Surah Al-Hajj Ayat 1-2; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Hajj Ayat 1-2

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Hajj Ayat 1-2 ini, pertama-tama sebelum kit membahas terkandungan ayat, terlebih dahulu kita pahami isi kandungn Surah Hajj ini. Jadi, Surah ini diawali dengan perintah untuk takut kepada Allah dan peringatan tentang berbagai peristiwa menakutkan yang akan terjadi pada hari kiamat. Kemudian dilanjutkan dengan pemaparan bukti pembangkitan berupa gambaran tentang proses penciptaan manusia dan tumbuh- tumbuhan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Surah ini juga menyinggung sikap memperdebatkan Allah beserta akibatnya. Diteruskan dengan pembicaraan tentang hal ihwal ibadah haji–persoalan yang digunakan sebagai judul surat ini–dan keharusan untuk mengagungkan rincian amalan-amalannya.

Setelah itu semua, surah ini berturut-turut membahas tentang izin Allah untuk melakukan peperangan demi membela diri, tentang pemberian hiburan kepada Nabi Muhammad atas perlakuan kaumnya dengan menyebutkan kisah perjalanan para rasul terdahulu dan penindasan kaum mereka, tentang bukti-bukti kekuasaan Allah, serta tentang batasan tugas rasul yang hanya berkewajiban memberi peringatan, bukan menciptakan orang baik.

Pada bagian akhir, surah ini melontarkan tantangan kepada para sekutu Allah, yang didakwakan oleh orang-orang musyrik, untuk menunjukkan betapa bodohnya orang-orang musyrik itu.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hajj Ayat 1-2

Surah Al-Hajj Ayat 1
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ

Terjemahan: Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).

Tafsir Jalalain: يَا أَيُّهَا النَّاسُ (Hai manusia!) yakni penduduk Mekah dan selainnya اتَّقُوا رَبَّكُمْ (Bertakwalah kepada Rabb kalian) takutlah kalian akan azab-Nya, yaitu dengan taat kepada-Nya إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ (sesungguhnya keguncangan hari kiamat itu) yakni saat gempa yang amat dahsyat menimpa bumi, lalu disusul dengan terbitnya matahari dari tempat terbenamnya, itulah pertanda kiamat telah di ambang pintu شَيْءٌ عَظِيمٌ (adalah suatu kejadian yang sangat besar) sangat mengejutkan manusia hal ini merupakan semacam azab.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala berfirman memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bertakwa kepada-Nya serta mengabarkan kepada mereka tentang huru-hara, kegoncangan dan peristiwa hari kiamat yang akan mereka hadapi.

Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang kegoncangan hari kiamat, apakah terjadi setelah bangkitnya manusia dari kubur mereka di hari penggiringan mereka ke tempat perkumpulan kiamat, atau hal itu hanya ungkapan tentang kegoncangan bumi sebelum bangkitnya manusia dari kubur mereka. Sebagaimana Allah berfirman:

إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا (“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya yang dahsyat. Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya.”)(al-Zalzalah: 1-2). Allah Ta’ala berfirman:

وَحُمِلَتِ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ فَدُكَّتَا دَكَّةً وَاحِدَةً فَيَوْمَئِذٍ وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ (“Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali bentur. Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat.”) dan ayat seterusnya (al-Haaqqah: 14-15)
Allah berfirman:

إِذَا رُجَّتِ الْأَرْضُ رَجًّا وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا (“Apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya. Dan gunung-gunung dihancurluluhkan sehancur-hancurnya.”) dan ayat seterusnya. (al-Waaqi’ah: 4-5). Beberapa orang berpendapat bahwa sesungguhnya keconcangan ini terjadi di akhir umur dunia dan di awal peristiwa kiamat.

Ibnu Jarir berkata dari ‘Alqamah tentang firman-Nya: inna zalzalatas saa’ati syai-un ‘adhiim (“Sesungguhnya kegoncangan hari kiamat hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar.”) yaitu sebelum hari kiamat.

Diriwayatkan pula oleh Abi Hatim dari hadits ats-Tsauri, dari Manshur dan al-A’masy, dari Ibrahim, dari ‘Alqamah dengan menyebutkan hadits tersebut. Diriwayatkan pula pendapat yang serupa dari asy-Sya’bi, Ibrahim dan ‘Abd bin ‘Umair. Abu Kadinah berkata dari ‘Atha’, bahwa ‘Amir bin asy-Sya’bi berkata tentang:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ (“Hai manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu; Sesungguhnya kegoncangan hari kiamat hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar.”) ia berkata: “Ini terjadi di dunia sebelum hari kiamat.” Imam Abu Ja’far bin Jarir memberikan dukungan dalil bagi orang yang berpendapat demikian dengan hadits tiupan terompet, bahwa Abu Hurairah berkata:

Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya ketika Allah telah menyelsaikan penciptaan langit dan bumi, Dia menciptakan terompet dan meletakkannya di mulut Israfil dengan menengadahkan matanya ke atas ‘Arsy guna menunggu kapan diperintahkan [peniupannya].”)

Abu Hurairah berkata: “Ya Rasulullah, apakah ash-Shuur itu?” Beliau menjawab: “Sebuah terompet.” Dia bertanya lagi: “Bagaimana hakekatnya?” Beliau menjawab: “Sebuah terompet besar yang ditiup sebanyak tiga kali; pertama, tiupan al-Faza’ [kekagetan]; kedua; tiupan ash-Sha’q [kematian]; dan ketiga, tiupan kebangkitan manusia menujur Rabb seluruh alam.

Allah memerintahkan pada Israfil untuk tiupan yang pertama dengan berfirman: “Tiuplah tiupan al-Faza’.” Maka kagetlah seluruh penghuni langit dan bumi kecuali orang-orang yang dikehendaki Allah, dan diperintahkan-Nya untuk melebarkan dan memanjangkannya serta dia pun tidak merasa lelah. Itulah yang difirmankan oleh Allah:

وَمَا يَنظُرُ هَؤُلَاءِ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً مَّا لَهَا مِن فَوَاقٍ (“Tidaklah yang mereka tunggu melainkan hanya satu teriakan saja yang tidak ada baginya saat berselang.”)(Shaad: 15). Lalu gunung-gunung hancur bertebaran menjadi debu dan bumi menggoncangkan penghuninya dengan amat dahsyat. Itulah yang difirmankan oleh Allah:

يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُ تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ قُلُوبٌ يَوْمَئِذٍ وَاجِفَةٌ (“Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam, tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua. Hati manusia pada waktu itu sangat takut.”) (an-Naazi’aat: 6-8). Lalu bumi itu menjadi perahu yang hancur di lautan akibat terpaan badai yang melenyapkan para penumpangnya , juga seperti lampu-lampu yang tergantung di ‘Arsy sebagai tempat bergelantungannya ruh-ruh, lalu manusia bergelantungan di permukaannya,

maka paniklah wanita-wanita yang menyusui, wanita-wanita yang hamil pun melahirkan, anak-anak kecil menjadi beruban dan syaitan-syaitan melarikan diri ke berbagai pelosok. Lalu para malaikat lari mundur mundur belakang dimana sebagian mereka memanggil sebagian yang lain. Itulah yang difirmankan oleh Allah yang artinya:

Baca Juga:  Surah Al-Anfal Ayat 9-10; Seri Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

“Hari panggil memanggil. Yaitu hari ketika kamu lari berpaling ke belakang, tidak ada bagimu seorang penolong pun yang menyelamatkanmu dari adzab Allah, dan siapa yang disesatkan oleh Allah niscaya tidak ada baginya seorang pun yang akan memberi petunjuk.” (al-Mu’min: 32-33)

Di saat mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba bumi pecah dari satu sudut ke sudut lainnya. Mereka melihat suatu peristiwa besar, sehingga kesulitan yang mereka alami saat itupun telah mampu menyiksanya. Kemudian mereka memandang ke langit, dimana bumi seperti besi yang mendidih.

Kemudian pudarlah sinar matahari dan bulan serta bertebaranlah binta-bintang. Lalu bumi mencabik-cabik mereka –Rasulullah saw.- mengucapkannya: “Sedangkan orang-orang yang mati tidak mengetahui hal itu sedikitpun.”

Abu Hurairah berkata: “Siapakah orang yang dikecualikan Allah dalam firman-Nya [yang artinya]: ‘Maka terkejutlah segala yang di langit dan segala yang dibumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah.’ (an-Naml: 87)?”

Beliau menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang mati syahid. Karena keterkejutan hanya sampai pada orang-orang yang hidup. Mereka adalah orang-orang yang hidup di sisi Rabb mereka dengan mendapatkan rizky dan Allah menjaga mereka dari keburukan hari tersebut serta mengamankan mereka. Itulah adzab Allah yang hanya ditimpakan kepada hamba-hamba-Nya yang jahat.

Itulah yang difirmankan oleh Allah [yang artinya]: ‘Hai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu; sesungguhnya keguncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar [dahsyat]. [ingatlah] pada hari [ketika] kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah semua kandungan wanita yang hamil,

dan kamu melihat semua manusia dalam keadaan mabuk, padahal mereka sebenarnya tidak mabuk, akan tetapi adzab Allah itu sangat keras.’” Hadits ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani, Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim dan lain-lain dengan uraian yang panjang sekali. wallaHu a’lam.

Sedangkan ulama lain berkata: “Bahkan itulah sebuah goncangan yang mengagetkan, getaran dan kehancurannya yang terjadi pada hari kiamat di lapangan hisab setelah bangkit dari kubur.” Ibnu Jarir memilih pendapat tersebut dan berdalil dengan beberapa hadits.

Sedangkan ulama yang lain berkata: “Bahkan, itulah sebuah goncangan yang mengagetkan, getaran dan kehancuran yang terjadi pada hari Kiamat dilapangan hisab setelah bangkit dari kubur.” Ibnu Jarir memilih pendapat tersebut dan berdalil dengan beberapa hadits.

Al-Bukhari berkata ketika menafsirkan ayat ini, bahwa Abu Sa’id berkata: Rasulullah bersabda: “Allah Ta’ala berfirman pada hari Kiamat: Hai Adam.’ Dia menjawab:Labbaika wa sa’daika.’ Lalu dia diseru dengan suara: Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk mengeluarkan sekelompok dari keturunanmu ke neraka.’

Dia bertanya:Wahai Rabbku, apakah kelompok neraka itu?’ Penyeru tadi menjawab: Dari setiap seribu orang [Ibnu Katsir berpendapat, Penyeru tadi men-jawab]: Terdapat 999 orang. Di saat itu wanita hamil melahirkan dan anak-anak kecil beruban (dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi adzab Allah itu sangat keras), maka hal tersebut amat memberatkan manusia, hingga wajah-wajah mereka tampak berubah.’”

Diriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda: “Di antara Ya’juj dan Ma’juj terdapat 999, dan di antara kalian terdapat satu orang. Kalian di antara manusia seperti rambut hitam di punggung sapi putih atau seperti rambut putih di punggung sapi hitam.

Sesungguhnya aku berharap kalian menjadi seperempat penghuni surga [lalu kami bertakbir kemudian beliau melanjutkan] sepertiga penghuni surga [lalu kami bertakbir kemudian beliau melanjutkan] separuh penghuni surga. Lalu kami bertakbir.” (Al-Bukhari meriwayatkan tidak hanya di satu tempat, serta Muslim dan an-Nasa’i didalam Tafsirnya dari berbagai jalan yang berasal dari al-A’masy.)

Imam Ahmad berkata dari ‘Aisyah, bahwa Nabi saw. bersabda : “Sesungguhnya kalian digiring kepada Allah pada hari Kiamat dalam keadaan tanpa alas kaki, telanjang dan tidak berkhitan.” Aisyah bertanya: “YaRasulullah, laki-laki dan wanita akan saling memandang satu dengan yang lainnya?” Beliau menjawab: “HaiAisyah, urusan di saat itu lebih dahsyat daripada memperhatikan mereka.” (Ditakhrij di dalam ash-Shahihain).

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa ‘Aisyah berkata: “Aku bertanya: Ya Rasulullah, apakah seorang kekasih akan mengingat kekasihnya pada hari Kiamat?’ Beliau menjawab: ‘Hai ‘Aisyah, adapun ketika dalam tiga situasi, hal itu tidak mungkin. Ketika dalam timbangan, hingga berat atau ringan, juga tidak.

Ketika ditebarkannya kitab-kitab catatan, baik diberikan pada tangan kanannya atau pada tangan kirinya, juga tidak. Sedangkan ketika leher keluar dari api neraka, lalu ia gulung dan membantai mereka, lalu leher itu berkata:Aku diserahkan untuk tiga orang, aku diserahkan untuk tiga orang, aku diserahkan untuk tiga orang.

Aku diserahkan kepada orang yang mengaku ilah lain bersama Allah, aku diserahkan kepada orang yang tidak beriman kepada hari perhitungan dan aku diserahkan kepada para raja sombong dan melampaui batas.’ Lalu, tergulunglah mereka dan dilemparkan ke dalam lembah-lembah Jahannam.

Sedangkan Jahannam memiliki jembatan yang lebih halus daripada rambut dan lebih tajam daripada pedang serta di atasnya terdapat kalaaliib (pengait-pengait) dan pohon-pohon berduri yang akan mengambil siapa yang dikehendaki oleh Allah.

Manusia di atasnya ada yang melewatinya seperti kilat, seperti kejapan mata, seperti angin, seperti larinya kuda pacu dan kuda terbang. Mereka dan para Malaikat berkata: Ya Rabbi, selamatkanlah, selamatkanlah!’ Maka seorang muslim ada yang selamat, seorang muslim ada yang dicabik-cabik dan terjerembab wajahnya di neraka.’”

Baca Juga:  Surah Asy-Syu'ara Ayat 185-191; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Hadits-hadits dan atsat-atsar tentang huru-hara hari Kiamat cukup banyak dan memiliki tempat lain untuk dibahas lebih lanjut. Untuk itu, Allah Ta’ala berfirman: إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ (“Sesungguhnya kegoncangan hari Kiamat itu adalah suatu kejadian yang amat dahsyat,”) yaitu urusan besar, pembicaraan agung, cerita mengerikan, peristiwa dahsyat dan kejadian mengherankan.

Az-zilzal adalah sesuatu yang ketakutan dan kekagetan yang terjadi dalam jiwa. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالًا شَدِيدًا (“Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan hatinya dengan goncangan yang sangat.”) (QS. Al-Ahzab:11).

Tafsir Kemenag: Ayat ini menghimbau agar manusia mawas diri serta menjaga dirinya dari azab Allah, dengan mengikuti perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Perintah itu berlaku sejak ayat ini diturunkan sampai datangnya hari Kiamat, yang ditandai dengan terjadinya gempa bumi yang amat dahsyat, menghancurleburkan seluruh yang ada dalam jagat raya ini.

Allah memerintahkan yang demikian adalah karena guncangan dan malapetaka yang terjadi pada hari yang sangat hebat itu tiada taranya. Dalam firman Allah yang lain diterangkan guncangan dan gempa bumi yang terjadi pada hari itu. Allah berfirman:

Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat, dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya. (az-Zalzalah/99: 1-2). Dan firman Allah: Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali benturan. Maka pada hari itu terjadilah hari Kiamat. (al-H?qqah/69: 14-15)

Dari ayat itu dipahami bahwa orang-orang yang bertakwa, tidak merasa ngeri dan takut pada hari Kiamat itu, karena mereka telah percaya bahwa hari Kiamat itu pasti terjadi, bahwa mereka telah yakin benar akan mendapat perlindungan dan pertolongan Allah pada hari itu, serta yakin pula bahwa tidak seorang pun yang dapat memberi perlindungan dan pertolongan pada hari itu selain dari Allah Yang Mahakuasa, Maha Pengasih kepada hamba-hamba-Nya.

Sebaliknya orang-orang yang ingkar kepada Allah; tidak mengikuti perintah-Nya dan tidak menghentikan larangan-larangan-Nya akan merasakan akibat guncangan bumi dan kehancuran dunia pada waktu itu, sebagai siksaan yang tiada taranya.

Mereka tidak dapat menghindarkan diri daripadanya sedikit pun dan tidak ada seorang pun yang dapat menolong mereka, karena Allah hanya akan menolong dan melindungi hamba-hamba-Nya.

Menurut suatu riwayat, bahwa ayat ini diturunkan pada malam hari, pada waktu terjadi peperangan Bani Mustalik, lalu Nabi Muhammad saw membacakan ayat ini kepada para sahabat. Setelah beliau membacakan ayat ini, beliau pun menangis dan para sahabat juga ada yang ikut menangis, ada yang gundah gulana dan ada pula yang merenungi ayat ini.

Hal ini menunjukkan bagaimana kekhawatiran Nabi Muhammad saw dan para sahabat terhadap malapetaka yang besar yang terjadi pada hari Kiamat itu, sekalipun dalam diri mereka telah terpatri dengan kokoh iman dan kesabaran, dan mereka pun telah percaya bahwa Allah pasti menolong kaum Muslimin.

Hari Kiamat adalah hari kehancuran dunia, merupakan masa peralihan dari masa kehidupan dunia yang fana ini beralih ke masa kehidupan akhirat yang kekal lagi abadi. Pada waktu itu terjadi suatu kejadian yang amat mengerikan, seluruh planet dan benda-benda angkasa satu dengan yang lain berbenturan, sehingga pecah berserakan menjadi kepingan-kepingan yang halus.

Pada waktu itu lenyaplah segala yang ada di alam ini. Hanya yang tidak lenyap waktu itu ialah Tuhan Yang Mahakuasa, Maha Perkasa. Setelah alam fana ini lenyap semuanya, Allah menggantikannya dengan alam yang lain, yaitu alam akhirat. Pada waktu itu seluruh manusia dibangkitkan kembali dari kuburnya untuk ditimbang amal perbuatannya.

Perbuatan baik dibalas dengan surga yang penuh kenikmatan, sedang perbuatan jahat dan buruk dibalas dengan siksa yang pedih di dalam neraka yang menyala-nyala. Pada waktu itulah manusia memperoleh keadilan yang hakiki dari Tuhannya, yang selama hidup di dunia mereka tidak memperolehnya.

Kepercayaan akan adanya hari Kiamat termasuk salah satu dari rukun iman yang wajib diimani dan diyakini oleh setiap orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada Allah dan kepada Nabi Muhammad saw yang telah diutusnya.

Hari Kiamat itu termasuk salah satu dari perkara yang gaib, karena itu sukar untuk mengemukakan bukti-bukti yang nyata tentang hari Kiamat. Akan tetapi jika seseorang telah percaya dengan sungguh-sungguh bahwa Allah Mahakuasa dan Mahaadil, Dia cinta dan kasih sayang kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, maka orang itu akan sampai kepada kepercayaan akan adanya hari Kiamat.

Tafsir Quraish Shihab: Hai manusia, takutlah kalian akan siksa Tuhan. Dan ingatlah selalu akan hari kiamat, karena kegoncangan yang terjadi pada hari itu sangat dahsyat, mencekam dan menggetarkan semua makhluk hidup.

Surah Al-Hajj Ayat 2
يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُم بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ

Terjemahan: (Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya.

Tafsir Jalalain: يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ (Pada hari kalian melihat keguncangan itu lalailah) disebabkannya كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ (semua wanita yang menyusui anaknya) yang sebenarnya (dari anak yang disusukannya) ia melupakannya وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ (dan gugurlah dari semua wanita yang sedang mengandung) yakni sedang hamil حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى (kandungannya dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk) disebabkan tercekam perasaan takut yang amat hebat,

Baca Juga:  Surah Thaha Ayat 74-76; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

وَمَا هُم بِسُكَارَى (padahal sebenarnya mereka tidak mabuk) disebabkan minuman keras وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ (akan tetapi azab Allah itu sangat keras) maka mereka takut kepada azab itu.

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian Allah Ta’ala berfirman: يَوْمَ تَرَوْنَهَا (“Dada hari kamu melihat kegoncangan itu,”) ini termasuk dhamir sya’n (yang menggambarkan keadaan).Untuk itu Dia berfirman menafsirkannya: تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّا أَرْضَعَتْ (“Lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya,”) yaitu kesibukannya terhadap huru-hara tersebut membuatnya tidak melihat lagi manusia yang amat dicintainya. Padahal ia adalah termasuk manusia yang paling lembut dan sangat perhatian terhadap kondisi anak yang disusuinya.

Untuk itu, Dia berfirman: كُلُّ مُرْضِعَةٍ (“Semua wanita yang menyusui anaknya,”) dan tidak mengatakan “mur-dli’in” (bentuk mudzakkar). Dia berfirman: ‘عَمَّا أَرْضَعَتْ (“Dari anak yang disusuinya,”) yaitu dari anak yang disusuinya sebelum disapih.

Firman-Nya: وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا (“Dan gugurlah kandungan semua wanita yang hamil,”) yaitu sebelum sempurna kehamilannya karena dahsyatnya huru-hara tersebut. وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى (“Dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk,”) dibaca “su”aaraa”, yaitu disebabkan kedahsyatan urusan yang menjadikan akal-akal mereka goncang dan rasio-rasio mereka lenyap.

Barangsiapa yang melihat mereka, dia pasti mengira bahwa mereka dalam keadaan mabuk; وَمَا هُم بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ (“Padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi adzab Allah itu sangat keras.”)

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini diterangkan betapa dahsyatnya peristiwa yang terjadi pada hari Kiamat itu dan betapa besar pengaruhnya kepada seseorang, di antaranya:Pada hari itu ibu yang sedang menyusukan anaknya lalai dari anaknya. Padahal hubungan antara ibu dan anak adalah hubungan yang paling dekat dibandingkan dengan hubungan manusia dengan manusia yang lain. Demikian pula hubungan kasih sayang ibu dengan anaknya adalah hubungan kasih sayang yang tidak akan putus-putusnya. Di antara perwujudan hubungan kasih sayang ibu dengan anaknya itu ialah ibu menyusukan tanpa pamrih anaknya yang masih kecil dan air susu ibu itu merupakan makanan pokok bagi si bayi. Tanpa adanya makanan itu si bayi bisa mati kelaparan dan hal ini benar-benar disadari akibatnya oleh setiap ibu. Karena itu ibu berkewajiban menyusukan anaknya yang merupakan jantung hatinya itu, setiap saat yang diperlukan. Pada hari Kiamat yang demikian mengerikan dan dahsyatnya peristiwa yang terjadi, seakan hubungan yang demikian itu terputus. Di dalam diri si ibu waktu itu timbul rasa takut dan ngeri melihat suasana yang kacau balau itu, sehingga si ibu lupa menyusukan anaknya, dan lupa segala-galanya termasuk anaknya yang sedang menyusu.

1, Pada hari Kiamat itu gugurlah semua kandungan perempuan yang hamil. Biasanya keguguran kandungan perempuan yang hamil terjadi, jika terjadi peristiwa yang sangat mengejutkan dan menakutkan hati atau karena terjatuh atau mengalami guncangan yang keras, seperti guncangan kendaraan dan sebagainya.

Pada hari Kiamat itu terjadi gempa bumi dan guncangan yang hebat yang menghancurkan manusia yang hidup, termasuk di dalamnya perempuan-perempuan yang hamil beserta anak yang sedang dikandungnya.

Al-Hasan berkata, yang dimaksud dengan “lalailah semua perempuan yang menyusukan anak dari anak yang disusukannya”, ialah kelalaian yang bukan disebabkan karena menyapih anak itu, dan yang dimaksud dengan “gugurlah semua kandungan perempuan yang hamil” ialah anak yang dikandung itu lahir sebelum sempurna waktunya.

2, Pada hari itu manusia kelihatan seperti orang yang sedang mabuk, padahal ia bukan sedang mabuk. Hal ini menunjukkan kebingungan mereka tidak tahu apa yang harus mereka kerjakan, semua dalam keadaan takut, dalam keadaan mencari-cari tempat berlindung, dan berusaha menghindarkan diri dari malapetaka yang sedang menimpa itu.

Keadaan dan peristiwa yang diterangkan di atas adalah untuk melukiskan dan menggambarkan kepada manusia, betapa dahsyatnya malapetaka yang terjadi pada hari Kiamat itu, sehingga gambaran itu dapat menjadi pelajaran dan peringatan bagi mereka,

kendati pun kejadian yang sebenarnya lebih dahsyat lagi dari yang digambarkan itu. Sedang kejadian yang sebenarnya yang terjadi pada hari Kiamat itu tidak dapat digambarkan kedahsyatannya, karena tidak ada suatu kejadian yang terjadi sebelumnya yang dapat dijadikan sebagai perbandingan.

Tafsir Quraish Shihab: Pada hari ketika kalian menyaksikan hari kiamat, kalian akan melihat suatu hal yang sangat menakutkan hingga membuat seorang yang sedang menyusui terkejut dan membuang anaknya, dan orang yang sedang hamil melahirkan sebelum waktunya, akibat rasa takut dan terkejut.

Di hari itu kalian juga akan melihat orang-orang dengan pandangan yang kosong dan langkah yang gontai, seolah-olah mereka dalam keadaan mabuk. Mereka tidak mabuk, tetapi hal menakutkan yang mereka saksikan dan rasa takut terhadap siksa Allah yang sangat kejam membuat mereka kehilangan keseimbangan.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Hajj Ayat 1-2 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S