Mengenal Ibnu Sina (Avicenna), Seorang Tokoh dan Ilmuwan yang Terkenal dengan Ilmu Kedokterannya

Mengenal Ibnu Sina (Avicenna), Seorang Tokoh dan Ilmuwan yang Terkenal dengan Ilmu Kedokterannya

PeciHitam.org – Corona Virus Disease (Covid-19) menjadi Wabah penyakit yang menjadi Pandemi dunia saat ini belum ditemukan Vaksin khusus untuk menangkalnya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Ketakutan dunia akan wabah ini menjadikan beberapa negara maju dan berkembang melakukan isolasi diri. Metode lockdown dilakukan untuk mencegah virus berkembang dengan pesat dan untuk menekan korban meninggal.

Dunia kedokteran menjadi sangat sibuk dalam menangkal dan merawat para pasien positif atau dalam pengawasan. Belum seorangpun dokter berkompeten mampu membuat resep untuk mengobati penyakit ini. Kemodernan dunia kedokteran ternyata belum bisa membuat rasa aman manusia dari wabah penyait.

Terkait dunia kesehatan, pada abad ke 10-11 di dunia Islam mempunyai dokter hebat dan sangat dikagumi oleh para ahli kesehatan seluruh dunia. Beliau adalah Ibnu Sina, seorang Ilmuan yang menguasai berbagai disiplin Ilmu pengetahuan.

Pada masa itu juga, dunia Islam berkembang pesat Ilmu pengetahuan dengan berbagai disiplin. Sebut saja Al-Kharizmi (matematikawan), Ibnu Rusyd (filsuf Islam), Ibnu Sina (Ahli Kedokteran), Al-Kindi (Filsuf Islam) dan lain sebagainya.

Para ahli tersebut menjadi rujukan pengetahuan modern baik di timur atau di barat. Bahkan beberapa Ilmuan Islam itu mempunyai nama dalam Tradisi Pengetahuan Barat. Salah satunya adalah Ibnu Sina atau di Barat terkenal dengan Avicenna.

Biografi

Avicenna atau Ibnu Sina bernama lengkap Abu Ali Al-Husain bin Abdullah bin Sina. Nama Avicenna adalah julukan beliau dalam literasi dunia Barat. Ibnu Sina lahir pada tahun 980 M dan wafat tahun 1037, berumur sekitar 57 tahun. Beliau terkenal di dunia Islam dan Barat sebagai Bapak Kedokteran Modern.

Terkenalnya beliau dalam dunia kesehatan karena beliau mengarang sebuah Kitab berjudul Al-Qanun fit Tib (Kaidah-kaidah Kesehatan) yang menjadi rujukan Kedokteran Modern. Sungguh karya yang biasa. Karya tersebut masih dipergunakan sebagai dasar dari penyusunan buku-buku kedokteran pada zaman ini walaupun sudah berumur 1 milenial (1000 tahun).

Baca Juga:  Ibnu Sina, Ilmuan Islam yang Dijuluki Bapak Kedokteran Moderen

Selain menadalam keilmuan kedokteran, beliau juga seorang Filosof dan mengusai beberapa keilmuan lainnya. Dokter kelahiran Persia ini (Kota Afsyahah, dekat kota Bukhara, Uzbekistan masa sekarang) juga telah menulis sekurangnya 450 judul buku. Seorang sejarawan Eropa bahkan menyebut, Ibnu Sina sebagai Ilmuan yang paling terkenal dalam dunia Islam sampai hari ini.

Kehidupan Ibnu Sina

Ibnu Sina yang lahir di daerah Afsyahnah pada masa itu merupakan wilayah kekuasaan kerajaan Dinasti Samaniyah. Wilayah kekuasaannya didaerah Asia Tengah, daerah Iran sekarang dan beberapa negara sekitarnya. Beliau dimakamkan di Provinsi Hamadan Iran.

Pada masa itu merupakan puncak keemasan dari peradaban Islam, dengan beridirnya kerajaan-kerajaan yang sangat memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan. Hampir kerajaan Islam yang muncul pasti memiliki perustakaan besar sebagai sarana ilmu pengetahuan.

Pusat pengetahun di Baghdad adalah wilayah kekuasaan Dinasti Bani Abbasiyah dengan Perpustakaan kerajaan bernama “Baitul Hikamah”. Mercusuar pengetahuan pada kerajaan tersebut juga mebawa dampak positif dalam kompetisi pengetahuan dalam Islam.

Awal mula berkembangnya zaman keemasan dalam pengetahuan yaitu dimulainya penerjemahan teks-teks Yunani Kuno milik Plato, Aristoteles dan para tokoh pengetahuan lainnya mendorong dunia Islam berkembang pengetahuannya.

Ibnu Sina yang hidup dalam kerajaan Samaniyah di Persia mempunyai akses ke Perpustakaan Kerajaan guna belajar dan meneliti pengetahuan. Beliau pada umur 10 tahun sudah menghafalkan Al-Quran kemudian beranjak menelaah teori metafisika milik Aristoteles. Yang mana teori Metafisis Aristoteles tidak beliau pahami sampai membaca tulisan Al-Farabi. Seketika beliau paham dan melakukan sujud syukur dan berinfaq untuk orang miskin.

Beliau beralih ke dunia Kedokteran pada umur 16 tahun dan sudah diakui sebagai dokter profesional pada umur 18 tahun. Sekitar tahun 1002 M, beliau ditinggal oleh ayahnya dan pada tahun 1004 M, dinasti Samaniyah runtuh. Beliau kemudian mengembara untuk mencari keamanan dan untuk mengembangkan keilmuan beliau.

Baca Juga:  Asal-Usul Nasab dan Pendidikan Agama Islam Raden Patah

Setelah beberapa peperangan dan konflik politik disekitar bekasa kerajaan Samaniyah, akhirnya beliau menghabiskan kehidupan dengan menjadi Penasehat Kesehatan, Sastra dan pengetahuan bagi seorang penguasan Lokal daerah Kakuyid yaitu Ala ad-Daula.

Pemikiran Ibnu Sina

Ibnu Sina menulis secara ekstensif pada awal-awal berkembangnya ilmu filsafat Islam. Fokus bahasan Ibnu Sina pada ilmu logika, etika, dan metafisika, termasuk risalah bernama Logika dan Metafisika. Sebagian besar karya-karya beliau ditulis dalam bahasa Arab. Peran bahasa Arab pada masa itu setara dengan bahasa Inggris pada masa sekarang.

Dalam bidang Metafisik didasari dengan teologi Islam, membedakan lebih jelas daripada Aristotelianisme antara esensi dan eksistensi. Bahasan tentang aliran esensialisme dan eksistensialisme dijelaskan dengan gamblang oleh Ibnu Sina dengan warna Islam.

Pendapat tentang metafisika islam beliau jelaskan dalam bentuk logika hubungan antara esensi (Mahiat) dan keberadaan (Wujud). Argumen Ibnu Sina, bahwa fakta keberadaan tidak dapat disimpulkan dari atau dicatat dengan esensi dari hal-hal yang ada. Akan tetapi keadaan yang terlihat dengan mata telanjang adalah sebuah pola Sebab-Akibat.

Pada bidang Teologi, Ibnu Sina berpandanga harus ada perdamaian antara Akal/ Rasionalitas dengan teologi Islam. Tujuannya jelas, agar bisa membuktikan wujud Tuhan dan ciptaan-Nya dari dunia ilmiah dan melalui akal dan logika. Walaupun beberapa Ulama setelahnya ada yang menyangkal pemikiran Ibnu Sina, tidak menjadi penghalang dalam menghargai pemikiran beliau sebagai seorang Ilmuan.

Karya-Karya

Ibnu Sina terkenal sebagai Ulama yang produktif dalam menulis ilmu pengetahuan dan bentuk karya tulis. Di awal disebutkan bahwa beliau menulis lebih dari 450 karya dalam pengetahuan. Akan tetapi jumlah tersebut tidak semuanya atas dirinya sendiri. jumlah karya yang ditulis dan dinisbatkan kepada Ibnu Sina diperkirakan sebanyak 100 sampai 250 buah judul.

Beberapa buku-buku terkenal beliau yang sangat luar biasa dan menjadi rujukan ilmuan-ilmuan kontemporer adalah sebagai berikut:

  1. Qanun fi Tibb (Kaidah-kaidah Kesehatan). Kitab ini ditulis dalam bahasa Arab dan sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa dunia. Bahkan Sekolah Tinggi Kedokteran di Montpellier dan Louvin, Perancis mewajibkan mahasiswanya pada zamannya.
  2. Asy-syifaa (Sang Obat) yang berjumlah 18 jilid buku
  3. An-Najat (Kitab Keselamatan)
Baca Juga:  Hassan Hanafi: Pemikir Muslim Kontemporer dari Kairo Mesir

Selain sebagai seorang Ilmuan ternama, beliau juga seorang yang hidup pada masa pergolakan politik khas timur tengah. Beliau membuat syair dan karya sastra sebagai perwakilan keadaan pada masa itu. Beberapa karya beliau dalam bidang sastra antara lain, Hayy ibn Yaqzhan, Risalah Ath-Thair (Surat Burung), Risalah fi Sirr Al-Qadar (Risalah Rahasia Takdir), Risalah fi Al-Isyq (Risalah Kerinduan), Tahshil As-Sa’adah (Kemudahan dalam Kebahagiaan)

Pengobatan Ibnu Sina yang “Aneh”

Ada sebuah riwayat yang menjelaskan perjalanan Ibnu Sina yang pernah mengobati Pangeran Gurgan di dekat Laut Kaspia. Pangeran yang masih berumur muda ini mengidap penyakit yang tidak bisa disembukan oleh dokter yang ada di Kerajaan.

Ibnu Sina mengobati dengan melakukan deteksi denyut nadi sang Pangeran. Kemudian Ibnu Sina memerintahkan sang pangeran untuk menyebut nama-nama kota di provinsi tersebut. Ketika sampai menyebut kota tertentu, detak jantung sang Pangeran bertambah kencang.

Dan baru diketahui bahwa sang pangeran sedang jatuh hati pada seorang gadis di wilayah tersebut. Bukannya memberi resep obat, Ibnu Sina merekomendasikan supaya sang pangeran menikahi gadis tersebut. Kasus ini membuktikan bahwa sakit bukan hanya soal fisik terkena penyakit, tapi juga karena rasa dan jiwa kurang stabil. Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan