Karakter Pemimpin Tergantung Rakyatnya, Perbaiki Diri Jika Ingin Pemimpin yang Baik

karakter pemimpin tergantung rakyatnya

Pecihitam.org – Pada masa keemasan Islam, rakyatnya orang-orang baik. Maka pemimpinnya pun juga merupakan orang baik. Ya, begitulah karakter pemimpin tergantung rakyatnya. Karena rakyatnya seperti Abu Bakar, Umar, Usman, Ali dan sahabat-sahabat kibar lainnya, maka pemimpinnya adalah Nabi Muhammad SAW.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Tentang seperti apa karakter pemimpin tergantung rakyatnya, ada atsar dari seorang pembesar tabiin bernama Abu Ishaq yang begitu masyhur hingga kemudian menjadi sebuah kaidah dalam hal kepemimpinan.

كما تكونوا يولى عليكم

Seperti apa kalian, begitulah pemimpin kalian.

Konon, Khalifah Ali bin Abi Thalib pernah mendapatkan kritik dari kalangan khawarij. Mereka membanding-bandingkan kepemimpinan Ali dan Usman yang menurut mereka banyak kekacauan dengan era Khalifah Abu Bakar dan Umar yang memang lebih aman dan tentram.

Kritikan pedas itu justru menjadi bumerang bagi kaum khawarij oposan yang hobinya mengkritik.

“Dulu ketika masa Abu Bakar dan Umar, rakyatnya seperti saya. Sekarang yang menjadi rakyat adalah orang-orang sperti kalian”, jawab Ali menohok.

Jika dilanjutkan jawaban sang babu madinatul ilmi (gerbang kota ilmu) itu, kira-kira begini: jadi wajar jika sering terjadi kekacauan, karena rakyatnya seperti kalian.

Kita tarik ke kondisi sekarang. Mati-matian kita mengkritik pemerintah tanpa introspeksi diri. Anggota dewan yang terlibat kasus korupsi dihujat sedemikian nista, padahal ketika ada seorang dengan rekam jejak yang bagus pada Pileg, rakyatnya sendiri yang mengabaikan dan lebih memilih yang punya uang untuk membeli suara.

Baca Juga:  Jangan Loyo! Seorang Mukmin Sejati Harus Semangat Dalam Beramal

Kalau rakyatnya sendiri mau menerima suap, jangan heran jika para wakil rakyat kelak terlibat suap. Karena pemimpin itu adalah gambaran rakyatnya.

Jangan langsung naik pitam ketika mendengar kabar negara punya hutang. Mungkin hutang itu memang untuk kebutuhan mendesak. Lebih baik introspeksi. Jangan-jangan kulkas, TV, AC atau mobil yang kita miliki masih kreditan. Itu sama artinya dengan ngutang.

Kalau kita membaca sejarah. Kita akan benar-benar mendapati bahwa karakter pemimpin tergantung rakyatnya. Misal rakayatnya Hajjaj bin Yusuf. Saat mereka berkumpul, obrolan mereka tak jauh dari tentang pembunuhan.

Mereka bercerita tentang siapa yang dibunuh, disalib, dicambuk, dipotong tangannya dan hal berdarah-darah lainnya. Hingga Allah kirim pada mereka seorang pemimpin bernama Hajjaj bin Yusuf yang terkenal bengis, kejam, suka membunuh dan licik.

Baca Juga:  Iblis Lebih Takut Kepada Tidurnya Orang Berilmu daripada Shalatnya Orang Bodoh

Lain lagi rakyatnya Al-Walid bin Hisyam. Yang menjadi tema dialog mereka waktu itu melulu berkaitan dengan ekonomi; tentang model-model bangunan; kabar-kabar tentang berbagai perusahaan; tentang berbagai jenis barang-barang terbaru; tentang lahan-lahan pertanian dan obrolan sejenisnya.

Oleh karenanya, Allah kuasakan kepada mereka Al-Walid bin Hisyam, seorang raja yang memiliki banyak sekali perusahaan, pabrik, dan harta benda yang berlimpah.

Rakyatnya Sulaiman bin Abdul Malik. Hampir di setiap kesempatan, mereka membicarakan aneka kuliner, suka menikah bahkan ada yang punya wanita simpanan. Maka tak heran jika mereka dipimpin seorang Sulaiman bin Abdul Malik, seorang raja yang gemar makan makanan enak dan suka sekali menikah.

Hal yang amat berbeda dengan rakyatnya Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Tema pembicaraan dan aktivitas rakayatnya tak jauh dari tentang hafalan dan kahataman al-Quran, wirid serta aktivitas ilmiah lainnya. Begitulah, hingga Allah hadiahkan kepada mereka seorang Khalifah Umar bin Abdul Aziz, seorang alim, dermawan dan sangat baik, hingga ia dikenal sebagai Khulafaur Rasyidin Kelima.

Dari beberapa bukti di atas, cukuplah bagi kita untuk sadar bahwa karakter pemimpin tergantung rakyatnya. Jika baik, Allah hadiahkan pemimpin yang baik. Jika rakayatnya suka menerima suap, suka berbuat kekacauan, maka Allah pun akan kirim pemimpin yang dzalim. Sebagaimana firman-Nya

Baca Juga:  Makna Hadits: Allah itu Maha Indah dan Menyukai Keindahan


وَكَذٰلِكَ نُوَلِّيْ بَعْضَ الظّٰلِمِيْنَ بَعْضًاۢ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang zalim berteman dengan sesamanya, sesuai dengan apa yang mereka kerjakan. (QS. Al-An’am: 129)

Hingga sampailah kita pada kesimpulan, karakter pemimpin tergantung rakyatnya. Jika kita ingin dipimpin oleh orang yang baik, mari mulai dengan memperbaiki diri. Jika kita masih bahkan gemar melakukan keburukan dan kekacauan, terimalah jika orang yang jahat tampil sebagai pemimpin.

Faisol Abdurrahman

Leave a Reply

Your email address will not be published.