Surah Az-Zumar Ayat 73-74; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Az-Zumar Ayat 73-74

Pecihitam.org – Kandungan Surah Az-Zumar Ayat 73-74 ini, menerangkan bahwa Para Mukminin yang amat berbahagia dan bergembira melihat nikmat dan kesenangan yang akan mereka nikmati di dalam surga itu mengucapkan, “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami, sebagaimana telah disampaikan oleh rasul-Nya dan doa yang selalu kami panjatkan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Az-Zumar Ayat 73-74

Surah Az-Zumar Ayat 73
وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ رَبَّهُمۡ إِلَى ٱلۡجَنَّةِ زُمَرًا حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءُوهَا وَفُتِحَتۡ أَبۡوَٰبُهَا وَقَالَ لَهُمۡ خَزَنَتُهَا سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡ طِبۡتُمۡ فَٱدۡخُلُوهَا خَٰلِدِينَ

Terjemahan: “Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya”.

Tafsir Jalalain: وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوۡاْ رَبَّهُمۡ (Dan orang-orang yang bertakwa kepada Rabbnya dibawa) dengan lemah lembut إِلَى ٱلۡجَنَّةِ زُمَرًا حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءُوهَا وَفُتِحَتۡ أَبۡوَٰبُهَا (ke dalam surga berombong-rombongan pula, sehingga apabila mereka sampai ke surga itu pintu-pintunya telah dibuka) huruf Wau dalam ayat ini menunjukkan makna Hal dengan diperkirakan adanya lafal Qad sesudahnya.

وَقَالَ لَهُمۡ خَزَنَتُهَا سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡ طِبۡتُمۡ (dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, “Kesejahteraan atas kalian, berbahagialah kalian) lafal Thibtum menjadi Hal فَٱدۡخُلُوهَا خَٰلِدِينَ (maka masukilah surga ini, sedangkan kalian kekal di dalamnya”) telah ditetapkan untuk menjadi penghuni yang abadi di dalamnya.

Jawab lafal Idzaa diperkirakan keberadaannya, yakni lalu mereka memasukinya. Dan dibawanya orang-orang yang bertakwa ke dalam surga serta dibukakannya pintu-pintu surga sebelum mereka datang, hal ini sebagai penghormatan buat mereka. Sedangkan digiringnya orang-orang kafir serta dibukakannya pintu-pintu neraka Jahanam sewaktu mereka datang dimaksud sebagai hinaan buat mereka agar panas neraka Jahanam itu dapat dirasakan oleh mereka sebelum memasukinya.

Tafsir Ibnu Katsir: Ini merupakan kabar tentang kondisi orang-orang mukmin yang berbahagia ketika mereka digiring kepada keutamaan menuju Surga Zumara, yaitu segolongan demi segolongan, Muqarrabin, kemudian Abrar, kemudian kelompok sesudahnya kemudian kelompok sesudahnya. Setiap kelompok akan bersama orang yang sesuai dengan mereka.

Para nabi bersama para nabi, orang-orang jujur bersama dengan orang yang serupa dengan mereka, syuhada bersama kelompok mereka dan ulama bersama orang-orang yang setingkat dengan mereka. Setiap bagian bersama dengan bagian lainnya dan setiap kelompok sesuai dengan kelompok lainnya.

حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءُوهَا (“Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu.”) yaitu mereka telah sampai di pintu-pintu surga setelah melintasi ash-Shirath [jembatan], mereka ditahan di atas satu jembatan yang ada di antara surga dan neraka. Lalu Allah membalas kedhaliman-kedhaliman yang terjadi di antara mereka di dunia. Sehingga, jika [urusan] mereka telah diselesaikan dan dibersihkan, mereka diizinkan memasuki surga.

Tercantum di dalam Shahih Muslim, bahwasannya Anas r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Aku adalah yang pertama-tama memberi syafaat di surga.”
Di dalam lafadz Muslim: “Dan aku adalah orang pertama yang mengetuk pintu surga.”

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Anas bin Malik berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Aku mendatangi pintu surga pada hari kiamat, lalu aku meminta dibukakan.” Penjaga berkata: “Siapa engkau?” Aku menjawab: “Muhammad.” Penjaga berkata: “Aku diperintahkan untuk tidak membuka[kannya] untuk seorang pun sebelummu.” (HR Muslim)

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Abu Hurairah berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Kelompok pertama yang akan memasuki Surga penampilannya seperti bulan purnama di malam yang terang benderang, mereka tidak meludah, tidak mengeluarkan ingus dan tidak buang air besar. Bejana-bejana dan sisir-sisir dari emas dan perak, dupa mereka adalah kayu yang wangi dan keringat mereka seharum minyak kasturi.

Setiap orang di antara mereka memiliki dua istri yang sumsum betisnya terlihat dari balik tulangnya karena begitu indah. Tidak ada perselisihan dan tidak juga pertengkaran di antara mereka. Hati mereka satu dalam bertasbih kepada Allah di waktu pagi dan petang.” (HR al-Bukahri dan Muslim)

Al-Hafizh Abu Ya’la meriwayatkan bahwa Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Kelompok pertam yang memasuki surga seperti bulan di malam purnama. Sedangkan orang yang sesudah mereka seperti cahaya bintang yang paling terang cahayanya di langit. Mereka tidak buang air kecil dan tidak buang air besar, tidak meludah dan tidak mengeluarkan ingus. Sisir-sisir mereka adalah kayu harum, istri-istri mereka adalah para bidadari dan akhlak mereka di atas akhlak seorang laki-laki dalam bentuk nenek moyang mereka, Adam, setinggi 60 hasta di langit.” (Keduanya mentakhrij pula dari hadits Jarir)

Baca Juga:  Surah An-Nahl Ayat 89; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Az-Zuhri berkata dari Sa’id, dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Akan masuk surga di antara umatku satu golongan yang berjumlah 70.000, wajah mereka bercahaya seperti bulan pada bulan purnama.” ‘Ukkasyah bin Mihshan berkata: “Ya Rasulallah, berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan aku [termasuk] di antara mereka.” Lalu beliau berdoa:

“Ya Allah, jadikanlah dia termasuk golongan mereka.” Kemudian seorang lelaki Anshar berdiri dan berkata: “Ya Rasulallah, berdoalah kepada Allah agar dia menjadikan aku termasuk golongan mereka.” Beliau menjawab: “’Ukkasyah telah mendahuluimu.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim)

Hadits ini tentang 70.000 yang masuk surga tanpa hisab –diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas, Jabir bin ‘Abdillah, ‘Imran bin Hushain, Ibnu Mas’ud, Rifa’ah bin ‘Arabah al-Juhani dan Ummu Qais binti Mihshan.

Firman Allah: حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءُوهَا وَفُتِحَتۡ أَبۡوَٰبُهَا وَقَالَ لَهُمۡ خَزَنَتُهَا سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمۡ طِبۡتُمۡ فَٱدۡخُلُوهَا خَٰلِدِينَ (“Sehingga apabila mereka sampai di surga itu, sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaganya: ‘Keselamatan [dilimpahkan] atasmu, berbahagialah kamu. Maka masuklah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.’”) jawabannya [dari kata sehingga] tidak disebutkan di sini.

Maknanya adalah, sehingga apabila sampai di surga itu – sedangkan perkara-perkara ini adalah dibukakan pintu-pintu untuk mereka sebagai penghormatan dan pengagungan terhadap mereka dan para malaikat penjaga menyampaikan kabar gembira dan salam serta pujian, seperti para malaikat Zabaniyah menyampaikan celaan dan hinaan kepada orang-orang kafir, maka jika demikian- mereka bergembira, ceria dan senang, sesuai kenikmatan yang mereka terima. Maka jawabannya dibuang disini, agar pilihan menerawang kepada harapan dan keinginan. Siapa yan mengira bahwa “wau” dalam firman Allah:

وَفُتِحَتۡ أَبۡوَٰبُهَا adalah “wau” yang kedelapan, serta menjadikannya dalil bahwa pintu-pintu surga itu berjumlah delapan, maka amat jauh dari harapan dan tengah tenggelam dalam perbantahan. Karena [dalil tentang] pintu-pintu surga yang berjumlah delapan itu diambil dari hadits-hadits shahih.

Imam Ahmad meriwatkan, bahwasannya Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang berinfak dengan sepasang harta [emas dan perak, sapi jantan dan betina dan lain-lain] dari hartanya di jalan Allah, maka ia dipanggil dari pintu-pintu surga. Sedangkan surga memiliki beberapa pintu. Barangsiapa rajin mengerjakan shalat, maka ia dipanggil dari pintu shalat.

Barangsiapa rajin bershadaqah, maka ia dipanggil dari pintu shadaqah. Barangsiapa berjihad, maka dia dipanggil dari pintu jihad. Dan barangsiapa yang berpuasa, maka dia dipanggil dari pintu ar-Rayyan.” Abu Bakar berkata: “Wahai Rasulallah, apakah setiap orang dipanggil dari pintu-pintu tersebut? Adakah orang yang dipanggil dari semua pintu tersebut?” Rasulullah menjawab: “Ya, dan aku berharap bahwa engkau termasuk dari mereka.” (HR Bukhari dan Muslim)

Semuanya dari hadits Abu Hazim Salamah bin Dinar, dari Sahl bin Sa’ad r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya surga memiliki delapan pintu. Satu pintu diberi nama ar-Rayyan yang tidak dimasuki kecuali oleh orang-orang yang berpuasa.”

Di dalam Shahih Muslim dinyatakan bahwa ‘Umar bin al-Khaththab berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudlu, kemudian menyempurnakan wudlunya, lalu membaca: AsyHadu al laa ilaaHa illallaaHu wa anna muhammadan ‘abduHuu wa rasuuluHu, melainkan dibukakan baginya pintu-pintu surga yang berjumlah delapan dan dia masuk dari pintu mana yang dia kehendaki.”

Hadits tentang luasnya pintu-pintu surga: Di dalam ash-Shahihain, dari hadits Abu Zur’ah, dari Abu Hurairah tentang syafaat yang panjang: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Wahai Muhammad, masukkan umatmu yang tidak dihisab melalui pintu sebelah kanan. Mereka bebas masuk pintu-pintu lainnya bersama orang-orang lain.’ [Rasulullah saw. bersabda]:

‘Demi Rabb Yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, jarak di antara dua daun pintu surga adalah seperti Makkah dan Hajar [Sebuah kota Bahrain] –atau antara Hajar dan Makkah- dalam salah satu riwayat –antara Makkah dan Bushra-.”

Di dalam Shahih Muslim, dari ‘Utbah bin Ghazwan, bahwa dia berkhutbah kepada mereka dalam satu kesempatan khutbah, di dalamnya dia berkata: “Sungguh telah diceritakan kepada kami, sesungguhnya jarak di antara dua daun pintu adalah perjalanan empat puluh tahun. Pada suatu hari, ia penuh sesak.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini dijelaskan bahwa orang-orang mukmin yang bertakwa dengan penuh penghormatan dituntun menuju surga Jannatun Na’im. Mereka mendapati pintunya telah terbuka lebar dan di sana telah menunggu para penjaga pintu itu dengan penuh hormat dan hikmat sambil mengucapkan kepada mereka ‘Assalamu ‘alaikum”. Itu adalah ucapan selamat datang bagi mereka dan memohonkan doa kepada Allah semoga tetap berbahagia dengan karunia dan nikmat yang disediakan untuk mereka di dalam surga ini.

Baca Juga:  Surah Az-Zumar Ayat 19-20; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Kemudian mereka dipersilakan dengan hormat agar segera masuk ke dalam surga dan dikatakan kepada mereka, “Kamu kekal di dalamnya buat selama-lamanya.” Para Mukminin itu datang berombongan. Rombongan pertama ialah orang-orang yang paling dekat kepada Allah dan paling tinggi derajatnya di sisi-Nya sesuai dengan iman, takwa, dan amal saleh mereka di dunia.

Rombongan yang kedua adalah orang-orang yang lebih rendah derajatnya dari rombongan yang pertama. Demikianlah seterusnya sampai semua kaum Muslimin masuk ke dalamnya. Pintu surga terbuka bagi mereka sebagaimana disebutkan pula pada ayat lain: Ini adalah kehormatan (bagi mereka). Dan sungguh, bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) tempat kembali yang terbaik, (yaitu) surga ‘Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka. (shad/38: 49-50) Dalam surga itu mereka memperoleh berbagai macam kenikmatan dan kesenangan yang belum pernah terpikirkan oleh siapa pun di dunia ini.

Nikmat dan karunia yang demikian itu dapat dicapai dengan berbagai macam amal dan ibadah yang dikerjakan oleh manusia selama hidupnya di dunia. Diterangkan oleh hadis yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim dari Umar bin Khaththab bahwa Rasulullah pernah bersabda Siapa di antara kamu yang berwudu dengan sempurna kemudian dia mengucapkan, “Aku bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan Allah, niscaya akan dibukakan baginya pintu-pintu surga yang banyaknya delapan buah dan dia dibolehkan masuk dari pintu mana saja yang ia sukai. (Riwayat Muslim dan selainnya)

Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw pernah bersabda: Rombongan pertama yang masuk surga mukanya laksana bulan purnama (di malam keempat belas). Rombongan berikutnya mukanya cemerlang seperti bintang yang paling cemerlang di cakrawala (bintang kejora). (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Al-Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad bahwa Rasulullah bersabda: Di dalam surga itu ada delapan buah pintu, salah satu pintu itu bernama ar-Rayyan. Pintu itu hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa.”.

Tafsir Quraish Shihab: Dan orang-orang yang bertakwa akan mendapat kehormatan dan dibimbing menuju surga kelompok demi kelompok. Ketika mereka tiba, saat itu pintu-pintu surga telah terbuka untuk mereka, para penjaganya berkata, “Salam aman dan sejahtera yang berlimpah untuk kalian. Kalian telah merasakan kenikmatan dunia dengan menyucikan diri dari berbagai macam maksiat. Dan kini, di akhirat, kalian pun merasakan kenikmatan dengan sebagian karunia.

Masuklah kalian ke dalam surga ini untuk selama-lamanya. Di dalamnya, kalian akan memperoleh kenikmatan yang tak pernah terdetik dalam benak kalian.

Surah Az-Zumar Ayat 74
وَقَالُواْ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى صَدَقَنَا وَعۡدَهُۥ وَأَوۡرَثَنَا ٱلۡأَرۡضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ ٱلۡجَنَّةِ حَيۡثُ نَشَآءُ فَنِعۡمَ أَجۡرُ ٱلۡعَٰمِلِينَ

Terjemahan: “Dan mereka mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki; maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal”.

Tafsir Jalalain: وَقَالُواْ (Dan mereka mengucapkan) sewaktu mereka memasukinya; lafal ayat ini diathafkan kepada lafal Dukhuuluhaa yang diperkirakan keberadaannya tadi pada ayat sebelumnya, ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى صَدَقَنَا وَعۡدَهُ (“Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami) yakni memasukkan kami ke dalam surga وَأَوۡرَثَنَا ٱلۡأَرۡضَ (dan telah memberikan kepada kami tempat ini) surga ini نَتَبَوَّأُ (sedangkan kami diperkenankan menempati) menghuni مِنَ ٱلۡجَنَّةِ حَيۡثُ نَشَآءُ (tempat dalam surga di mana saja kami kehendaki) karena surga itu semuanya bukanlah tempat yang dipilih antara yang satu dengan yang lainnya, karena semuanya indah فَنِعۡمَ أَجۡرُ ٱلۡعَٰمِلِينَ (maka sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal) adalah surga.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَأَوۡرَثَنَا ٱلۡأَرۡضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ ٱلۡجَنَّةِ حَيۡثُ نَشَآءُ فَنِعۡمَ أَجۡرُ ٱلۡعَٰمِلِينَ (“Dia telah [memberi] kepada kami tempat ini, sedang kami [diperkenankan] menempati tempat dalam surga dimana saja kami kehendaki. Maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.”) Abul ‘Aliyah, Abu Shalih, Qatadah, as-Suddi dan Ibnu Zaid berkata: “Yaitu bumi [tanah] surga. Ayat ini seperti firman Allah:

“Dan sesungguhnya telah kami tulis di dalam Zabur sesudah [Kami tulis dalam] Lauhul Mahfudz, bahwasannya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang shalih.”) (al-Anbiyaa’: 105).

Maka mereka berkata: نَتَبَوَّأُ مِنَ ٱلۡجَنَّةِ حَيۡثُ نَشَآءُ (“Sedang kami [diperkenankan] menempati tempat di surga dimana saja kami kehendaki.”) yaitu dimana saja kami kehendaki, kami akan tempati. Maka sebaik-baik pahala adalah pahala kami atas amal-amal kam.

Baca Juga:  Surah Az-Zumar Ayat 71-72; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Di dalam ash-Shahihain dari hadits az-Zuhri, bahwa Anas berkata mengenai kisah Mi’raj: Nabi saw. bersabda: “Aku dimasukkan ke surga, ternyata di dalamnya terdapat kubah-kubah permata dan tanah [lantai]nya adalah minyak kasturi.”

Tafsir Kemenag: Para Mukminin yang amat berbahagia dan bergembira melihat nikmat dan kesenangan yang akan mereka nikmati di dalam surga itu mengucapkan, “Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami, sebagaimana telah disampaikan oleh rasul-Nya dan doa yang selalu kami panjatkan.” Firman Allah:

Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat yang baik di surga ‘Adn. Dan keridaan Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung. (at-Taubah/9: 72) Dan firman Allah:

Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui rasul-rasul-Mu. Dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari Kiamat. Sungguh, Engkau tidak pernah mengingkari janji. (ali ‘Imran/3: 194 Ahli surga melanjutkan ucapan puji syukurnya, “Segala puji bagi Allah yang telah mewariskan kepada kami tanda surga ini sehingga kami boleh menempatinya, di mana saja kami senangi dan nikmati berbagai macam karunia yang disediakan-Nya di dalamnya.”

Di antara kenikmatan surga itu adalah sebagaimana dijelaskan firman Allah berikut ini: Dan naungan (pepohonan)nya dekat di atas mereka dan dimudahkan semudah-mudahnya untuk memetik (buah)nya. Dan kepada mereka diedarkan bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kristal. (al-Insan/76: 14-15) Dan di sana mereka diberi segelas minuman bercampur jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air (di surga) yang dinamakan Salsabil. (al-Insan/76: 17-18) Dan mereka dikelilingi oleh para pemuda yang tetap muda. Apabila kamu melihatnya, akan kamu kira mereka, mutiara yang bertaburan. Dan apabila engkau melihat (keadaan) di sana (surga), niscaya engkau akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. (al-Insan/76: 19-20) (75)

Pada ayat ini, Allah menerangkan kepada Nabi Muhammad bagaimana suasana di akhirat nanti serta pemandangan yang indah dan menakjubkan di mana para malaikat mengelilingi ‘Arasy bertasbih memuji Allah, siap melaksanakan perintah yang akan diturunkan kepada mereka. Dengungan tasbih mereka terdengar di sekeliling ‘Arasy.

Di antara mereka itu ada yang bertugas memikul ‘Arasy sebagaimana tersebut pada ayat: Dan para malaikat berada di berbagai penjuru langit. Pada hari itu delapan malaikat menjunjung ‘Arasy (singgasana) Tuhanmu di atas (kepala) mereka. (al-haqqah/69: 17) Mereka berdiri dalam barisan-barisan yang teratur seperti dijelaskan pada ayat:

Pada hari, ketika roh dan para malaikat berdiri bersaf-saf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pengasih dan dia hanya mengatakan yang benar. (an-Naba’/78: 38) Pada hari itu Allah memberi keputusan terhadap hamba-Nya dengan adil dan benar. Terdengarlah dengan serentak ucapan tasbih, “Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.”

Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, yang menciptakan manusia untuk dijadikan khalifah di muka bumi, memberinya petunjuk dan hidayah. Dia yang menjadikan siksa dan azab neraka bagi yang mendurhakai-Nya, dan menjanjikan karunia dan nikmat kepada yang menjalankan perintah-Nya dengan patuh dan taat.

Dia juga yang mematikan semua makhluk-Nya pada hari Kiamat dan menghidupkannya kembali untuk menerima balasan amal perbuatannya lalu mengadakan pengadilan untuk memperhitungkan semua amal hamba-Nya dengan adil, benar, dan bijaksana kemudian memberikan balasan bagi semua makhluk-Nya. Yang durhaka dimasukkan ke dalam neraka dan yang mukmin dan bertakwa dimasukkan ke dalam surga sesuai dengan janji-Nya. Segala puji dipanjatkan kepada Allah atas segala perbuatan-Nya, keadilan-Nya dan rahmat-Nya.

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang yang bertakwa itu berkata, “Segala puji hanya bagi Allah semata, yang menepati janji yang telah diucapkan kepada kami melalui rasul-rasul-Nya; yang mewariskan tanah surga kepada kami untuk kami diami sesuka kami. Surga, sungguh, merupakan balasan terbaik bagi orang-orang yang telah berbuat baik.”

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Az-Zumar Ayat 73-74 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S