Kisah Abu Yazid al Busthami Mengobati Orang dengan Penyakit Bangga Diri

Kisah Abu Yazid al Busthami

Pecihitam.org – Abu Yazid al Busthami ialah seorang Sufi yang sangat terkenal dengan berbagai Karomahnya. Banyak kisah dirinya dengan orang orang sekeliling yang mampu memberi kita hikmah atau pelajaran kehidupan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Ada sebuah kisah penuh hikmah, ketika Abu Yazid al Busthami didatangi seorang pembesar Bustham. Bustham adalah daerah di Khurasan, Iran yang mana pada abad pertengahan, merupakan tempat transit para pedagang dan terkenal dengan buah apel yang diekspor ke Irak.

Sang pembesar ini tentu datang menghadap kepada Abu Yazid tidak lain karena ingin mengadukan persoalan Ibadah yang dilakukannya, akhirnya kedatangannya tersebut pun membuatnya bercakap panjang

“Wahai Abu Yazid, sejak tiga puluh tahun ini, aku berpuasa sepanjang waktu dan tidak pernah terputus. Aku juga senantiasa bangun malam untuk beribadah dan tidak tidur. Namun, aku tidak memperoleh dalam hatiku apa pun dari Ilmu yang kau uraikan ini, padahal aku mempercayai dan menyukainya”

Mendengar hal tersebut, Abu Yazid pun menjawab, “Walau kau berpuasa selama tiga puluh tahun dan selama itu pula kau selalu bangun malam untuk beribadah, kau tidak akan memperoleh sebesar atom pun dari ilmu ini!:”

Baca Juga:  Gus Yusuf Chudlori: Sikap Toleransi dan Kisah Masjid vs Gamelan

“Mengapa?” Tanya sang pembesar Bustham

“Karena kauterhijab oleh dirimu sendiri” Sahut Abu Yazid

“Apakah ada obat untuk hal itu?” Tanya sang pembesar itu kembali

“Ya ada,” Timpal Abu Yazid

“Kalau begitu terangkanlah kepadaku agar aku melakukannya”

Ahh, kau tidak akan melakukannya” Ujar Abu Yazid

“Sebutkan saja padaku agar aku melakukannya” Desak sang pembesar itu dengan penuh rasa penasaran

Akhirnya, Abu Yazid pun menjelaskan terkait apa yang harus dilakukan olehnya

“Pergilah kau ke tukang rias, kemudian cukurlah rambut dan jenggotmu. Lepaskanlah baju yang seperti yang kau pakai ini. pakailah baju mantel, lalu gantungkan di lehermu keranjang yang penuh dengan buah kenari.

Selepas itu panggillah anak anak kecil untuk berkumpul mengelilingimu dan katakan pada mereka ‘siapa yang menamparku sekali, maka aku akan memberinya sebiji kenari’.

Terus, kau masuk ke pasar dan kelilingi seluruh pasar itu agar banyak orang yang menyaksikan dirimu seperti itu, termasuk orang orang yang mengenalmu”

Baca Juga:  Syahadat Saat Akad Nikah, Ini Bacaan dan Hukumnya Dalam Islam

Mendengar arahan Abu Yazid, spontan sang pembesar Bustham berkata
“Subhanallah, kau menyarankanku seperti itu?”

“Ucapan Subhanallah-mu itu syirik” Ucap Abu Yazid dengan tegas

“Mengapa bisa begitu?”

“Karena kau merasa bangga terhadap kebesaranmu, lantas kau menganggap suci dirimu! Kau sebenarnya tidak menyucikan Tuhanmu” Sentak Abu Yazid

“Ini tidak bisa kulakukan, tapi tunjukkanlah aku yang lain” Pinta sang pembesar

“Mulailah dengan yang ini dulu sebelum melakukan yang lain” Timpal Abu Yazid

“Aku tidak mampu melakukannya” ujar si pembesar tersebut

Akhirnya Abu Yazid pun menyahut “Bukankah sudah kukatakan padamu bahwa kau tidak mampu melakukannya”

Dari kisah ini tentu telah memberi kita gambaran bahwasanya orang-orang yang memiliki penyakit bangga terhadap diri sendiri tak akan mampu memperoleh sedikit pun dari Ilmu Agama yang di pelajarinya.

Karena akan selalu hadir rasa bangga terhadap diri sendiri terkait ibadah yang dilakukan, bukan semata mata untuk mendapatkan ridha dari Allah. Bahkan boleh jadi Ibadah yang kita lakukan senantiasa kita perlihatkan kepada sesama guna mendapatkan pujian, dan inilah yang membuat Iman seseorang tak akan sempurna,

Baca Juga:  Sombong Dalam Islam: Jenis dan Bahayanya

Sebagaimana Sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Abu Manshur al Dailami dari Abu Hurairah bahwasanya

“Ada tiga hal yang bila dilakukan seseorang, maka sempurnalah imannya. Pertama, ia tidak takut di jalan Allah terhadap caci maki orang lain; kedua, tidak bersikap pamer dengan amal perbuatannya; ketiga, ketika ia dihadapkan pada dua persoalan, pertama karena tujuan dunia, kedua karena tujuan akhirat, maka dengan itu ia lebih mengutamakan karena tujuan akhirat dari pada tujuan dunia”

*Dikutip dari Al Ghazali, Metode Menjemput Cinta, (Bandung: Mizan Pustaka)

Rosmawati