Eksistensi Wali dalam al-Quran

eksistensi wali dalam al quran

Pecihitam.org – Tak sengaja saya menemukan postingan dalam sebuah fanspage “Dokter Aswaja” di facebook yang kontennya mengolok-olok kaum sufi disertai foto seorang ulama terkemuka Yaman, yakni Habib Umar bin Hafidh. Tak perlu lama menganalisa, saya paham madzhab berislam orang di balik fanspage itu.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Memang, ada sekelompok muslim yang menolak ajaran sufisme dalam Islam. Dalih mereka di antaranya adalah sebab Kanjeng Nabi Rasulullah Saw. tidak pernah mengenalkan atau mengajarkan tentang laku sufisme.

Terlepas dari pro-kontra soal sufisme, bagi saya penganut Islam Nusantara dalam tradisi pesantren Nahdlatul Ulama, mengolok-olok ulama sekelas Habib Umar sama sekali bukan cerminan muslim. Wal ‘iyadz billah.

Perbedaan hasil istinbath hukum, tafsir, atau pemahaman atas satu teks Islam bagi saya persoalan klasik yang tidak usah dipertentangkan kembali. Itu adalah keniscayaan. Terpenting adalah saling memahami perbedaan itu disertai rasa kesalingan menghormati.

Namun, jika kemudian apa yang saya yakini, dalam hal ini soal sufisme, diolok-olok, terlebih membawa-bawa foto ulama sekelas Habib Umar yang mafhum sangat dicintai mayoritas muslim di Indonesia khususnya NU, kiranya saya berhak untuk membela keyakinan saya.

Baca Juga:  Benarkah Wali Allah tidak Pernah Mati? Ini Penjelasannya

Kaum sufi, dalam hal ini adalah muslim Sunni, merupakan firqah Islam yang paling getol mempelajari tasawuf atau sufisme. Secara sederhana, napas tasawuf diilhami kisah pertemuan malaikat Jibril dengan Kanjeng Nabi dan beberapa sahabatnya. Di mana saat itu Jibril membabar tentang iman, islam, dan ihsan. Dari “ihsan” inilah tasawuf memiliki korelasinya.

Boleh dikatakan tasawuf hakikatnya ejawantah dari apa itu ihsan. Oleh sebab itu, yang utama dalam ajaran tasawuf adalah bagaimana mendidik hati agar jernih, bening, dan dekat dengan Allah Ta’ala.

Dalam tradisi sufisme ada eksistensi manusia yang dikenal sebagai “kekasih Allah” atau waliyullah. Ini pula yang kerap ditolak oleh sebagian saudara muslim yang lain. Bahwa, misalnya, waliyullah seperti Walisongo di tanah Jawa adalah mitos belaka.

Pada intinya, mereka selalu berdalih segala yang tidak diajarkan dan dikenalkan pada masa Nabi adalah tertolak, hatta eksistensi wali dan tasawuf.

Ihwal wali, dalam kitab “Hujjah Ahli Tahlil” karya ulama Nusantara yakni KH. Asmawi Cirebon halaman 205 disebutkan:

Baca Juga:  Tasawuf Pada Masa Khulafaur Rasyidin dan Sahabat Nabi Lainnya

الاولياء هم المؤمنون المتقون والعلماء العاملون والغزّاة المجاهدون. و قال بعضهم الولي ثابت في القران العظيم

Wali adalah orang-orang mukmin yang bertakwa (kepada Allah), ulama yang mengamalkan ilmunya, dan orang-orang yang mati syahid. Sebagian ulama berkata bahwa eksistensi wali disebutkan dalam al-quran al-‘adhim.

Dalam surat Yunus ayat 62-63 Allah Ta’ala berfirman:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ. الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

Ingatlah, sungguh para kekasih Allah (wali) tidak rasa khawatir (takut) terhadap merekan dan mereka tidak bersedih hati, mereka adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah.

Dalam surat al-Anfal ayat 34 difirmankan:

 إِنْ أَوْلِيَاؤُهُ إِلَّا الْمُتَّقُونَ

Tiada para kekasih Allah (wali) itu kecuali mereka adalah orang-orang yang bertakwa kepada Allah.

Dari dua ayat di atas jelaslah bahwa eksistensi wali itu ada. Keberadaan waliyullah sesosok Imam Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazali, Imam Junaid al-Baghdadi, Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, Syaikh Ibnu Athaillah al-Sakandari, Walisongo, dan lain sebagainya di mana kewalian beliau-beliau diakui segenap ulama Sunni dan para Sufi dunia adalah memiliki dalil qurnaik. Hal mana para beliau jelas sekali diakui sebagai muslim yang salih, al-mu’minun, al-muttaqun, al-‘ulama al-‘amilun.

Baca Juga:  Wali Rajabiyyun, Kekasih Allah yang Tampak Karomahnya Hanya Ketika Bulan Rajab

Walhasil, sebagaimana “nyatanya” Allah Ta’ala menghendaki perbedaan bangsa, suku, ras, bahkan agama, sebagaimana “nyatanya” Allah Ta’ala tidak menjadikan umat manusia ini dalam satu agama. Maka, perbedaan madzhab, tafsir, pemahaman dalam Islam seyogianya harus diakui dan disadari sebagai rahmat Allah di muka bumi.

Sepasal dengan itu, maka terang sekali bahwa pertengkaran dalam hal beragama ini perlu disudahi. Toh semuanya memiliki dalil masing-masing.

“Pertengkaran adalah bukti merebutkan duniawi, sebab jika merebutkan ukhrawi, semuanya akan mengalah” (Buya Syakur Yasin)

Wallahul muwaffiq.

Mutho AW

Leave a Reply

Your email address will not be published.