Tujuh Tahapan Agar Bahagia Dunia Akhirat Menurut al-Ghazali

Tujuh Tahapan Agar Bahagia Dunia Akhirat Menurut al-Ghazali

PeciHitam.org – Hidup bahagia merupakan tujuan setiap manusia yang terlahir di dunia. Hujjat al-Islam Imam al-Ghazali dalam kitab Minhaj al-‘Abidin Ila Jannati Rabbil ‘Alamin memberikan beberapa formula dan metode untuk menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat bersama Allah Azza wa Jalla.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Kitab Minhaj al-‘Abidin merupakan salah satu karya Imam al-Ghazali, kitab yang tersusun dalam bahasa Arab ini dicetak oleh Percetakan Daar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah-Indonesia, kitab ini berisi 96 halaman.

Dalam Edisi Melayunya, kitab ini ditulis oleh al-Syaikh Daud ibn ‘Abdullah al-Fathani, kitab ini diberikan tajuk “Minhaj al-‘Abidin Ila Jannati Rabbil ‘Alamin”. Kitab ini berisi 148 halaman dan dicetak oleh Percetakan Mathba’ah bin Halaby-Thaliand.

Sedangkan edisi terbaru merupakan ringkasan dari kitab edisi Melayu oleh Dr. Haji Harapandi Dahri dengan tajuk “Mukhtashar Minhaj al-‘Abidin”, kitab ini berisi 76 halaman sya’ban 1437H/2016 dicetak oleh Pustaka Irfani-Jakarta.

Ketiga kitab tersebut memiliki kesamaan dan perbedaan, kesamaannya ialah sama-sama membincangkan langkah-langkah seorang Salik dalam mendekatkan diri kepada Allah dengan menggunakan 7 aqabat (tahapan).

Sedangkan perbedaannya terletak pada metode dan bahasa yang digunakan, kitab Minhaj al-‘Abidin menggunakan bahasa Arab dan terletak pada matan kitab, sedangkan teks kitab yang ada pada bagian pinggir ialah teks kitab Bidayah al-Hidayah karya Imam al-Ghazali juga. Kitab Minhaj al-‘Abidin Ila Jannati Rabbil ‘Alamin karya al-Syaikh Daud bin ‘Abdulah Fathani menggunakan bahasa Melayu dengan syarh terhadap kalimat-kalimat yang dianggap perlu sehingga ketebalannya melebihi jumlah halaman kitab originalnya.

Baca Juga:  Tasawuf Pamoring Kawulo Gusti dalam Wirid Hidayat Jati Ronggowarsito

Sedangkan kitab yang terakhir yaitu “Mukhtashar Minhaj al-‘Abidin”, merupakan ringkasan dari kitab Minhaj al-‘Abidin edisi Melayu, tujuannya ialah untuk memudahkan bagi para pemula (al-Mubtadi’) memahami 7 langkah yang dijelaskan oleh Hujjat al-Islam Imam al-Ghazali.

Kitab Mukhtashar Minhaj al-‘Abidin ini selain merupakan ringkasan juga diberikan tahqiq sederhana yakni mengeluarkan ayat-ayat al-Quran dengan memberi catatan nama surat dan nomor ayat yang diletakkan di bagian akhir sebagai footnote. Demikian juga hadits-hadits diberikan takhrij sederhana yakni menjelaskan sanad, matan dan rawi, sedangkan qaul-qaul ulama diberikan penjelasan makna dan maksud yang terkandung di dalamnya.

Berikut ini tujuh tahapan agar mendapat perasanaan bahagia dunia akhirat menurut al-Ghazali, antara lain:

  1. Aqabat al-Ilm wa al-Ma’rifah (ilmu dan makrifat),
  2. Aqabat al-Taubah,
  3. Aqabat al-‘Awaiq (godaan-godaan),
  4. Aqabat al-‘Awaridl (dorongan dan motivasi),
  5. Aqabat al-Bawaits,
  6. Aqabat al-Qawadih (faktor yang merusak ibadah),
  7. Aqabat al-Hamd wa al-Syukr.

Pada tahapan pertama, seorang hamba dianjurkan untuk menuntut ilmu dan menjadikannya sebagai dasar dalam beragama. Betapa besarnya keutamaan yang diberikan oleh Allah kepada ahli ilmu terekam dalam al-Quran. S

Baca Juga:  Ekosufisme dan Ingatan Kita Untuk Merawat Alam

alah satunya Allah akan meninggikan derajat ahli ilmu (ulama). Di dalam hadis juga disebutkan bahwa ahli ilmu akan dimudahkan jalannya masuk ke surga.

Pada tahapan kedua, seorang hamba dianjurkan untuk bertaubat sebagai jalan keluar dari kesalahan yang sudah terlanjur dilakukan. Sebab tak seorang pun yang terbebas dari perbuatan dosa.

Pada tahapan ketiga, al-Ghazali membagi godaan manusia dalam beribadah menjadi 4 macam, antara lain godaan dunia, godaan manusia, godaan setan dan godaan hawa nafsu.

Pada tahapan keempat, al-Ghazali juga membagi kendala dalam beribadah menjadi 4 macam, yaitu rezeki, ragu dan khawatir, qadha’ Allah dan musibah (kesulitan hidup).

Setelah melewati empat tahapan tersebut, barulah beranjak ke tahapan kelima, yaitu dorongan dan motivasi. Ada dua motivasi yang harus diperhatikan oleh seorang hamba, yaitu al-Khauf (rasa takut) dan al-Raja’ (harapan).

Al-Khauf disini berfungsi sebagai pengendali agar seorang hamba tidak melakukan perbuatan maksiat. Sedangkan al-Raja’ digunakan untuk mendorong hati kita agar lebih giat dalam beribadah.

Baca Juga:  Tingkatan Ikhlas Menurut Syekh Nawawi Al-Bantani

Pada tahapan keenam, seorang hamba dituntut untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat merusak ibadah. Menurut al-Ghazali, ada dua amalan yang dapat merusak ibadah yaitu sifat riya’ dan ujub.

Pada tahapan ketujuh, yaitu memanjatkan puji dan syukur. Menurut al-Ghazali dalam kitab Minhaj al-‘Abidin memberikan tiga cara bersyukur kepada Allah, antara lain syukur dengan hati, syukur dengan lisan dan syukur dengan perbuatan.

Begitulah penjelasan Al-Ghazali mengenai tujuh tahapan agar bahagia dunia dan akhirat. Jika kita bisa melakukannya, insya Allah perasaan bahagia agan terus muncul dalam hati kita.

Mohammad Mufid Muwaffaq