Biografi Samurah bin Jundub, Sahabat Rasul yang Jihadis

Biografi Samurah bin Jundub, Sahabat Rasul yang Jihadis

Pecihitam.org – Salah satu sahabat Rasulullah yang memiliki semangat jihad yang tinggi yaitu Samurah bin Jundub, ia merupakan sahabat Rasulullah yang ketika remaja sudah mengikuti perang, salah satunya yaitu pada perang Uhud.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Nama lengkapnya ialah Samurah bin Jundub bin Hilal bin Harij bin Murrah bin Hazn bin Amr bin Jabir bin Khasyin bin Luay bin Ashom bin bin Syamakh bin Fazarah bin Dzabyan bin Baghidh bin Raits bin Ghathafan Al-Fizary. Kunyahnya Abu Sa’id/Abu Abdurrahman/Abu Abdillah atau Abu Sulaiman, tinggal di kota Basrah.

Samurah ialah seorang jihadis pada masa Rasulullah yang memiliki semangat tinggi, ia ikut berperang bersama Rasulullah pada perang Uhud ketika usianya masih lima belas tahun, bersama temannya yang usianya sama dengannya, yaitu Rafi. Hampir disetiap peperangan kaum muslimin bersama Rasulullah Samurah tidak pernah absen, kecuali pada perang Badr, itu menunjukan betapa militannya ia dan kesetiannya kepada Rasulullah SAW.

Perjalanan hidupnya sangat luar biasa, ia merupakan salah satu tokoh kaum Anshar yang terkenal sebagai sahabat yang memiliki keberanian dan kejujuran tinggi, keberaniannya sangat terlihat saat melihat ada orang yang melakukan kesalahan, ia tidak segan untuk membunuhnya.

Baca Juga:  Mengenal Sultan Muhammad al Fatih, Sang Penakluk Konstantinopel

Ia sangat membenci orang-orang khawarij, jika ia didatangkan salah seorang khawarij maka ia akan segera membunuhnya, ia berkata : “Ini adalah seburuk-buruk orang yang terbunuh di bawah kolong langit, mereka berani mengkafirkan kaum muslimin, dan menumpahkan darah mereka.”

Dari ketegasannya ini yang membuat ia dipertentangkan oleh kelompok sunni dan syi’ah. Selaln itu juga ia pernah menjabat pada masa kekuasaan Bani Umayyah.

Dalam Tarikh-nya Imam Ath Thabari mengatakan, tentang peristiwa-peristiwa tahun 50 H. dengan sanad bersambung kepada Muhammad bin Sulaim yang salah satunya adalah tentang Samurah bin Jundub:

‘Aku bertanya kepada Anas bin Sirin, ‘Apakah Samurah pernah membunuh seseorang?’ Ia menjawab, ‘Apakah dapat dihitung orang telah dibantai Samurah bin Jundub? Ia ditunjuk menggantikan Ziyad memimpin kota Bashrah lalu Ziyad pergi ke Kufah, sepulangnya dari Kufah, Samurah telah membunuh delapan ribu orang Muslim. Lalu ditanyakan kepadanya, ‘Apakah engkau tidak takut telah membunuh seseorang yang tidak layak engkau bunuh? Ia menjawab, ‘Andai aku bunuh lagi sejumlah yang telah aku bunuh aku tidak takut apapun!’

Baca Juga:  Kisah Khadijah binti Khuwailid hingga Menikah dengan Rasulullah

Kekejamannya sangat luar biasa kepada orang-orang yang dianggapnya salah, dalam dirinya seolah tidak ada rasa kasihan dan iba. Tidak perduli siapapun yang menurutnya salah langsung di eksekusi.

حدثني عمر قال حدثني موسى بن إسماعيل قال حدثنا نوح بن قيس عن أشعث الحداني عن أبي سوار العدوي قال قتل سمرة من قومي في غداة سبعة وأربعين رجلا قد جمع القرآن

Telah menceritakan kepadaku Umar yang berkata telah menceritakan kepadaku Musa bin Ismail yang berkata telah menceritakan kepada kami Nuh bin Qais dari Asy’ats Al Hadaaniy dari Abi Sawwaar Al Adawiy yang berkata Samurah telah membunuh sekelompok orang dalam suatu pagi yaitu empat puluh tujuh orang yang mengumpulkan Al Qur’an [Tarikh Ath Thabari 3/208].

Kendati demikian Samurah bin Jundub merupakan salah satu rawi hadits yang adil, dalam beberapa hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari ada riwayat dari Samurah, salah satunya yaitu:

عن سمرة بن جندب: أن امرأة ماتت في بطن فصلى عليها النبي فقام وسطها

Baca Juga:  AGH Baharuddin HS; Mursyid Tariqah, Rais Syuriah NU Kota Makassar

Dari Samurah bin Jundub : “Bahwasanya seorang perempuan meninggal dunia karena melahirkan, maka mensolati atasnya oleh Nabi SAW maka ia berdiri di tengahnya” (berdiri sejajar ditengan badan mayit) (HR. Bukhari).

Para ulama tetap memakai hadis-hadis Samurah bin Jundub meskipun ia adalah seorang yang kejam. Sepertinya apapun keburukan atau maksiat yang dilakukan sahabat Nabi Shallallu ‘alaihi wasallam.

Mereka tetap seorang yang adil. Pasal satu: semua sahabat adil. Pasal dua: jika sahabat berbuat maksiat maka kembali ke pasal satu. Hukum keadilan sahab Nabi Muhammad adalah suatu yang agung dalam ilmu hadits.

Tentang kewafatannya

Ia sakit, merasakan dingin yang luar biasa dinyalakan api didepan, samping dan belakang namun masih tetap kedinginan, hingga ahirnya ia wafat sebelum tahun 60 H.

Lukman Hakim Hidayat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *