Benarkah Taman Surga Hanya Berada di Madinah?

Benarkah Taman Surga Hanya Berada di Madinah?

PeciHitam.org Surga adalah impian semua orang beragama, karena di dalamnya akan selalu merasakan kenimatan jauh dari siksaan. Surga masuk dalam kategori perkara ghaib namun Allah SWT memberikan gambaran-gamabaran tentang kenikmatan surga.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Alam surga dan neraka masuk dalam kategori fase alam akhirat atau Yaumul Ba’ats yang mana akan dilalui manusia setelah intaqala ila akhar atau setelah meninggala dunia. Manusia harus menunggu guna merasakan taman-taman surga setelah meninggal dunia, dengan bekal cukup dan ridhaNya.

Normatifnya, ketika ingin menikmati Raudhah al-Jannah atau Taman Surga harus masuk kedalam surga dahulu. Namun Nabi SAW memberikan informasi bahwa di dunia ini, manusia juga dapat mengecap manisnya taman surga.

Hal ini menandakan bahwa Raudhah Al-Jannah adalah sebuah kenikmatan tertinggi yang diberikan Allah SWT kepada mereka yang beriman, meski masih didunia.

Daftar Pembahasan:

Dalil Taman Surga / Raudhah al-Jannah

Raudhah al-Jannah atau taman surga dalam kerangka pengertiannya memiliki sedikit perbedaan obyeknya. Kaarena satu sisi Rasulullah menyebutkan sebuah tempat khusus, dan dalam riwayat lainnya disebutkan tempat umum dengan amalan tertentu.

Merujuk pada riwayat Imam Bukhari dalam kitab shahih Bukhari dijelaskan bahwa Raudhah al-Jannah adalah tempat Mimbar Nabi SAW dan Rumah beliau. Haditsnya adalah;

عن عبد الله بن زيد المازني رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ما بين بيتي ومنبري روضة من رياض الجنة

Artinya; “dari Abdullah bin Zaid al-Mazini RA, Rasulullah SAW bersabda, “Di antara rumahku dan mimbarku terdapat taman (raudhah) di antara taman surga.”(HR. Bukhari)

Pada era sekarang yang disebut Taman Surga, Raudhah al-Jannah sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah SAW pada hadits di atas adalah sebuah bangunan di dalam masjid Nabawi.

Pada masa dahulu, yang dimaksud raudhah al-Jannah adalah sebuah jalan tanah lapang dari rumah Rasulullah SAW ke Mimbar Nabi di Masjid Nabi SAW.

Pada masa sekarang, Masjid Nabawi sudah mengalami perluasan dan sudah meliputi rumah Nabi SAW yang sekarang menjadi makam beliau. Dalam bangunan Masjid Nabawi sekarang, Raudhah al-Jannah berbentuk sebuah bangunan berupa lorong yang memanjang 22 x 15 Meter.

Baca Juga:  Pacaran yang Islami, Adakah Istilah Ini di Dalam Kamus Syariat Islam?

Penanda di Masjid Nabawi untuk membedakan raudhah al-Jannah dengan area lainnya yaitu penggunaan karpet hijau dalam area taman Surga. Pada masa Nabi SAW, tentunya Raudhah Al-Jannah sangat luas karena memiliki area 330 M persegi.

Akan tetapi pada masa sekarang, yang luas masjid Nabawi adalah 100.000 Meter Persegi (10 Hektar), maka perbandingan dengan Raudhah al-Jannah sangat kecil.

Kemuliaan yang dimiliki oleh taman surga, raudhah al-Jannah menjadikan area seluas 330 M tersebut selalu ramai untuk munajat dan shalat maupun berdzikir.

Bisa dikatakan bahwa raudhah al-Jannah tidak pernah sepi dari manusia dari tempat ini. Bahkan untuk bisa berdoa, bermunajat, shalat dan beribadah disini harus rela antri guna mendapatkan space/ tempat.

Dari kejauhan, Raudhah Al-Jannah ditandai dengan sebuah kubah hijau yang  dibawahnya terdapat Makam Rasulullah SAW. Kubah ini tetap dipertahankan sebagai penghormatan dan penanda untuk Nabi SAW bahwa disanalah beliau disemayamkan.

Taman Surga Selain di Madinah

Allah SWT melalui Muhammad SAW menunjukan keberadilan dalam menempatkan raudhah al-Jannah bukan hanya di Madinah. Jika hanya di Madinah, tidak semua orang Islam akan bisa mengecap dan menapakkan diri di Madinah karena biaya ke berziarah sangat mahal.

Sikap keberadilan Allah SWT yang diwartakan oleh Nabi SAW tentang keberadaan taman Surga di dunia adalah dalam hadits yang didengar oleh Anas bin Malik sebagai berikut;

إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ

Artinya; “Jika kamu melewati taman-taman Surga, maka singgahlah dengan senang.” Para sahabat bertanya,”Apakah taman-taman Surga itu?” Beliau menjawab,”Halaqah-halaqah (kelompok-kelompok) dzikir.” (HR. Tirmidzi)

Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa halaqah atau lingkaran untuk mengingat  Allah SWT adalah taman surga, Raudhah al-Jannah. Jika memperhatikan diksi yang dipakai oleh Rasulullah SAW pada halaqah-halaqah (lingkaran-lingkaran majlis) dzikir yang disebut Nabi bersifat umum. Oleh karenanya, sifat umum ini bisa dilakukan secara luas bukan hanya terbatas pada perbuatan khusus.

Baca Juga:  Rahasia dan Alasan Rasulullah Menikahi Aisyah ra

Halaqah dzikir bisa dilakukan dalam majlis dzikir, Istighasah, manaqib, pengajian, kajian ngaji kitab, atau ngaji bandongan. Keluasan ini menunjukan fleksibelitas menjalankan sabda Nabi SAW sesuai dengan konteks muslim yang menjalankan.

Selama dalam majelis tersebut diagungkan nama Allah SWT dengan berdzikir maka masuk dalam kategori حِلَقُ الذِّكْرِ’ halaqah dzikir.

Penggunaan redaksi ‘فَارْتَعُوا’ yang bermakna –singgahlah- bermakna asal ‘melepaskan gembalaan untuk nyaman mencari makan dipadang rumput’. Nilai filosofisnya yaitu, hewan ternak merasa nyaman, betah, nikmat, dan betah untuk berlama-lama disana.

Tepat kiranya penggunaan kata ‘فَارْتَعُوا’ untuk anjuran singgah agar mendapat barokah, nikmat, betah dan nyaman dalam halaqah dzikir. Muslim yang mengikuti halaqah dzikir akan mendapatkan kenikmatan yang sangat besar, berupa ketenangan dan pahala besar.

Oleh karenanya ketika seorang Muslim melewati sebuah halaqah dzikir kiranya bisa singgah dan mengikutinya untuk mendapat keutamaan. Karena majlis dzikir, ratib, manaqib, Istighasah dan lain sebagainya sejatinya adalah Taman Surga, Raudhah al-Jannah.

Malaikat Berkeliling di Halaqah Dzikir

Keterangan lebih lanjut dikemukakan dalam kitab Miftah Darus Sa’adah dalam konteks Taman Surga, Raudhah al-Jannah. Kitab tersebut menyebutkan bahwa Allah SWT menyediakan malaikat untuk mencari halaqah dzikir. Ketika malaikat menemukan halaqah tersebut, meraka memintakan rahmat bagi pesertanya. Disebutkan dalam hadits;

إنَّ للهِ تَعَالَى مَلائِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُونَ أهْلَ الذِّكْرِ ، فِإِذَا وَجَدُوا قَوْمَاً يَذْكُرُونَ اللهَ – عَزَّ وَجَلَّ ، تَنَادَوْا : هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ ، فَيَحُفُّونَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِم إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا

Artinya; “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berkeliling jalan-jalan mencari ahli dzikir. Jika mereka menemukan satu kaum yang sedang mengingat Allah, mereka berseru, ‘Marilah kalian menuju kebutuhan kalian.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Lalu para malaikat itu mengelilingi mereka dengan sayap-sayapnya sampai langit dunia.” (HR. Bukhari, Muslim)

Keluasan kandungan dalam hadits halaqah dzikir dijelaskan lebih lanjut oleh Imam Atha’ dalam kitab al-Faqih wal Muttafaqih. Beliau menyebutkan, selama dalam majlis dijelaskan ayat Allah SWT, hukum halal-haram, jual beli, shalat sedekah dan lain sebagainya masuk dalam kaidah hadits ‘halaqah dzikir.

Pendapat Imam Atha’ ini sesuai dengan hadits riwayat Imam Thabrani tentang majlis Ilmu masuk kategori halaqah dzikir. Hadits yang  menyebutkan tersebut adalah;

Baca Juga:  Tafsir Mimpi Nabi Yusuf Perihal 7 Ekor Sapi Mengantarkannya Sebagai Bendahara Raja

إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوْا ، قَالُوْا : يَارَسُوْلَ اللَّهِ ، وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ ؟ قَالَ : مَجَالِسُ الْعِلْمِ

Artinya; “Apabila kamu melewati taman-taman Surga, minumlah hingga puas. Para sahabat bertanya,”Ya Rasulullah, apa yang dimaksud taman-taman Surga itu?” Nabi SAW menjawab,”majelis-majelis ta’lim” (HR. Al-Thabrani)

Pada hadits tersebut, yang dimaksud dengan taman Surga adalah juga majelis ilmu. Majelis semacam ini tidak berlebihan jika disebut sebagai taman Surga.

Karena di dalamnya terkandung aktivitas yang subtansinya adalah mengingat Allah, mempelajari syariat-syariatNya dan berbagai aktivitas baik yang berkaitan dengannya.

Maka bisa dipastika orang yang menuntut ilmu Allah SWT masuk dalam kategori Halaqah Ilmu dan mengecap nikmatnya taman surga, Raudhah Al-Jannah.

Konteks Taman Surga, Raudhah al-Jannah adalah anugerah Allah SWT yang diberikan kepada manusia di dunia, tanpa menunggu diakhirat. Maka semakin banyak orang mendekati raudhah al-Jannah maka akan semakin dekat dengan surga Allah SWT.

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan