Surah Yasin ayat 26-29; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Yasin Ayat 26-29

Pecihitam.org – Kandungan Surah Yasin Ayat 26-29 ini, diterangkan Akhirnya, orang tersebut mengambil keputusan yang tepat berdasar keyakinan yang penuh bahwa ia hanya beriman kepada Allah, yaitu Tuhan yang sebenarnya bagi dia dan kaumnya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Allah menerangkan azab yang ditimpakan kepada kaum yang musyrik, kafir, dan mendustakan agama-Nya. Allah tidak perlu menurunkan pasukan-pasukan malaikat untuk membinasakan mereka, melainkan cukup dengan satu teriakan saja dari malaikat Jibril, maka orang-orang kafir tersebut menjadi kaku dan tak bernyawa lagi.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Yasin Ayat 26-29

Surah Yasin Ayat 26
قِيلَ ٱدۡخُلِ ٱلۡجَنَّةَ قَالَ يَٰلَيۡتَ قَوۡمِى يَعۡلَمُونَ

Terjemahan: Dikatakan (kepadanya): “Masuklah ke surga”. Ia berkata: “Alangkah baiknya sekiranya kamumku mengetahui.

Tafsir Jalalain: قِيلَ (Dikatakan) kepadanya sesudah ia mati, ٱدۡخُلِ ٱلۡجَنَّةَ (“Masuklah ke surga”) menurut suatu pendapat dikatakan, bahwa Habib An Najjar itu masuk ke dalam surga dalam keadaan hidup. قَالَ يَٰلَيۡتَ (Ia berkata, “Aduhai!) huruf Ya di sini menunjukkan makna tanbih atau penyesalan قَوۡمِى يَعۡلَمُونَ (sekiranya kaumku mengetahui.).

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala berfirman kepadanya: ٱدۡخُلِ ٱلۡجَنَّةَ (“Masuklah ke surga”) lalu ia memasukinya dan mendapatkan rizki di dalamnya. Sesungguhnya Allah telah menghilangkan penyakit dan kedukaan dunia. Mujahid berkata: “Dikatakan kepada Habib an-Najjar: ‘Masuklah ke dalam surga.’” Hal itu terjadi setelah dia terbunuh, sehingga ia berhak menerimanya. Ketika dia melihat pahala,

يَٰلَيۡتَ قَوۡمِى يَعۡلَمُونَ (“Ia berkata: ‘Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui,’”) Qatadah berkata: Tidak ada yang dijumpai seorang Mukmin kecuali hal yang sebenarnya dan tidak dijumpai sesuatu yang menipu, dikarenakan tampaknya apa yang benar-benar tampak dari kemuliaan Allah Ta’ala.

Tafsir Kemenag: Akhirnya, orang tersebut mengambil keputusan yang tepat berdasar keyakinan yang penuh bahwa ia hanya beriman kepada Allah, yaitu Tuhan yang sebenarnya bagi dia dan kaumnya. Ia lalu mengumumkan keimanan dan keyakinannya itu kepada kaumnya, dan berkata dengan tegas, “Sesungguhnya aku telah beriman kepada Allah yaitu Tuhan kamu yang sebenarnya. Maka dengarkanlah pernyataan imanku ini.”

Sikap dan pernyataan iman seperti tersebut di atas, yang dilontarkan di tengah-tengah masyarakat yang masih bergelimang kekafiran, kemusyrikan, dan kemaksiatan, benar-benar merupakan keberanian yang timbul dari cahaya iman yang telah menerangi hati nuraninya. Ia ingin agar kaumnya juga beriman. Ia tak gentar kepada ancaman yang membahayakan dirinya, demi melaksanakan tugas suci untuk mengajak umat ke jalan yang benar.

Menurut suatu riwayat, ketika orang itu berkata demikian kaumnya menyerangnya dan membunuhnya dan tidak seorang pun yang membelanya.

Sedang menurut Qatadah, “Kaumnya merajamnya dengan batu, dan dia tetap berdoa, ‘Wahai Tuhanku, tunjukilah kaumku, karena mereka tidak mengetahui.” Mereka merajamnya sampai ia mengembuskan napasnya yang penghabisan.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa orang yang dimaksud pada ayat-ayat di atas bernama habib an-Najjar, yang terkena penyakit campak, tetapi suka bersedekah. Separuh dari penghasilannya sehari-hari disedekahkannya.

Disebutkan bahwa setelah kaumnya mendengar pernyataan keimannya terhadap Islam maka berkobarlah kemarahan terhadapnya, dan akhirnya mereka membunuhnya. Akan tetapi, pada saat sebelum ia mengembuskan napas yang terakhir, turunlah kepadanya malaikat untuk memberitahukan bahwa Allah telah mengampuni semua dosa-dosanya yang telah dilakukannya sebelum ia beriman, dan ia dimasukkan ke dalam surga sehingga termasuk golongan orang-orang yang mendapat kemuliaan di sisi Allah.

Pada detik-detik terakhir, ia masih sempat mengucapkan kata yang berisi harapan, “Alangkah baiknya, jika kaumku mengetahui karunia Allah yang dilimpahkan-Nya kepadaku, berkat keimananku kepada-Nya, aku telah memperoleh ampunan atas dosaku. Aku akan dimasukkan ke dalam surga dengan ganjaran yang berlipat ganda, dan termasuk golongan orang-orang yang memperoleh kemuliaan di sisi-Nya. Seandainya mereka mengetahui hal ini, tentulah mereka akan beriman pula.”

Baca Juga:  Surah Yasin Ayat 30-32; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Pernyataan habib itu adalah pernyataan yang amat tinggi nilainya dan menunjukkan ketinggian akhlaknya. Sekalipun ia telah dirajam dan disiksa oleh kaumnya, namun ia tetap berharap agar kaumnya sadar dan mendapat rahmat dari Tuhan sebagaimana yang telah dialaminya.

Tafsir Quraish Shihab: Sebagai balasan keimanannya serta ajakannya ke jalan Allah, dikatakan kepadanya, “Masuklah kamu ke dalam surga.” Lalu dalam curahan kenikmatan dan kemuliaan, ia berkata, “Alangkah baiknya jika kaumku mengetahui betapa besar ampunan Tuhanku dan pemuliaan-Nya kepadaku. Jika mereka mengetahui hal itu, niscaya mereka akan beriman seperti aku.”

Surah Yasin Ayat 27
بِمَا غَفَرَ لِى رَبِّى وَجَعَلَنِى مِنَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ

Terjemahan: Apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan”.

Tafsir Jalalain: بِمَا غَفَرَ لِى رَبِّى (Apa yang menyebabkan Rabbku memberi ampun kepadaku) yakni penyebab Allah memberikan ampunan kepadanya وَجَعَلَنِى مِنَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ (dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.”).

Tafsir Ibnu Katsir: بِمَا غَفَرَ لِى رَبِّى وَجَعَلَنِى مِنَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ (apa yang menyebabkan Rabb-ku memberikan ampun kepadaku dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan.”) dia berangan-angan, demi Allah, seandainya kaumku mengetahui apa yang tampak dari karunia Allah ini dan apa yang diberikan kepadanya. Ibnu ‘Abbas berkata: “Dia menasehati kaumnya di waktu kehidupannya dengan perkataannya:

يَٰقَوۡمِ ٱتَّبِعُواْ ٱلۡمُرۡسَلِينَ (“Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu.”) dan setelah kematiannya: Yaa laita qaumii ya’lamuun. بِمَا غَفَرَ لِى رَبِّى وَجَعَلَنِى مِنَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ (“Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, apa yang menyebabkan Rabb-ku memberikan ampun kepadaku dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan.”) (HR Ibnu Abi Hatim).

Syfan ats-Tsauri berkata dari ‘Ashim al-Ahwal, dari Abu Mijlaz, بِمَا غَفَرَ لِى رَبِّى وَجَعَلَنِى مِنَ ٱلۡمُكۡرَمِينَ (“Apa yang menyebabkan Rabb-ku memberikan ampun kepadaku dan menjadikanku termasuk orang-orang yang dimuliakan.”) dengan keimananku kepada Rabb-ku dan membenarkan para utusan. Maksudnya adalah, seandainya mereka melihat apa yang aku terima berupa pahala dan balasan nikmat yang melimpah, niscaya hal itu akan membawa mereka untuk mengikuti para Rasul. Lalu Allah merahmati dan meridlainya, dikarenakan dia begitu antusias untuk memberikan hidayah kepada kaumnya.

Tafsir Kemenag: Akhirnya, orang tersebut mengambil keputusan yang tepat berdasar keyakinan yang penuh bahwa ia hanya beriman kepada Allah, yaitu Tuhan yang sebenarnya bagi dia dan kaumnya. Ia lalu mengumumkan keimanan dan keyakinannya itu kepada kaumnya, dan berkata dengan tegas, “Sesungguhnya aku telah beriman kepada Allah yaitu Tuhan kamu yang sebenarnya. Maka dengarkanlah pernyataan imanku ini.”

Sikap dan pernyataan iman seperti tersebut di atas, yang dilontarkan di tengah-tengah masyarakat yang masih bergelimang kekafiran, kemusyrikan, dan kemaksiatan, benar-benar merupakan keberanian yang timbul dari cahaya iman yang telah menerangi hati nuraninya. Ia ingin agar kaumnya juga beriman. Ia tak gentar kepada ancaman yang membahayakan dirinya, demi melaksanakan tugas suci untuk mengajak umat ke jalan yang benar.

Menurut suatu riwayat, ketika orang itu berkata demikian kaumnya menyerangnya dan membunuhnya dan tidak seorang pun yang membelanya.

Sedang menurut Qatadah, “Kaumnya merajamnya dengan batu, dan dia tetap berdoa, ‘Wahai Tuhanku, tunjukilah kaumku, karena mereka tidak mengetahui.” Mereka merajamnya sampai ia mengembuskan napasnya yang penghabisan.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa orang yang dimaksud pada ayat-ayat di atas bernama habib an-Najjar, yang terkena penyakit campak, tetapi suka bersedekah. Separuh dari penghasilannya sehari-hari disedekahkannya. Disebutkan bahwa setelah kaumnya mendengar pernyataan keimannya terhadap Islam maka berkobarlah kemarahan terhadapnya, dan akhirnya mereka membunuhnya.

Baca Juga:  Surah Al-Mu'min Ayat 47-50; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Akan tetapi, pada saat sebelum ia mengembuskan napas yang terakhir, turunlah kepadanya malaikat untuk memberitahukan bahwa Allah telah mengampuni semua dosa-dosanya yang telah dilakukannya sebelum ia beriman, dan ia dimasukkan ke dalam surga sehingga termasuk golongan orang-orang yang mendapat kemuliaan di sisi Allah.

Pada detik-detik terakhir, ia masih sempat mengucapkan kata yang berisi harapan, “Alangkah baiknya, jika kaumku mengetahui karunia Allah yang dilimpahkan-Nya kepadaku, berkat keimananku kepada-Nya, aku telah memperoleh ampunan atas dosaku. Aku akan dimasukkan ke dalam surga dengan ganjaran yang berlipat ganda, dan termasuk golongan orang-orang yang memperoleh kemuliaan di sisi-Nya. Seandainya mereka mengetahui hal ini, tentulah mereka akan beriman pula.”

Pernyataan habib itu adalah pernyataan yang amat tinggi nilainya dan menunjukkan ketinggian akhlaknya. Sekalipun ia telah dirajam dan disiksa oleh kaumnya, namun ia tetap berharap agar kaumnya sadar dan mendapat rahmat dari Tuhan sebagaimana yang telah dialaminya.

Tafsir Quraish Shihab: Sebagai balasan keimanannya serta ajakannya ke jalan Allah, dikatakan kepadanya, “Masuklah kamu ke dalam surga.” Lalu dalam curahan kenikmatan dan kemuliaan, ia berkata, “Alangkah baiknya jika kaumku mengetahui betapa besar ampunan Tuhanku dan pemuliaan-Nya kepadaku. Jika mereka mengetahui hal itu, niscaya mereka akan beriman seperti aku.”

Surah Yasin Ayat 28
وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ مِنۢ بَعۡدِهِۦ مِن جُندٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَمَا كُنَّا مُنزِلِينَ

Terjemahan: Dan kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukanpun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya.

Tafsir Jalalain: وَمَآ (Dan tiadalah) Maa bermakna Nafi أَنزَلۡنَا عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ (Kami turunkan kepada kaumnya) kaum Habib An Najjar مِنۢ بَعۡدِهِۦ (setelah dia meninggal) sesudah Habib mati karena dirajam oleh mereka مِن جُندٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ (suatu pasukan pun dari langit) yaitu malaikat-malaikat untuk membinasakan mereka وَمَا كُنَّا مُنزِلِينَ (dan tidak layak Kami menurunkannya) menurunkan Malaikat untuk membinasakan seseorang.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman Allah Tabaaraka wa Ta’ala: وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ قَوۡمِهِۦ مِنۢ بَعۡدِهِۦ مِن جُندٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَمَا كُنَّا مُنزِلِينَ (“Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia [meninggal] suatu pasukan pun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya.”)

Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Dia menghukum kaumnya setelah mereka membunuhnya karena kemurkaan-Nya kepada mereka. Hal itu dikarenakan mereka mendustakan Rasul-Rasul-Nya dan membunuh wali-Nya.

Allah menyebutkan bahwa Dia tidak menurunkan pasukan Malaikat kepada mereka untuk membinasakan mereka. Akan tetapi, semua itu lebih ringan bagi-Nya. Dikatakan oleh Ibnu Mas’ud sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari sebagian sahabatnya.

Tafsir Kemenag: Akhirnya, orang tersebut mengambil keputusan yang tepat berdasar keyakinan yang penuh bahwa ia hanya beriman kepada Allah, yaitu Tuhan yang sebenarnya bagi dia dan kaumnya. Ia lalu mengumumkan keimanan dan keyakinannya itu kepada kaumnya, dan berkata dengan tegas, “Sesungguhnya aku telah beriman kepada Allah yaitu Tuhan kamu yang sebenarnya. Maka dengarkanlah pernyataan imanku ini.”

Sikap dan pernyataan iman seperti tersebut di atas, yang dilontarkan di tengah-tengah masyarakat yang masih bergelimang kekafiran, kemusyrikan, dan kemaksiatan, benar-benar merupakan keberanian yang timbul dari cahaya iman yang telah menerangi hati nuraninya. Ia ingin agar kaumnya juga beriman. Ia tak gentar kepada ancaman yang membahayakan dirinya, demi melaksanakan tugas suci untuk mengajak umat ke jalan yang benar.

Menurut suatu riwayat, ketika orang itu berkata demikian kaumnya menyerangnya dan membunuhnya dan tidak seorang pun yang membelanya.

Sedang menurut Qatadah, “Kaumnya merajamnya dengan batu, dan dia tetap berdoa, ‘Wahai Tuhanku, tunjukilah kaumku, karena mereka tidak mengetahui.” Mereka merajamnya sampai ia mengembuskan napasnya yang penghabisan. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa orang yang dimaksud pada ayat-ayat di atas bernama habib an-Najjar, yang terkena penyakit campak, tetapi suka bersedekah. Separuh dari penghasilannya sehari-hari disedekahkannya.

Baca Juga:  Surah Yasin Ayat 55-58; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Disebutkan bahwa setelah kaumnya mendengar pernyataan keimannya terhadap Islam maka berkobarlah kemarahan terhadapnya, dan akhirnya mereka membunuhnya. Akan tetapi, pada saat sebelum ia mengembuskan napas yang terakhir, turunlah kepadanya malaikat untuk memberitahukan bahwa Allah telah mengampuni semua dosa-dosanya yang telah dilakukannya sebelum ia beriman, dan ia dimasukkan ke dalam surga sehingga termasuk golongan orang-orang yang mendapat kemuliaan di sisi Allah.

Pada detik-detik terakhir, ia masih sempat mengucapkan kata yang berisi harapan, “Alangkah baiknya, jika kaumku mengetahui karunia Allah yang dilimpahkan-Nya kepadaku, berkat keimananku kepada-Nya, aku telah memperoleh ampunan atas dosaku. Aku akan dimasukkan ke dalam surga dengan ganjaran yang berlipat ganda, dan termasuk golongan orang-orang yang memperoleh kemuliaan di sisi-Nya. Seandainya mereka mengetahui hal ini, tentulah mereka akan beriman pula.”

Pernyataan habib itu adalah pernyataan yang amat tinggi nilainya dan menunjukkan ketinggian akhlaknya. Sekalipun ia telah dirajam dan disiksa oleh kaumnya, namun ia tetap berharap agar kaumnya sadar dan mendapat rahmat dari Tuhan sebagaimana yang telah dialaminya.

Tafsir Quraish Shihab: Kami tidak membinasakan mereka dengan mengerahkan balatentara yang turun dari langit. Bukanlah termasuk ketetapan kami untuk menghancurkan umat-umat dengan menurunkan balatentara seperti itu.

Surah Yasin Ayat 29
إِن كَانَتۡ إِلَّا صَيۡحَةً وَٰحِدَةً فَإِذَا هُمۡ خَٰمِدُونَ

Terjemahan: Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati.

Tafsir Jalalain: إِن كَانَتۡ (Tidak ada siksaan) yakni hukuman atas mereka إِلَّا صَيۡحَةً وَٰحِدَةً (melainkan satu teriakan saja) malaikat Jibril berteriak keras kepada mereka فَإِذَا هُمۡ خَٰمِدُونَ (maka tiba-tiba mereka semuanya mati) tak bergerak lagi, mati semuanya.

Tafsir Ibnu Katsir: إِن كَانَتۡ إِلَّا صَيۡحَةً وَٰحِدَةً فَإِذَا هُمۡ خَٰمِدُونَ (“Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mat.”) lalu Allah Ta’ala membinasakan kerajaan tersebut dan penduduk Antokia, sehingga mereka lenyap dari permukaan bumi dan tidak ada yang tersisa sedikitpun.

Para ahli tafsir berkata: “Allah Ta’ala mengutus kepada mereka Malaikat Jibril, lalu dia mengambil dua tiang pintu [kusen pintu] gerbang kota mereka dengan berteriak satu kali teriakan. Tiba-tiba mereka semua mati, tidak adda satu ruh pun yang tersisa dan kembali kepada jasadnya.”

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini, Allah menerangkan azab yang ditimpakan kepada kaum yang musyrik, kafir, dan mendustakan agama-Nya. Allah tidak perlu menurunkan pasukan-pasukan malaikat untuk membinasakan mereka, melainkan cukup dengan satu teriakan saja dari malaikat Jibril, maka orang-orang kafir tersebut menjadi kaku dan tak bernyawa lagi. Peristiwa itu terjadi sedemikian cepatnya, sebagai bukti betapa besarnya kekuasaan Allah.

Tafsir Quraish Shihab: Akan tetapi kebinasaan mereka itu hanya dengan satu pekikan yang kami turunkan kepada mereka. Lalu serta merta mereka mati sebagaimana padamnya api.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Yasin ayat 26-29 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S