Inilah Metode Dakwah Nabi Muhammad dalam Menyebarkan Agama Islam

Inilah Metode Dakwah Nabi Muhammad dalam Menyebarkan Agama Islam

Pecihitam.org- Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan agama Islam menggunakan beberapa metode, salah satunya adalah metode dakwah (ajakan), nabi secara tersembunyi berdakwah kepada keluarga dan teman-teman dekatnya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Mulailah Nabi bersembahyang bersama Khadijah, wanita pertama yang memeluk Islam, kemudian Ali bin Abi Thalib (sepupu Nabi sebagai pemuda Muslim pertama), dan Zayd bin Haritsah, bekas pembantu Nabi.

Setelah itu Nabi mendekati teman-teman akrabnya, yaitu Abu Bakar, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf Thalhah bin ‘Ubaidillah, Sa’d bin Abi Waqash, Zubair bin Awwam, dan Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah. Kelompok inilah yang menjadi generasi pertama Muslim (Assabiqul al-Awwalun).

Metode dakwah nabi seperti itu dapat digambarkan sebagai metode sentrifugal (centrifugal method) yaitu memulai sesuatu dari diri sendiri, kemudian menyebarkannya kepada lingkungan keluarga yang terdekat dan terus meluas kepada lapisan yang paling jauh.

Dengan metode ini, Nabi secara sadar mulai memfungsikan dirinya sebagai suatu kekuatan sentrifugal (centrifugal force), yaitu kekuatan yang berada pada suatu titik tengah yang kemudian menyebar dari lingkaran terdekat yang terkecil hingga lingkaran terluas yang hampir tanpabatas.

Baca Juga:  Sebisa Mungkin Jauhilah Perceraian, Perkara Halal yang Paling Dibenci Allah

Dengan metode tersebut, sulit dihindari bahwa pada saatnya akan makin banyak orang yang tahu dengan agama baru yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Dan itulah yang terjadi, makin lama pengikut Nabi makin bertambah jumlahnya.

Setelah tiga tahun berjalan, Nabi pun diperintahkan (QS. 26: 214216; 15: 94) untuk menggunakan metode dakwah secara terbuka, termasuk pamannya Abu Thalib. Sasaran dakwah selanjutnya adalah kaum Quraisy secara umum.

Pidato publiknya yang pertama, sebagaimana dituturkan oleh Haekal (1992:92) dilakukan di atas bukit Shafa di mana Nabi mengajak segenap masyarakat Quraisy untuk beriman dengan mengucapkan la ilaha illa Allah (Tiada Tuhan selain Allah).

Pidato publik yang sangat terbuka ini merupakan genderang nyaring yang menegaskan keberadaan dan keberbedaan Nabi Muhammad yang selama ini dipandang sebagai salah satu anggota masyarakat yang cukup terhormat.

Publik mulai merasa bahwa Muhammad sekarang harus dipandang berbeda, karena konsep Tuhan yang diajarkannya tidak sama dengan konsep yang selama ini mereka yakini.

Baca Juga:  Agar Dipermudah Menghadapi Sakaratul Maut, Lakukan Cara Ini!

Pidato publik tersebut mengandung satu substansi ajaran, yaitu tauhid yang secara literal berarti pengesaan Allah dan secara kebahasaan diformulasikan dalam kalimat la ilaha illa Allah.

Secara kebahasaan pula, kata ilah maupun bentuk jamaknya alihah merupakan perbendaharaan kata yang juga dipakai oleh masyarakat saat itu. Namun substansi dari kata tersebut berbeda, antara apa yang diyakini oleh masyarakat dan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad.

Menurut banyak ahli, penekanan kepada tauhid inilah yang menjadi fokus dari dakwah Nabi Muhammad selama di Mekkah. Ayat-ayat al-Qur’an yang diturunkan di Mekkah (Makkiyyah) pada umumnya mengandung hal-hal yang berhubungan dengan keimanan, ancaman dan pahala, serta kisah-kisah umat terdahul yang mengandung pelajaran dan budi pekerti (Dep. Agama, 1982: 17-18).

Penekanan terhadap tauhid ini menjadi landmark bagi struktur ajaran Islam dan bahkan ajaran semua Nabi, sebagaimana diceritakan dalam al-Qur’an (QS. 10, Il, 12, 14, dan 47).

Tauhid dipandang sebagai pondasi awal yang harus dibangun pada seseorang atau masyarakat sebelum segala sesuatu yang lain. Kalau struktur atau konstruksi bangunan Islam itu digambarkan piramida, maka bahagian terbawahnya adalah prinsip -prinsip dasar ketauhidan.

Baca Juga:  Muallaf di Era Modern, Haruskah Langsung Berdakwah? Mbok ya Sabar

Konsep tauhid dijabarkan lebih lanjut kepada sejumlah pokok keimanan yang pada dasarnya bermuara pada dua hal saja, yaitu keimanan kepada Allah dan kepada hari akhirat.

Wawasan al-Qur’an tentang pokok-pokok keimanan, menurut Quraish Shihab (1996:1-133), terdiri atas tujuh tema, yaitu tentang al-Qur’an, Tuhan, Nabi Muhammad, takdir, kematian, hari akhirat, serta keadilan dan kesejahteraan.

Mochamad Ari Irawan