Pentingnya Sifat Malu dalam Islam yang Wajib Kamu Ketahui

Malu dalam Islam

Pecihitam.org Sebagai Agama yang sangat memperhatikan Akhlak manusia, tentulah rasa malu dalam Islam adalah salah satu pembahasan yang tidak diabaikan begitu saja oleh Rasulullah Saw. Bahkan dalam berbagai kesempatan, beliau selalu menasehati para sahabat dan kita semua agar sebisa mungkin memelihara rasa malu itu, dengan catatan rasa malu yang dimaksud adalah rasa malu yang memang sepantasnya untuk dipelihara.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Bahkan dalam salah satu sabda Rasulullah saw., dikatakan bahwa Allah swt., pun menyukai sifat malu. Sebagaimana Abu Ya’la bin Umayyah meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah melihat seseorang mandi di padang luas yang tidak ditumbuhi pohon di sekelilingnya tanpa menggunakan kain penutup. Melihat kejadian itu, beliau naik ke atas mimbar, memuji dan berdoa kepada Allah seraya bersabda,

“Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang pemalu dan menyukai sifat malu. Jika salah satiu di antara kalian mandi, maka hendaklah ia menutup badannya”

Malu Menurut Bahasa

Dari segi bahasa, Rasa malu berasal dari kata Al-Haya’ (malu) adalah bentuk masdar dari hayiya, al-Hayat yang artinya “hidup”. Adapun Kata al-Ghaits (hujan) bisa juga diartikan haya (kehidupan), karena keberadaan hujan yang bisa memberikan kehidupan pada bumi, tumbuhan, dan hewan.

Namun Maksud al-Haya’ (kehidupan) di sini adalah kehidupan dunia dan akhirat. Oleh karenanya, siapa yang tidak memiliki malu berarti dia mati di dunia dan sengsara di akhirat. Selain itu, Beberapa ahli retorika Arab (balaghah) mengatakan, “Raut wajah seseorang yang selalu dihiasi dengan rasa malu, laksana kebun yang tumbuh subur karena siraman air.”

Sehingga bisa dikatakan bahwa hidupnya hati seseorang tergantung pada seberapa banyak dia memiliki rasa malu. Ketika rasa malunya sedikit, maka hati dan jiwanya menjadi mati. Artinya, ketika hati seseorang lebih hidup, maka perilaku malunya pun akan lebih sempuma.

Baca Juga:  Ciri Shalat yang Diterima Allah, Salah Satunya Selalu Bersikap Tawadu'

Malu Menurut Syariat

Adapun jika Malu ditinjau menurut Syariat, maka kita akan dipertemukan dengan beberapa pendapat para Ulama yang semakin menguatkan tentang betapa pentingnya rasa malu dalam Islam, diantaranya

Ibnu Maskawih berpendapat, “Malu adalah pengekangan jiwa dari perilaku buruk dan mewaspadai perbuatan yang bisa melahirkan celaan dan ejekan.” Dan lebih lanjutnya beliau mengatakan

“Jika kamu melihat seorang anak kecil merasa malu, menundukkan pandangannya ke bawah dengan wajah tersipu, juga tidak menatapmu, maka ini adalah tanda keluhurannya dan merupakan bukti bahwa jiwanya sudah dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk.”

Adapun pendapat Dzun Nun al-Mashri berkata, “Malu adalah ketakutan di dalam hatimu disertai rasa sedih atas sesuatu yang telah kamu perbuat. Cinta hendaknya dikatakan, malu hendaknya dipendam, dan takut mengakibatkan gelisah.

Sehingga dari pendapat beberapa ulama diatas, bisa disimpulkan bahwa Rasa malu lebih terarah pada titik perbuatan, sehingga layak dikatakan bahwa rasa malu sangat berkaitan erat dengan perbuatan, tingkah laku ataupun Akhlak kita selaku manusia.

Karena faktanya memang mengatakan bahwa rasa malu itu hanya akan muncul jikalau kita hendak melakukan sesuatu yang mungkin tidak sesuai dengan etika, norma ataupun aturan aturan tertentu disuatu tempat.

Dan ini berarti bahwa kehadiran rasa malu akan selalu mengontrol kita agar sebisa mungkin tidak melakukan sesuatu yang lalai, dan memandang hal ini tentu Islam sangat menjunjung tinggi nilai rasa malu itu, maka tak heran jika Rasulullah saw., bersabda dari Anas bin Malik bahwa

“Sesungguhnya setiap Agama memiliki Akhlak, dan Akhak Islam adalah malu” (HR. Ibnu Majah dan Ath Thabrani)

Hakikat Rasa Malu

Seperti yang telah diketahui sebelumnya bahwa rasa malu dalam Islam dipandang sebagai salah satu cabang keimanan. Sebagaimana yang diperkuat oleh beberapa riwayat dari Abdullah bin Umar r.a., ia menceritakan bahwa Rasulullah saw berjalan melewati seorang sahabat Anshar yang saat itu sedang memberi pengarahan kepada saudaranya tentang sifat malu (dia berkata tidak kah kau malu?) lantas Rasullah saw bersabda “Tinggalkanlah dia, karena malu adalah sebagian dari Iman”

Selain itu, Hadits lain yang merupakan riwayat Abu Al-Syaikh Ibnu Hibban dari Mujammi’ bin Haritsah, dari pamannya yang merupakan seorang sahabat bahwa Rasulullah Saw., bersabda “Malu adalah salah satu cabang keimanan; dan tidak ada iman bagi orang yang tidak punya malu”. Diketahui pada hadits ini terdapat seseorang yang bernama Bisyr bin Ghalib Al-Asadi, seseorang yang tidak dikenal (Majhul)

Baca Juga:  4 Cara Menghadapi Orang Sakaratul Maut

Berangkat dari penegasan diatas tentu dapat disimpulkan bahwa rasa Malu adalah akhlak yang menuntun seorang muslim untuk meninggalkan keburukan dan menghindari perbuatan yang bukan haknya.

Allah telah mengistimewakan manusia dengan akhlak ini, agar dia terhindar dari nafsu yang buruk. Sehingga perilakunya tidak seperti hewan yang menyergap apa saja sesuai keinginannya tanpa rasa malu. Dan tentu Hubungan antara perbuatan dosa dengan sedikitnya rasa malu sangatlah dekat dan Keduanya saling mendukung.

Adapun Ma’bad al-Juhani mengomentari tentang firman Allah swt., sebagaimana yang termaktub dalam QS. al A’raf/7: 26

“Dan pakaian takwa itulah yang paling baik”

Beliau berkata, “Baju takwa adalah malu”

Persis dengan apa yang dikatakan oleh Abu Hamid al-Ghazali bahwasanya “Kontrol pertama yang paling tepat dalam diri seseorang adalah rasa malu. Karena jika seseorang merasa malu, dia akan meninggalkan perbuatan buruk. Hal ini tiada lain karena akalnya telah tersinari, sehingga dia mampu melihat hakikat keburukan dan penyimpangan. Dia mampu mengetahui mana yang harus disikapi dengan malu dan mana yang tidak. Ini merupakan anugerah dari Allah kepadanya dan merupakan penunjuk yang akan mengantarkan dia menuju perilaku yang baik dan hati yang bersih.

Perbedaan Malu (al haya’) dan Malu Malu (al Khajal)

Baca Juga:  Solusi Hamil Diluar Nikah Menurut Islam, Berikut Penjelasannya

Dalam kehidupan sehai hari, tentu kita tidak hanya dijamu dengan istilah rasa malu saja, melainkan kita pun kadang menemui istilah malu malu. Kata malu dan malu malu itu berbeda, sebagaimana yang diutarakan oleh

Ar-Raghib al-Ashfihani berkata, “Sikap malu-malu adalah keraguan jiwa karena malu yang berlebihan. Sikap malu-malu ini akan menjadi terpuji jika melekat pada seorang wanita dan anak-anak. Namun bisa menjadi sikap tercela jika melekat pada laki-laki. Sedangkan siapa pun ketika tidak memiliki sifat malu, maka itu sangat tercela dan berbahaya. Karena seseorang jika tidak memiliki rasa malu, berarti dia telah keluar dari fitrah manusia.

Ketahuilah bahwa hakikat orang yang tidak punya malu sangat sulit untuk melepaskan diri dari perbuatan buruk. Sikap ‘tanpa malu’ istilah bahasa arabnya adalah al-waqa’hah. la merupakan derivasi dari kata, hafir waqah (spontan bertindak, tanpa rasa malu), artinya jika seseorang memiliki sifat tersebut, maka dia cenderung keras kepala dan menerjang apa saja”

Adapun tentang keutamaan rasa malu, pembaca bisa mengunjungi halaman keutamaan rasa malu dalam hadits Rasulullah Saw.

Sumber: Muhammad Ismail al Muqaddan. Fikih Malu: Menghiasi hidup dengan malu. (Pondok Jambu Jakarta: Nakhlah Pustaka, 2008) *Terj- judul asli “Fiqhul Haya’

Rosmawati