk pindah kepada kekafiran, lalu dia menunjukkan kekafiran, tetapi batinnya tetap Islam, dan sampai akhir hayatnya tidak pernah memandang baik agama yang dipaksakan itu, maka dia tetap dalam Islam.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al- Kahfi ayat 19-20 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Kemenag. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S