Tasawuf Sebagai Solusi Alternatif Problem Manusia Modern

Tasawuf

Pecihitam.org – Banyak cara yang diajukan para ahli untuk mengatasi problematika modern, diantaranya melalui jalan tasawuf ( mendekatkan diri pada Tuhan). Upaya ini antara lain dilakukan dengan kontemplasi, melepaskan diri dari jeratan dunia yang senantiasa berubah dan bersifat sementara.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sikap dan pandangan sufistik sangat diperlukan oleh masyarkat modern yang mengalami jiwa yang terpecah. Dengan catatan, asalkan pandangan terhadap tujuan tasawuf tidak dilakukan secara eklusif dan individual, melainkan berdaya aplikatif dalam merespon segala masalah yang dihadapi.

Kemampuan berhubungan dengan Tuhan ini dapat mengintegrasikan seluruh ilmu pengetauan yang berserakan itu. Karena melalui tasawuf ini, seseorang di sadarkan bahwa sumber segala sesuatu, termasuk ilmu adalah Tuhan.

Demikian pula tarekat yang terdapat dalam tasawuf akan membawa manusia memiliki jiwa istiqomah dan jiwa yang selalu diisi dengan nilai-nilai ketuhanan. Ia selalu mempunyai pegangan dalam hidupnya. Keadaan demikian menyebabkan ia tetap tabah dan tidak mudah terhempas oleh cobaan yang akan membelokkan ke jurang kehancuran. Dengan demikian, stress, putus asa dan lainya akan dapat dihindari.

Dalam konteks pengalaman dan kondisi inilah pentingnya satu pelatihan atau pendidikan khas sufistik. Pendidikan pada hakikatnya merupakan proses sosialisasi dan inkulturasi yang menyebarkan nilai-nilai dan pengetahuan yang terakumulasi dalam masyarakat. Perkembangan masyarakat berjalan dengan pertumbuhan dan proses sosialisasi , inkulturasinya dalam bentuk yang bisa diserap secarabaik, optimal , bahkan maksimal.

Baca Juga:  Tasawuf Pamoring Kawulo Gusti dalam Wirid Hidayat Jati Ronggowarsito

Sesungguhnya tasawuf bukan suatu penyikapan yang pasif atau membiyarkan terhadap kenyataan sosial yang terjadi. Akan tetapi tasawuf  memberikan peran besar dalam mewujudkan revolusi moral spiritual dalam masyarakat.

Dan bukankah aspek moral-spriritual ini merupakan ethical basics atau al-asasiyah al-akhlaqiyah bagi suatu formulasi sosial seperti dunia pendidikan? Kaum sufi merupakan  garda depan di tengah masyakaratnya sebagai solusi.

Dan pendidikan, yang biasanya digelar di dalam maupun di serambi masjid, merupakan instrumen penyadaran itu. Selain sebagai sebuah sikap asketis, tasawuf juga merupakan metode pendidikan yang membimbing manusia ke dalam harmoni dan keseimbangan total.

Metode itu bertumpu pada basis keharmonisan dan pada kesatuan dengan totalitas alam. Sehingga tampak sebagai manifestasi cinta dan kepuasan dalam segala hal. Bertasawuf haruslah bisa menyeimbangkan kecerdasan emosional  dan spiritualnya.

Intinya adalah belajar untuk tetap mengikuti tuntutan agama, ketika dihadapkan dengan keberuntungan, musibah, kedengkian orang lain, kekayaan, kemiskinan, tantangan hidup . Sufi-sufi besar telah memberikan teladan kepada umat manusia bagaimana pendidikan yang baik itu. Di antaranya, berproses menuju perbaikan diri dan pribadi yang pada gilirannya akan menggapai puncak ma‘rifat Allah, yakni Sang Khalik sebagai ujung  perjalanan manusia di permukaan bumi ini.

Baca Juga:  Jika Cukup Quran dan Hadis Saja, Mengapa Allah Turunkan Nabi untuk Menjelaskannya?

Disadari, pendidikan yang dikembangkan selama ini masih terlalu menekankan arti penting akademik, kecerdasan otak, dan jarang sekali terarah pada kecerdasan emosi dan spiritual. Yang terakhir ini memiliki keunggulan: mengajarkan integritas, kejujuran, komitmen, visi, kreativitas, ketahanan mental, kebijaksanaan, keadilan, prinsip kepercayaan, penguasaan diri, dan sinergitas.

Dalam taswuf, IQ (dha’k ‘aqli), EQ (dha’k dhihni), dan SQ (dha’k qalbi) merupakan komponen-komponen potensi kemanusiaan yang perlu dikembangkan secara harmonis. Ini agar menghasilkan daya guna yang luar biasa, baik secara horizontal dalam lingkup pergaulan antar manusia maupun secara vertikal dalam relasinya dengan Sang Kholiq.

Tanpa itu, maka akan muncul krisis dan degradasi moral, kemiskinan sumber daya manusiawi, dan penyempitan cakrawala berpikir yang cenderung berkutat pada militansi sempit atau penolakan terhadap pluralitas.

Di tengah krisis yang multidimensi dan kompleks itu, yang harus diupayakan dan dikembangkan adalah masalah penguatan pendidikan yang berbasis nilai-nilai kesufian atau tasawuf yang akan meneguhkan autentisitas kemanusiaan yang senantiasa diberi sentuhan yang bermakna yaitu sentuhan ilahiyah.

Baca Juga:  Ajaran Tasawuf Sebagai Dasar dalam Memajukan Perdaban Islam di Indonesia

Problematika masyarakat modern diatas akan kehilangan masa depannya, dan kehampaan jiwa di tengah –tengah perkembangan dunia modern. Untuk merespon  problematika modernitas  yang terjadi, tasawuf mengajarkan  untuk  berbadah, berdoa, berzikir, taubah dan lain-lainnya. Inilah yang memberikan harapan pada kehidupan yang lebih baik, bermakna, dan kehidupan yang lebih kekal.

Itulah beberapa sumbangan positif dari akhlak tasawuf dalam memberika solusi dalam rangka memecahkan beberapa permasalahan, pesoalan yang terjadi dalam masyarakat dan problematika modern yang terjadi.

Akhlak tasawuf benar-benar menjadi alternatif terbaik yang mampu diterapkan dalam konsep kehidupan manusia. Untuk itu , kita harus bisa menyisipkan sedikit demi sedikit akhlak tasawuf dalam kehidupan ini, agar kehidupan ini menjadi seimbang dan bermakna.