Sejarah Tarekat Syattariyah; Dari India hingga ke Nusantara

Tarekat Syattariyah, Salah Satu Tarekat Besar dalam Dunia Tasawuf

Pecihitam.org – Sejarah Tarekat Syattariyah (الطريقة الشتارية) pertama kali muncul adalah pada abad ke-15 M di India. Penamaan Tarekat Syattariyah dinisbahkan kepada perumusnya Abdullah as-Syattar.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Thariqat ini telah menduduki posisi penting, karena merupakan salah satu thariqat yang besar pengaruhnya di dunia tasawwuf, termasuk di Indonesia.

Pada masa Turki Ustmani (kerajaan Ottoman), thariqat ini disebutkan dengan thariqat Bisthomiyyah, sedangkan di Iran dan Transoksania (Asia Tengah) dikenal dengan thariqat ‘Isyqiyyah, karena Abu Yazid al-‘Isyqi dianggap sebagai tokoh utamanya, namun pengamalan thariqat ini tetap satu dan tidak ada perubahan yang prinsipil.

Thariqat ini telah dibawa dan dikembangkan pula di Indonesia melalui Aceh oleh Syekh Abdurrouf Singkel (1615-1693). Kemasyhuran Abdurrauf Singkel (as-Singkili) tidak hanya terbatas di Aceh saja, tetapi juga diberbagai kawasan di Indonesia. Murid-muridnya kemudian menyebarkan thariqat yang dibawanya. Diantaranya Syekh Burhanuddin dari pesantren Ulakan Sumatra Barat.

Di Jawa Barat, thariqat ini di kembangkan oleh Syekh Abdul Muhyi, dan kemudian thariqat ini menyebar ke Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Baca Juga:  Thaharah dalam Pandangan Sufistik Syaikh Abdul Qadir al-Jilani

Di Sulawesi Selatan, thariqat ini disebarkan oleh salah seorang tokoh thariqat Syathooriyyah yang cukup terkenal, yakni Syekh Yusuf Taajul Khalwati (Moncong Lowe, Gowa, Sulawesi Selatan, 3 Juli 1626 / Syawwal 1036 – Capetown Afrika Selatan, 23 Mei 1699 M).

Beliau seorang ulama, mufti, pendiri thariqat dan penulis. Ia lahir 21 tahun setelah Islam diterima sebagai agama resmi di kerajaan Gowa (1605).

Nama aslinya seperti tersebut di atas, dan beliau terkenal dengan gelar as-Syekh al-Haaji Yusuf Abu Mahaasin Hadiyatulah Taajul Khalawaati al-Makassaari al-Bantani.

Dalam rangka beliau memperdalam ilmu yang telah diperolehnya, dan sekaligus menunaikan rukun Islam yang kelima, Syekh Yusuf meninggalkan Pelabuhan Tallo Makasar pada 22 September 1645 dengan menumpang kapal dagang Portugis.

Dalam pelayarannya menuju Makkah, ia sempat singgah di Banten, dan berkenalan dengan putra mahkota kesultanan Banten. Dari Banten, ia melanjutkan perjalanannya ke Aceh, dan bertemu dengan Syekh Nuuruddin ar-Raniri. Melalui Syekh ar-Raniri ia mempelajari thariqat Qaadiriyyah, dan berhasil memperoleh ijazah.

Baca Juga:  Hanya Wali Allah yang Mengetahui Wali Lainnya, Tapi Inilah Kata Nabi

Kemudian ia melanjutkan perjalanannya ke Yaman. Disana ia menemui Syekh Abdillah Muhammad Abdul Baaqi, dan menerima Thariqat Naqsyaabandiyyah. Dan di Zubaid (Yaman) ia juga menerima ijazah thariqat as-Sa’adat al-Ba’lawiyyah dari Sayid Ali. Dari Yaman, Syekh Yusuf bertolak ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji.

Kemudian ia pergi ke Madinah untuk menambah ilmunya. Disini ia memperoleh ijazah Tarekat Syattariyah dari Syekh Burhanuddin al-Millah bin Syekh Ibrahim bin Husain bin Syihaabuddin al-Kurdi al-Madani.

Selanjutnya ia pergi ke negri Syam (Syuriah), dan berguru kepada Syekh Abul Barakah Ayyub bin Ahmad al-Khalawaati al-Quraisy, imam masjid Syaikhul Akbar Muhyiddin bin ‘Arabi. Ulama inilah yang memberinya gelar Syekh Yusuf Taajul Khalawaati Hadiyyatullah.

Sejarah tentang thariqat-thariqat besar yang berkembang dalam dunia Islam perlu ditulis sebanyak-banyaknya agar bisa dibaca oleh banyak umat Islam milenial. Supaya mereka tahu bahwa thariqat-thariqat ini sangat berperan dalam tubuh Islam.

Baca Juga:  Hubungan Suluk dan Tasawuf, Dua Sisi yang Tidak Bisa Terpisahkan

Bahkan jika kita lihat tersebarnya Islam di Nusantara ini dominannya adalah dengan thariqat. Thariqat memang sangat berperan dalam dakwah Islam, tetapi yang dimaksudkan di sini adalah tahriqat-thariqat besar (mu’tabar) saja.

Demikianlah kupasan sejarah Thariqat As-Syathooriyyah ini secara ringkas dan mencukupi. Semoga bermanfaat bagi saya dan semua pembacanya. Amin.

Wallahul muafiq ila aqwamil thariq.