Wujud Dari Gagasan Pluralisme Gus Dur

Wujud Dari Gagasan Pluralisme Gus Dur

Pecihitam.org- Di tengah maraknya politisasi agama yang cenderung mereduksi agama dan menjadikannya hanya sebagai stempel untuk melegalisasi kekerasan, dan dengan gagasan pluralisme, Gus Dur tampil menjadi garda terdepan melawan adanya kecenderungan tersebut.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Gus Dur memilih menyebarkan “Islam ramah” yang pro terhadap pluralisme sebagai antitesis terhadap “Islam marah” yang anti terhadap pluralisme. Dan gagasan pluralisme gus dur inilah yang akan dibahas dalam tulisan singkat ini.

Sebagai bentuk komitmen untuk mewujudkan gagasan pluralisme Gus Dur, maka sejak tahun 1970-an, Gus Dur telah giat menyebarkan berbagai gagasannya melalui seminar, dialog dan juga tulisan yang tersebar di majalah, surat kabar, buku, dan jurnal akademik.

Dengan kharismanya sebagai salah satu tokoh penting di NU, Gus Dur berhasil memecah kebekuan dan mentransformasi wajah NU dari organisasi “kaum sarungan” menjadi organisasi modern. Di era kepemimpinannya, Gusdur memperkenalkan gagasan modern, seperti demokrasi, pluralisme, dan hak asasi manusia (HAM), khususnya di kalangan anak muda NU.

Di Era kepemimpinan Gus Dur, NU berhasil mengalami booming intelektual di tahun 90-an. NU juga tumbuh menjadi salah satu gerakan masyarakat sipil yang aktif mempromosikan dan memperjuangkan demokrasi, pluralisme, dan hak asasi manusia.

Baca Juga:  Inilah Nasab Nabi Muhammad yang Mulia, Umat Islam Harus Tahu

Mengapa Gus Dur memiliki semangat yang tinggi untuk menyebarkan gagasan modern dalam tubuh umat Islam, khususnya di tubuh NU? Gus Dur berpendapat bahwa Islam bukanlah agama yang sempit, melainkan agama yang fleksibel dan adaptif terhadap berbagai gagasan dan perkembangan modern, karena sesungguhnya, Islam adalah ajaran yang kosmopolit.

Menurutnya, sejarah telah merekam bahwa watak kosmopolitanisme Islam -yang ditandai dengan keterbukaan- lahir karena adanya ruang ekspresi yang bebas untuk melakukan dialog yang dialektis antar berbagai ragam pemikiran.

Selain itu, kosmopolitanisme Islam juga lahir dari adanya proses serap-menyerap yang dilakukan kaum Muslim terhadap peradaban lain yang telah maju dan mapan, seperti peradaban Yunani, sehingga Islam di masa lalu berhasil meraih puncak peradaban tertinggi.

Semasa hidupnya, Gus Dur telah menunjukkan pada kita bahwa ia bukan hanya intelektual yang talk only, namun ia berhasil menunjukkannya dalam aksi dan laku. Dalam perilakunya yang diakui oleh banyak kalangan, Gus Dur dikenal sebagai sosok yang terbuka dan egaliter, dengan pergaulan lintas etnis, suku, agama, dan ras.

Baca Juga:  Begini Para Salaf As-Sholih Bertabarruk Terhadap Pribadi Rasulullah

Di zaman Orde Baru, ia dikenal sebagai salah satu tokoh pengkritik kebijakan Soeharto. Gus Dur sama sekali tak pernah gentar melakukan kritik pada penguasa Orde Baru yang dikenal anti-kritik, meskipun ia sudah tahu konsekuensi yang akan diperoleh akibat tindakannya tersebut.

Meskipun berlatar belakang santri dan juga keturunan K.H. Hasyim Ashari dan K.H. Bisri Syansuri yang keduanya adalah ulama pendiri NU, Gus Dur tetap konsisten untuk tidak menyetujui adanya konsep negara Islam. Gus Dur dikenal cukup berani dan tak segan-segan “menelanjangi” kelemahan konsep negara Islam yang diajukan oleh para kaum Islam formalis yang pro terhadap pendirian negara Islam.

Menurutnya, Islam tidak mengenal konsep yang jelas tentang negara. Ia mengambil contoh bahwa suksesi kepemimpinan khalifah pasca meninggalnya Nabi Muhammad cenderung selalu berubah-ubah.

Abu Bakar diangkat melalui baiat oleh para pimpinan suku-suku. Umar diangkat melalui wasiat Abu Bakar. Usman dipilih oleh dewan formatur yang dibentuk oleh Umar sesaat sebelum ia meninggal. Setelah itu, Utsman diganti oleh Ali. Setelah Ali, pemerintahan Islam –yang diawali oleh dinasti Umayyah hingga Utsmaniyah- lebih bercorak kerajaan (dinasti) di mana kekhalifahan diwariskan berdasarkan garis keturunan.

Baca Juga:  Bolehkah Perempuan Adzan dan Iqamah? Ini Hukum dan Ketentuannya

Ia menambahkan bahwa besarnya ukuran negara juga tidak ditetapkan secara formal oleh Islam karena Nabi sendiri meninggalkan Madinah tanpa ada kejelasan bentuk. Setelah itu, di masa Umar daerah kekuasaan Islam menjadi sangat luas, yang membentang dari pantai timur Atlantik hingga Asia Tenggara.

Hal tersebut makin menimbulkan ketidakjelasan bentuk negara, apakah sebuah negara Islam harus berbentuk negara bangsa (nation-state) atau negara kota (citystate)? Adanya ketidakjelasan konsep membuat Gus Dur tak menyetujui adanya gagasan pendirian negara Islam karena baginya, pembelaan terhadap suatu konsepsi yang belum jelas adalah sebuah bentuk tindakan yang gegabah dan sembrono.

Mochamad Ari Irawan