Tata Cara Prosesi Tari Sufi Atau Tari Sema

Tata Cara Prosesi Tari Sufi Atau Tari Sema

PeciHitam.org – Kita sudah membahas mengenai bagaimana Jalaludin Rumi menjelaskan mengenai pengertian Tari Sufi. Disini tentu akan muncul sebuah pertanyaan baru bagaimana sih tata cara prosesi tari sufi dilakukan? Mari kita bahas dalam artikel ini.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Tari Sema atau yang biasa disebut di Indonesia dengan sebutan Tari Sufi diciptakan sama sekali tidak mengacu pada bentuk keindahannya. Tujuan utamanya adalah mencari dimensi abstrak yang dapat mengantar seseorang pada wilayah ketuhanan. Sejak dimulai oleh Jalaluddin Rumi tidak pernah berusaha menulis sebuah buku ataupun memberikan penjelasan-penjelasan secara rinci mengenai ajaran-ajaranya.

Pada awal zikir ritmik ini, seluruh peserta berdiri berjejer dengan berpegangan tangan, seraya membentuk satu atau lebih lingkaran kosentris atau dalam baris yang saling berhadapan pada bagian tengahnya berdiri seorang syekh atau asistennya, penataan ini merupakan simbolis lingkaran atau barisan malaikat yang mengelilingi singgasana Illahi.

Para penari menyebutkan nama ilahiah secara serempak, seraya membukukan badan dengan cepat dan penuh saat mengucapakan suku kata kedua ‘lah’. Ketika menarik nafas, mereka kembali berdiri tegak, lalu sambil berputar-putar para darwis sambil mempertahankan tangan kanan mengarah ke langit, sementara tangan kiri mengarah ke bumi.

Tempo iramanya meningkat sedikit demi sedikit, dan gerakan tubuh selalu dibarengi dengan dua tahap pernapasan. Tidak lama kemudian nama Allah tidak lagi terdengar hanya huruf terahir ‘Ha’ yang masih terdengar terucap oleh para darwis yang sedang berputar, dan dihembuskan kuat-kuat oleh seluruh dada. Setiap hembusan nafas ini melambangkan hembusan terakhir manusia, saat jiwa individu dipersatukan kembali dengan nafas kosmik yaitu ke dalam ruh Ilahi.

Baca Juga:  Kebatinan Kanjeng Sunan Kalijaga dalam Sebuah Karya Sastra Agung “Kidung Rumeksa Ing Wengi”

Dengan mengikuti gerakan dada, tubuh membungkuk dan tegas secara bergantian seakan-akan setiap saat ia ditarik kelangit dan dihempaskan kembali ke bumi. Kedua belah mata dipejamkan, wajah mengekspresikan gairah yang getir. Orang yang menyaksikanya tidak perlu takut menyatakan bahwa, jika perlu pernafasan dalam dizikir ini menimbulkan kegairahan dalam tatanan yang lebih sensual.

Tari Sema yang didominasi gerakan berputar-putar, mengajak akal untuk menyatu dengan perputaran keseluruhan ciptaan. Mereka berputar dalam tarian sebab sesuatu rasa nikmat yang mereka rasakan pada waktu zikir yang timbul dalam hati mereka ketika mengingat Allah. Pada hakikatnya, mereka melakukan seluruh praktek zikir bermuara kepada hadirat Ilahi.

Prosesi Sema menggambarkan perjalanan spiritual manusia dengan menggunakan akal dan cinta dalam menggapai kesempurnaan. Itu sebabnya, gerak berputar menjadi ciri Tari Sema yang dikembangkan Rumi.

Sebagaian besar ulasannya bahkan mengarah pada corak yang tidak sistematis dan anekdotis. Pertanyaan yang muncul adalah, mengapa Rumi tidak pernah menyebutkan persoalan metafisika dan misteri-misteri sublim, padahal para sufi besar seperti Rumi pada waktu itu sebagian besar menuliskan ajaran sufisme melalui risalah-risalah mereka yang disusun secara sistematis.

Baca Juga:  Sejarah Thariqah Qadiriyyah, Salah Satu dari Empat Thariqat Besar dalam Dunia Tasawuf

Sebaliknya, Rumi tidak seperti mereka, dia tidak pernah menuliskan maupun menjelaskan masing-masing tahapan serta maqam-maqam yang dilampaui oleh para sufi dalam pendakian mereka menuju Tuhan. Namun, Rumi senantiasa menjawab setiap 13 pertanyaan yang diajukan kepadanya berkaitan dengan persoalan tersebut, melalui suatu cara yang secara jelas menunjuk pada pengalaman-pengalamannya sendiri.

Ketika akan menari tarian sufi seorang penari dituntut untuk mampu dan memahami setiap gerak ataupun makna tarian yang dilakukan. Sebelum melakukan sebuah tarian yang sakral dan syarat akan makna. Maka seorang penari harus melakukan sebuah ritual atau prosesi.

Hal-hal yang dilakukan penari sebelum menari yakni pertama, berwudhu seperti saat akan shalat. Wudhu berarti membasuh atau mengusap sejumlah anggota badan tertentu dengan air untuk menyucikan dari hadats kecil.

Kemudian setelah berwudhu maka hal yang dilakukan kedua yakni melakukan shalat sunah syukur wudhu.Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh peneliti. Kaitannya prosesi diatas yakni melakukan shalat sunnah syukur.

Baca Juga:  12 Prinsip Hidup Islami Nasehat Kiai Semar Badranaya

Shalat sunah syukur wudhu dilakukan untuk menunjukkan rasa syukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan. Ketika mendirikan salat tempat yang digunakan untuk salat harus bersih dan seorang yang melakukan salat baik itu pria atau wanita harus menutup aurat.

Setelah semua selesai barulah memulai dzikir. Konteks istighfar para sufi, istighfar berbeda dengan taubat. Istighfar berarti memohon maghfirah kepada Allah.Maghfirah berasal dari kata ghafara yang berarti menutupi sesuatu yang melindunginya dari kotoran.

Begitulah Tata Cara Prosesi Tari Sufi yang bisa kita lakukan. Namun tetap saja, butuh tingkat konsentrasi yang tinggi untuk dapat melakukan tarian ini secara baik dan benar.

Mohammad Mufid Muwaffaq