Surah Fatir Ayat 7-8; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Fatir Ayat 7-8

Pecihitam.org – Kandungan Surah Fatir Ayat 7-8 ini, diterangkan bahwa orang-orang yang ingkar kepada Allah dan rasul-Nya akan mendapat azab yang keras dan pedih di dalam neraka. Azab itu sebagai balasan atas keingkaran mereka pada bujukan setan, lalu mengikuti langkah-langkahnya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Adapun orang-orang yang membenarkan perintah-perintah yang dibawa oleh rasul-Nya dan mengerjakan amal saleh akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Fatir Ayat 7-8

Surah Fatir Ayat 7
ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَهُم مَّغۡفِرَةٌ وَأَجۡرٌ كَبِيرٌ

Terjemahan: “Orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang keras. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.

Tafsir Jalalain: ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَهُمۡ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَهُم مَّغۡفِرَةٌ وَأَجۡرٌ كَبِيرٌ (Orang-orang yang kafir bagi mereka azab yang keras. Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh bagi mereka ampunan dan pahala yang besar) ini penjelasan tentang nasib orang-orang yang menuruti kemauan setan dan orang-orang yang menentangnya, kelak di akhirat.

Tafsir Ibnu Katsir: Ketika Allah telah menyebutkan bahwa tempat kembali para pengikut iblis adalah neraka yang menyala-nyala, Dia pun menceritakan setelah itu bahwa orang-orang yang kafir akan mendapat azab yang sangat pedih. Karena mereka mentaati syaitan dan bermaksiat kepada Allah Yang Mahapemurah. Dan sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasulnya,

وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَهُم مَّغۡفِرَةٌ (“Dan mengerjakan amal shalih, bagi mereka ampunan,”) dari dosa mereka, وَأَجۡرٌ كَبِيرٌ (“Dan pahala yang bersar.”) atas kebaikan yang telah mereka lakukan.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini diterangkan bahwa orang-orang yang ingkar kepada Allah dan rasul-Nya akan mendapat azab yang keras dan pedih di dalam neraka. Azab itu sebagai balasan atas keingkaran mereka pada bujukan setan, lalu mengikuti langkah-langkahnya.

Adapun orang-orang yang membenarkan perintah-perintah yang dibawa oleh rasul-Nya dan mengerjakan amal saleh akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar. Dosa-dosa mereka diampuni oleh Allah, pahala mereka dilipatgandakan dan telah disiapkan surga sebagai balasan atas iman yang mantap di dalam hati mereka dan amal saleh yang ikhlas karena Allah semata.

Baca Juga:  Surah Fatir Ayat 33-35; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Firman Allah: Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. (al-Baqarah/2: 25)

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang yang mengingkari Allah dan para rasul-Nya akan mendapatkan azab yang pedih. Sebaliknya, orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nnya, serta melakukan amal saleh, mereka berhak mendapatkan ampunan dosa-dosa dan pahala yang besar dari sisi Allah sebagai ganjaran dari perbuatan mereka.

Surah Fatir Ayat 8
أَفَمَن زُيِّنَ لَهُۥ سُوٓءُ عَمَلِهِۦ فَرَءَاهُ حَسَنًا فَإِنَّ ٱللَّهَ يُضِلُّ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِى مَن يَشَآءُ فَلَا تَذۡهَبۡ نَفۡسُكَ عَلَيۡهِمۡ حَسَرَٰتٍ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌۢ بِمَا يَصۡنَعُونَ

Terjemahan: “Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan)? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.

Tafsir Jalalin: Ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abu Jahal dan orang-orang sepertinya. أَفَمَن زُيِّنَ لَهُۥ سُوٓءُ عَمَلِهِۦ (Maka apakah orang yang dihiasi pekerjaannya yang buruk) karena setan telah menyulapnya فَرَءَاهُ حَسَنًا (lalu ia menganggapnya baik?) lafal Man adalah Mubtada, sedangkan Khabarnya ialah, sebagaimana orang yang mendapat petunjuk dari Allah. Tentu saja tidak sama. Khabar ini disimpulkan dari ayat selanjutnya, yaitu,

فَإِنَّ ٱللَّهَ يُضِلُّ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِى مَن يَشَآءُ فَلَا تَذۡهَبۡ نَفۡسُكَ عَلَيۡهِمۡ (Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa sebab ulah mereka itu) yaitu atas orang-orang yang menganggap baik perbuatannya yang buruk itu حَسَرَٰتٍ (karena kesedihan) yaitu kamu merasa sedih karena mereka tidak mau beriman إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌۢ بِمَا يَصۡنَعُونَ (Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat) kelak Dia akan membalasnya kepada mereka.

Baca Juga:  Surah Ali Imran ayat 101-108; Seri Tadabbur Al Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian Allah berfirman: أَفَمَن زُيِّنَ لَهُۥ سُوٓءُ عَمَلِهِۦ فَرَءَاهُ حَسَنًا (“Maka apakah orang yang dijadikan [syaitan] menganggap baik pekerjaannya yang buruk,”) yaitu seperti orang-orang kafir dan orang-orang jahat yang beramal dengan amal-amal buruk, disamping itu mereka berkeyakinan dan menyangka bahwa apa yang mereka lakukan adalah kebaikan. Maksudnya, mengenai keadaan orang yang seperti itu telah Allah sesatkan.

فَإِنَّ ٱللَّهَ يُضِلُّ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِى مَن يَشَآءُ (“Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.”) yaitu dengan takdir-Nya, terjadilah seperti itu. فَلَا تَذۡهَبۡ نَفۡسُكَ عَلَيۡهِمۡ حَسَرَٰتٍ (“Maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka.”) yaitu janganlah engkau bersedih terhadap hal itu, karena sesungguhnya Allah Mahabijaksana dalam ketentuan-Nya.

Dia hanya menyesatkan orang yang sesat dan memberi petunjuk kepada orang yang berada di jalan petunjuk. Karena, di dalamnya mengandung hujjah dan ilmu yang sempurna. Untuk itu Allah berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌۢ بِمَا يَصۡنَعُونَ (“Sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang mereka perbuat.”)

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini, Allah menerangkan perbedaan besar antara dua golongan disebut pada ayat sebelumnya. Orang-orang yang teperdaya dan dapat ditipu oleh setan, sehingga pekerjaan mereka yang buruk dianggapnya baik, tentunya tidak sama dengan orang-orang yang tidak dapat ditipu oleh setan.

Sebagaimana firman Allah: Katakanlah (Muhammad), “Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya?” (Yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya. (al-Kahf/18: 103-104) Tersesat atau mendapat petunjuk ada di tangan Allah.

Dia menyesatkan atau memberikan petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, sesuai dengan kebijaksanaan-Nya, berdasarkan keadaan hamba yang bersangkutan. Orang-orang yang ditetapkan tersesat, dia selalu mengerjakan perbuatan buruk dan keji. Sebaliknya orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah, selalu mengerjakan amalan yang baik.

Baca Juga:  Surah Fatir Ayat 42-43; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Oleh karena itu, Nabi Muhammad dilarang Allah untuk sedih dan cemas menghadapi kaumnya yang belum mau beriman dan menerima ajakannya, sehingga tidak membinasakan dirinya. Hal semacam ini diterangkan juga di ayat yang lain, firman Allah:

Maka barangkali engkau (Muhammad) akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur’an). (al-Kahf/18: 6) Ayat ini ditutup dengan penegasan Allah bahwa Ia Mengetahui apa yang mereka perbuat, termasuk perbuatan buruk dan keji yang akan dibalas-Nya dengan balasan yang setimpal.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka tidak dapat membedakan antara orang yang perbuatan buruknya dihias oleh setan sehingga terlihat baik, dengan orang yang mandapat petunjuk Allah sehingga dapat melihat kebaikan dan keburukan sebagai apa adanya.

Sesungguhnya Allah akan menyesatkan siapa saja yang dikehendaki-Nya jika orang itu memang memilih kesesatan sebagai jalannya, sebagaimana Dia akan memberi petunjuk siapa saja yang dikehendaki-Nya jika orang itu menjadikan petunjuk kebenaran sebagai jalannya. Dari itu, janganlah kamu, Muhammad, mencelakakan dirimu sendiri karena merasa sedih dan menuyesali kesesatan mereka. Sesungguhnya ilmu Allah meliputi kejahatan yang mereka perbuat untuk kemudian memberikan balasannya.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama
kandungan Surah Fatir Ayat 7-8 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S