Begini Pendekatan dan Metode Syarah Hadis Era Modern

Begini Pendekatan dan Metode Syarah Hadis Era Modern

Pecihitam.org- Perkembanan ilmu pengetahuan yang ditandai dengan modernisasi dan globalisasi mempunyai pengaruh atas perkembangan keilmuan Islam, termasuk kajian syarah hadis di era modern saat ini.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sejarah mencatat bahwa perkembangan syarah hadis mengamami perubahan dari masa ke masa, hal tersebut disebabkan banyak faktor yang mempengaruhi termasuk perkembangan ilmu pengetahuan dan sosial-keagamaan.

Seperti halnya yang dijelaskan dalam teori sosial pengetahuan (sociology of knowledge) bahwa sebuah pengetahuan dan pemikiran dibangun dan dipengaruhi masyarakat, teori sosiologi pengetahuan mengakui adanya pengaruh nilai-nilai sosial terhadap persepsi seseorang tentang realitas (Ritzer, 1985, hal. 99-150).

Singkatnya, seseorang dipengaruhi oleh khalayaknya, atau khalayak itu dipengaruhi oleh seseorang. Oleh sebab itu, kaitannya dengan kajian syarah pada masa modern ialah perubahan paradigma yang terdapat dalam kajian syarah hadis akhir-akhir ini tidak lepas dari pengaruh nilai sosial masyakat yang berkembang. Dengan bahasa yang lebih mudah ialah kontek sosial mempengaruhi paradigma keilmuan.

Kajian syarah hadis sebagai salah satu keilmuan Islam yang berperan dalam menuntun umat Islam dalam memahami sumber agama harus dilihat sebagai realitas sosial-religios, karena perubahan sosial dan ilmu pengetahuan menyebabkan perubahan paradigma keilmuan syarah.

Beberapa contoh di atas terkait syarah pada masa awal sebagai percontoh, namun tidak umat Islam pada masa modern tidak harus menjadikan peristiwa tersebut sebagai ajaran yang harus diikuti secara total, karena konteks sosial dan peradaban yang jauh berbeda. Dengan demikian, ada beberapa metode syarah hadis yang dapat diidentifikasi, namun hal ini tidak menafikan ragam-ragam yang lain.

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 31 – Kitab Iman

Dalam kitab syarah hadis, dikenal ada beberapa metode ulama dalam mensyarah hadis yakni; ijmali (global),tahlili (analitik), dan muqarin (komparatif). Dari ketiga metode tersebut akan dibahas lebih lanjut kekurangan dan kelebihan masing-masing metode.

Pertama, Metode Ijmali (Global), Metode syarah hadis ini adalah menjelaskan atau menerangkan hadis sesuai dengan urutan dalam kitab hadis yang ada dalam kitab kutub al-sittah secara ringkas, tetapi dapat mempresantasikan makna literal hadis, dengan bahasa yang mudah dimengerti dan gampang dipahami (Nizar Ali, 2002, hal. 42).

Syarahnya cukup singkat dan tidak menyinggung hal yang ada diluar teks, dan terkadang juga tidak menyebutkan asbabul al-wurud. Adapun contoh kitab yang menggunakan metode ijmali ialah syarh al-Syuyuti li Sunan al-Nasa’i karya Jalaluddin as-Syuyuti, Qut al-Mugtazi ‘ala Jami’ al-Tirmidzi karya jalal al-Din al-Syuyuti.

Metode ini mempunyai kemiripan dengan metode Tahlili (analitik), tetapi hal itu hanya sebatas sistematika saja, tetapi penjelasan dan penjabaran syarahnya lebih banyak metode analitik, terkadang metode global ini juga menjelaskan suatu hadis dengan panjang lebar, tetapi hal ini hanya untuk satu hadis yang membutuhkan penjelasan yang perlu.

Namun lebih detail metode analitik. Setiap metode yang digunakan dalam mensyarah hadis memiliki nilai positif dan negatif. Adapun nilai positif dari metode ini adalah mudah untuk dipahami, ringkas, dan padat.

Adapun kekurangannya ialah, bahasa yang digunakan tidak jauh berbeda dengan lafads yang digunakan dalam hadis, menjadikan petunjuk hadis bersifat parsial, dan tidak ada ruang untuk mengemukakan analisa yang memadai (Suryadilaga, 2012).

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 227 – Kitab Wudhu

Kedua, metode tahlili (analitik). Adapun pengertian syarah hadis yang menggunakan metode tahlili ialah mengurai, menganalisis, dan menjelaskan makna-makna yang terkandung dalam hadis Nabi dengan memaparkan aspek-aspek yang terkandung di dalamnya dengan keahlian dan kecendrungan pensyarah.

Metode ini mempunyai kesamaan dengan metode sebelumnya, yaitu ijmali, tetapi itu hanya sebatas bahasan sistematikan penyusunan syarah, namun secara penjelasan metode ini mengungkap semua hal yang terkait dengan isi dan kandunga yang berhubungan dengan hadis yang dibahasa.

Mulai dari bahasa, korelasi, dan asbab al-wurud kalau ada. Adapun ciri-ciri metode tersebut ialah. Pensyarahan dan penjelasan secara komprehensif, dijelaskan makna mufradat, makan kalimat, dan munasabah dengan hadis lain, dan asbab wurud kalau ditemukan.

Diuraikan juga pemahaman yang pernah ada pada masa sahabat, tabi’in, dan ulama terdahulu, ciri tersebut termasuk kelebihan metode ini. Tetapi kekurangan metode ini ialah pembahasan terasa parsial, dan melahirkan syarah yang subjektif.

Ketiga, metode muqarin (komparatif). Metode ini juga sering disebut tematik, sebab hanya mengkaji satu hadis yang beragama. Adapun pengertiannya ialah membandingkan hadis yang memiliki redaksi yang sama atau mirip dalam kasus yang sam atau memiliki redaksi yang berbeda dalam kasus yang sama, atau membandingkan berbagai pendapat ulama syarah dalam mensyarah hadis.

Dalam metode ini tidak hanya membandingkan hadis dengan hadis, tetapi juga membandingkan ragamnya syarah hadis dan pendapat ulama yang mengomentari, sehingga model ini terlihat beragam dalam pendapatnya.

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 489-490 – Kitab Shalat

Kitab yang menggunakan metode ini ialah Shahih Muslim bi al Syarh Nawawi, karya Imam Nawawi, Umdah Al-Qari Syarh Imam Bukhari, karya Badr al-Din Abu Muhammad Mahmud al-‘Aini, salah satu contoh hadis yang digunakan untuk metode ini, ialah tentang niat.

Setelah mengenal metode yang terdapat dalam syarah hadis memberikan gambar bahwa dalam memahami hadis seorang tidak bisa sembarang, pasalnya terdapat beberapa aspek yang harus dipenuhi sebagai metode.

Namun pada sisi lain, syarah yang berkembang dalam memahami hadis mempunyai latar berlakang yang berbeda-beda, begitu juga dengan hadis nabi. Dengan demikian, selain memahami ilmu bahasa seorang juga harus memperhatikan konteks hadis tersebut disabdakan dan bagaimana seorang tersebut memahaminya.

Pada wilayah ini beberapa pendekatan dapat digunakan dalam memahamai hadis. Namun hal tersebut juga bisa digunakan melihat tipologi syarah syarah yang telah berkembang.

Adapun beberapa pendekatan yagn dapat dapat memetakan syarah dan memahami syarah sebagia beriktu. pendekatan historis, sosiologis, antropologis, bahasa, gender, dll.

 

Mochamad Ari Irawan