Surah Asy-Syura Ayat 47-48; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Asy-Syura Ayat 47-48

Pecihitam.org – Kandungan Surah Asy-Syura Ayat 47-48 ini, Allah menerangkan bahwa Dia telah memerintahkan agar manusia patuh dan taat serta menerima seruan Rasul-Nya, agama Allah yang disampaikan sebelum datang hari dimana tidak seorang pun dapat menahan, menolak dan menghalangi kedatangannya yaitu hari Kiamat.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Apabila Nabi Muhammad saw telah menunaikan tugas menyampaikan risalah menyeru orang-orang musyrik kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus, tetapi mereka itu tidak menyambut baik dan tidak mau menerimanya bahkan mereka itu tetap menolak dan berpaling dari kebenaran, maka hendaklah Rasul membiarkan sikap mereka tanpa perlu gusar dan cemas.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syura Ayat 47-48

Surah Asy-Syura Ayat 47
ٱسۡتَجِيبُواْ لِرَبِّكُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِىَ يَوۡمٌ لَّا مَرَدَّ لَهُۥ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَكُم مِّن مَّلۡجَإٍ يَوۡمَئِذٍ وَمَا لَكُم مِّن نَّكِيرٍ

Terjemahan: Patuhilah seruan Tuhanmu sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak kedatangannya. Kamu tidak memperoleh tempat berlindung pada hari itu dan tidak (pula) dapat mengingkari (dosa-dosamu).

Tafsir Jalalain: ٱسۡتَجِيبُواْ لِرَبِّكُم (Patuhilah seruan Rabb kalian) perkenankanlah seruan-Nya, yaitu dengan mentauhidkan-Nya dan menyembah-Nya مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِىَ يَوۡمٌ (sebelum datang suatu hari) yakni hari kiamat لَّا مَرَدَّ لَهُۥ مِنَ ٱللَّهِ (dari Allah yang tidak dapat ditolak kedatangannya) apabila hari itu datang tidak dapat ditolak. مَا لَكُم مِّن مَّلۡجَإٍ (Kalian tidak memperoleh tempat berlindung) yang kalian dapat berlindung di dalamnya وَمَا لَكُم مِّن نَّكِيرٍ (pada hari itu dan tidak pula dapat mengingkari) dosa-dosa kalian.

Tafsir Ibnu Katsir: Setelah Allah menceritakan apa yang terjadi pada hari kiamat berupa huru-hara dan hal-hal besar yang mengerikan, Dia memperingatkan mereka tentang peristiwa tersebut dan memerintahkan mereka untuk mempersiapkan diri. Dia berfirman:

ٱسۡتَجِيبُواْ لِرَبِّكُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِىَ يَوۡمٌ لَّا مَرَدَّ لَهُۥ مِنَ ٱللَّهِ (“Patuhilah seruah Rabbmu sebelum datang dari Allah hari yang tidak dapat ditolak kedatangannya.”) yakni, jika Dia diperintahkan terjadinya, maka semuanya menjadi seperti kejapan mata, tidak ada yang mampu menolak dan mencegahnya.

Firman Allah: مَا لَكُم مِّن مَّلۡجَإٍ يَوۡمَئِذٍ وَمَا لَكُم مِّن نَّكِيرٍ (“kamu tidak memperoleh tempat berlindung pada hari itu dan tidak [pula] dapat mengingkari [dosa-dosamu].”) yaitu tidak ada benteng yang mampu melindungimu dan tidak ada tempat yang mampu menutupimu dan mengingkari semua itu, hingga kalian mampu menghilang dari pandangan Allah. Bahkan, Dia Mahameliputi kalian dengan ilmu, pandangan dankekuasaan-Nya, tidak ada lagi tempat kembali kecuali kepada-Nya.

Tafsir Kemenag: Allah menerangkan bahwa Dia telah memerintahkan agar manusia patuh dan taat serta menerima seruan Rasul-Nya, agama Allah yang disampaikan sebelum datang hari dimana tidak seorang pun dapat menahan, menolak dan menghalangi kedatangannya yaitu hari Kiamat.

Baca Juga:  Surah At-Taghabun Ayat 7-10; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Pada hari itu mereka tidak mempunyai suatu tempat pun untuk berlindung yang akan menyelamatkan mereka dari kesusahan, dan mereka itu tidak dapat mengingkari kejahatan-kejahatan yang telah diperbuatnya di dunia, karena semuanya itu sudah tertera dengan jelas di dalam buku catatan amalan masing-masing dan lidah serta anggota tubuh mereka pun menjadi saksi. Bagaimana pun juga mereka tidak akan dapat melarikan diri dan menghindar dari kedahsyatan hari itu. Dalam hubungan ini Allah berfirman:

Pada hari itu manusia berkata, “Ke mana tempat lari?” Tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Tuhanmu tempat kembali pada hari itu. (al-Qiyamah/75: 10-12).

Tafsir Quraish Shihab: Segeralah, wahai umat manusia, dalam memenuhi seruan utusan Sang Pencipta dan Pemelihara kalian untuk beriman dan taat, sebelum habis kesempatan untuk berbuat, dan sebelum datang hari perhitungan yang tidak akan diurungkan oleh Allah setelah ditetapkan-Nya.

Pada hari itu, kalian tidak mendapatkan suatu tempat untuk mengungsi yang melindungi kalian dari siksaan, dan tidak mendapatkan alasan untuk mengingkari apa yang kalian perbuat.

Surah Asy-Syura Ayat 48
فَإِنۡ أَعۡرَضُواْ فَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ عَلَيۡهِمۡ حَفِيظًا إِنۡ عَلَيۡكَ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ وَإِنَّآ إِذَآ أَذَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ مِنَّا رَحۡمَةً فَرِحَ بِهَا وَإِن تُصِبۡهُمۡ سَيِّئَةٌۢ بِمَا قَدَّمَتۡ أَيۡدِيهِمۡ فَإِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ كَفُورٌ

Terjemahan: Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah). Sesungguhnya apabila Kami merasakan kepada manusia sesuatu rahmat dari Kami dia bergembira ria karena rahmat itu. Dan jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri (niscaya mereka ingkar) karena sesungguhnya manusia itu amat ingkar (kepada nikmat).

Tafsir Jalalain: فَإِنۡ أَعۡرَضُواْ (Jika mereka berpaling) tidak mau mematuhi seruan-Nya itu فَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ عَلَيۡهِمۡ حَفِيظًا (maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pemelihara bagi mereka) sebagai orang yang memelihara amal perbuatan mereka, umpamanya kamu menjadi orang yang memperturutkan apa yang dikehendaki oleh mereka. إِنۡ (Tidak lain) tiada lain عَلَيۡكَ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ (kewajibanmu hanyalah menyampaikan risalah) hal ini sebelum ada perintah untuk berjihad.

وَإِنَّآ إِذَآ أَذَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ مِنَّا رَحۡمَةً (Sesungguhnya apabila Kami merasakan kepada manusia sesuatu rahmat dari Kami) berupa nikmat seperti kekayaan atau kecukupan dan kesehatan فَرِحَ بِهَا وَإِن تُصِبۡهُمۡ (dia bergembira ria karena rahmat itu. Dan jika mereka ditimpa) Dhamir yang kembali kepada lafal Al-Insaan memandang kepada segi maknanya atau jenisnya سَيِّئَةٌۢ (kesusahan) malapetaka atau musibah بِمَا قَدَّمَتۡ أَيۡدِيهِمۡ (disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri) disebabkan yang mereka lakukan;

Baca Juga:  Surah Asy-Syura Ayat 7-8; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Dalam Ayat ini diungkapkan kata ‘tangan mereka sendiri’ karena kebanyakan pekerjaan manusia itu dilakukan oleh tangannya فَإِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ كَفُورٌ (karena sesungguhnya manusia itu amat ingkar) kepada nikmat yang telah diberikan kepadanya.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: فَإِنۡ أَعۡرَضُواْ (“Jika mereka berpaling.”) yaitu orang-orang musyrik. فَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ عَلَيۡهِمۡ حَفِيظًا (“Maka Kami tidak mengutusmu sebagai pengawas bagi mereka.”) artinya kamu bukanlah pengawas bagi mereka. فَإِنَّمَا عَلَيۡكَ ٱلۡبَلَٰغُ وَعَلَيۡنَا ٱلۡحِسَابُ (“Karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka.”)(ar-Ra’du: 40). Sedangkan di Ayat ini Allah berfirman:

إِنۡ عَلَيۡكَ إِلَّا ٱلۡبَلَٰغُ (“Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan [risalah].”) yaitu, Kami hanya menugaskanmu untuk menyampaikan risalah Allah kepada mereka.

Kemudian Allah berfirman: وَإِنَّآ إِذَآ أَذَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ مِنَّا رَحۡمَةً فَرِحَ بِهَا (“Sesungguhnya, apabila Kami merasakan kepada manusia suatu rahmat dari Kami, dia bergembira ria karena rahmat itu.”) yakni jika dia diberikan nikmat dan kesenangan, dia bersuka cita.

وَإِن تُصِبۡهُمۡ (“Dan jika mereka ditimpa.”) yaitu, manusia. سَيِّئَةٌۢ (“kesusahan”) yaitu kekeringan, bencana, kesulitan dan bahaya, فَإِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ كَفُورٌ (“karena sesungguhnya manusia itu sangat ingkar [kepada nikmat].”) artinya, dia mengingkari nikmat yang lalu dan tidak mengakui kecuali apa yang [ada] saat sekarang saja. maka, jika dia mendapatkan kenikmatan, dia angkuh dan sombong, dan jika mendapatkan bencana, dia berputus asa dan kecewa. Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda kepada kaum wanita:

“Hai kaum wanita, bersedekahlah kalian, karena aku melihat kalian adalah penghuni neraka yang paling banyak.” Lalu seorang wanita bertanya: “Mengapa ya Rasulallah?” Beliau menjawab: “Karena kalian banyak mengeluh dan mengingkari kebaikan suami. Seandainya salah seorang dari kalian diperlakukan baik sepanjang tahun, lalu diabaikan sehari saja, dia berkata: ‘Aku tidak melihat sedikitpun kebaikan darimu.’”

Inilah kondisi mayoritas kaum wanita, kecuali wanita-wanita yang diberikan hidayah oleh Allah dan diarahkan-Nya kepada kebaikan, dan dia berada dalam golongan orang yang beriman dan beramal shalih, itulah orang mukmin. Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda:

“Jika ia mendapat kesenangan ia bersyukur, dan itu lebih baik baginya. Jika ia mendapatkan kesusahan dia bersabar dan itu lebih baik baginya. Dan hal itu tidak dimiliki oleh seseorang kecuali oleh orang mukmin.”

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini Allah menerangkan bahwa apabila Nabi Muhammad saw telah menunaikan tugas menyampaikan risalah menyeru orang-orang musyrik kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus, tetapi mereka itu tidak menyambut baik dan tidak mau menerimanya bahkan mereka itu tetap menolak dan berpaling dari kebenaran, maka hendaklah Rasul membiarkan sikap mereka tanpa perlu gusar dan cemas.

Baca Juga:  Surah Asy-Syura Ayat 23-24; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Hal ini dikarenakan Rasul tidak diberi tugas mengawasi dan meneliti amal perbuatan orang-orang musyrik itu, tetapi dia hanya diberi tugas menyampaikan apa yang diturunkan dan diperintahkan Allah kepadanya. Apabila Nabi Muhammad saw telah melaksanakan kewajibannya, maka beliau sudah dianggap menunaikan misinya, sebagaimana firman Allah:

Maka sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, dan Kamilah yang memperhitungkan (amal mereka). (ar-Ra’d/13: 40)

Dan firman-Nya: Daka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah pemberi peringatan. Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka, (al-Gasyiyah/88: 21-22)

Dan firman-Nya pula: Bukanlah kewajibanmu (Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. (al-Baqarah/2: 272)

Selanjutnya Allah menerangkan tabiat dan watak manusia yaitu apabila manusia itu diberi kekayaan, dikaruniai kesenangan hidup, kesejahteraan jasmani, perasaan aman sentosa, mereka senang dan gembira atas karunia tersebut, bahkan sering menimbulkan perasaan angkuh dan takabur.

Tetapi sebaliknya apabila mereka ditimpa kemiskinan, penyakit, musibah yang bermacam-macam berupa banjir, kebakaran dan akibat dosa dan maksiat yang dikerjakannya, mereka mengingkari semua karunia yang telah diberikan Allah kepadanya, lupa akan karunia itu, malah mereka lupa mengerjakan kebaikan.

Demikianlah sifat orang kafir dan tidak beriman kepada Allah. Berbeda dengan orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah, mereka bersyukur, beriman dan beribadah semakin mantap. Apabila mereka tidak atau belum memperoleh karunia, mereka bersabar karena mereka percaya kepada ketentuan Allah; segala sesuatu dikembalikan kepada Allah, mereka menyesuaikan diri dengan firman Allah: Dan kepada Allah-lah segala perkara dikembalikan. (al-Baqarah/2: 210).

Tafsir Quraish Shihab: Maka, jika orang-orang musyrik itu menolak memenuhi seruanmu, wahai Rasulullah, kamu tidak perlu bersedih, karena kamu bukanlah pengawas atas perbuatan mereka. Kamu hanya bertugas menyampaikan pesan-pesan suci Tuhan. Dan kamu telah menjelaskanya.

Tabiat manusia, memang, apabila Kami berikan kelapangan hidup, cenderung tidak berterima kasih. Dan apabila tertimpa musibah, akibat perbuatan maksiatnya, mereka cenderung melupakan nikmat. Mereka tidak tabah menghadapi turunnya cobaan dan tetap tidak berterima kasih.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Asy-Syura Ayat 47-48 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S