Surah Az-Zumar Ayat 49-52; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Az-Zumar Ayat 49-52

Pecihitam.org – Kandungan Surah Az-Zumar Ayat 49-52 ini, menerangkan keadaan orang-orang musyrik yang aneh. Jika ditimpa bahaya kemudaratan seperti kefakiran dan penyakit, mereka segera memohon perlindungan dan berdoa kepada Allah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Akan tetapi bila keadaan sudah berubah, seperti sembuh dari penyakit, mendapat nikmat, dan kelapangan rezeki, mereka melupakan masa penderitaan dan mengatakan bahwa semua itu karena jasa, keterampilan, kepintaran, dan pengalaman mereka sendiri. Itulah sikap mereka yang sangat aneh.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Az-Zumar Ayat 49-52

Surah Az-Zumar Ayat 49
فَإِذَا مَسَّ ٱلۡإِنسَٰنَ ضُرٌّ دَعَانَا ثُمَّ إِذَا خَوَّلۡنَٰهُ نِعۡمَةً مِّنَّا قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلۡمٍۭ بَلۡ هِىَ فِتۡنَةٌ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ

Terjemahan: Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku”. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.

Tafsir Jalalain: فَإِذَا مَسَّ ٱلۡإِنسَٰنَ (Maka apabila manusia ditimpa) yang dimaksud adalah jenis manusia ضُرٌّ دَعَانَا ثُمَّ إِذَا خَوَّلۡنَٰهُ (bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya) Kami anugerahkan kepadanya نِعۡمَةً (nikmat) yakni pemberian nikmat مِّنَّا قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلۡمٍۭ (dari Kami ia berkata,

“Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah atas sepengetahuan) dari Allah bahwasanya aku adalah orang yang pantas untuk mendapatkannya.” Atau dengan kata lain, karena kepintaranku. بَلۡ هِىَ (Sebenarnya itu) maksudnya, ucapan itu فِتۡنَةٌ (adalah ujian) cobaan yang ditimpakan kepada seorang hamba وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ (tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui) bahwasanya pemberian nikmat itu merupakan Istidraj dan ujian baginya.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah memberikan kabar tentang manusia bahwa di saat keadaan terdesak, mereka merendahkan diri kepada Allah swt. kembali dan berdoa kepada-Nya. Akan tetapi jika nikmat menyelimutinya, diapun dhalim dan melampaui batas. Dia berfirman:

إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلۡمٍۭ (“Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.”) yaitu karena Allah Ta’ala mengetahui bahwa dia berhak menerimanya. Seandainya aku tidak istimewa di sisi Allah, niscaya Dia tidak akan memberikannya kepadaku. Qatadah berkata: “’إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلۡمٍۭ; adalah atas kemampuan yang aku miliki.”

Allah berfirman: بَلۡ هِىَ فِتۡنَةٌ (“Sebenarnya itu adalah ujian.”) perkaranya tidak seperti yang diduganya. Akan tetapi, Kami memberikan kenikmatan-kenikmatan itu kepadanya adalah untuk Kami uji dia dengannya, apakah dia taat ataukah durhaka. Walaupun telah ada pengetahuan Kami yang qadim tentang hal tersebut. Maka hal itu merupakan fitnah dan ujian.
وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ (“Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”) karena itu, mereka mengucapkan apa yang mereka ucapkan dan menyeru apa yang mereka seru.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan keadaan orang-orang musyrik yang aneh. Jika ditimpa bahaya kemudaratan seperti kefakiran dan penyakit, mereka segera memohon perlindungan dan berdoa kepada Allah. Tapi bila keadaan sudah berubah, seperti sembuh dari penyakit, mendapat nikmat, dan kelapangan rezeki, mereka melupakan masa penderitaan dan mengatakan bahwa semua itu karena jasa, keterampilan, kepintaran, dan pengalaman mereka sendiri. Itulah sikap mereka yang sangat aneh.

Baca Juga:  Surah At Takasur; Tafsir, Asbabun Nuzul dan Artinya

Ketika mengalami penderitaan, mereka lari menjerit memohon pertolongan kepada Allah. Setelah keadaan berubah menjadi kesenangan dan kenikmatan, mereka memutuskan hubungan dengan Khaliknya dan menyatakan bahwa semua perbaikan nasib itu disebabkan kepandaian dan kemahiran mereka sendiri.

Mereka tidak mengetahui bahwa sesungguhnya nasib baik dan buruk yang diberikan Allah kepada mereka merupakan ujian untuk mengetahui siapa yang mensyukuri nikmat-nikmat pemberian Allah dan siapa yang mengufurinya. Bagi yang bersyukur akan ditambah dengan nikmat yang lain, sedangkan bagi yang mengingkarinya akan ditimpakan azab yang pedih.

Tafsir Quraish Shihab: Jika seseorang ditimpa bencana atau bahaya, ia segera mengadu kepada Kami dengan penuh tunduk. Kemudian, ketika Kami memberikan karunia kepadanya, sebagai bentuk kasih sayang Kami, ia pun berkata, “Karunia yang ada padaku ini dapat aku peroleh karena aku tahu cara-cara mendapatkannya.”

Orang itu tidak tahu bahwa kenyataannya tidaklah seperti apa yang dikatakan. Karunia yang diberikan Allah kepadanya itu merupakan ujian baginya, agar Allah membedakan antara yang taat dan yang ingkar. Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui bahwa itu adalah ujian dan cobaan.

Surah Az-Zumar Ayat 50
قَدۡ قَالَهَا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ فَمَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ

Terjemahan: Sungguh orang-orang yang sebelum mereka (juga) telah mengatakan itu pula, maka tiadalah berguna bagi mereka apa yang dahulu mereka usahakan.

Tafsir Jalalain: قَدۡ قَالَهَا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ (Sungguh orang-orang yang sebelum mereka juga mengatakan itu pula) yakni umat-umat sebelum mereka, seperti apa yang telah dikatakan oleh Qarun dan kaumnya yang mengatakan hal yang serupa فَمَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ (maka tiadalah berguna bagi mereka apa yang dahulu mereka usahakan.).

Tafsir Ibnu Katsir: قَدۡ قَالَهَا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ (“Sungguh orang-orang sebelum mereka telah mengatakan itu pula.”) yaitu sesungguhnya ucapan, dugaan dan klaim seperti ini telah diucapkan, diduga dan diklaim oleh mayoritas umat terdahulu. فَمَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُم مَّا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ (“Maka tidaklah berguna bagi mereka apa yang dahulu mereka usahakan.”) yaitu perkataan mereka tidak benar, persatuan mereka dan apa yang mereka kerjakan tidak akan bermanfaat.

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini, Allah menerangkan bahwa ucapan seperti itu pernah didengar pula dari umat-umat sebelum mereka, sehingga anggapan seperti itu bukanlah anggapan yang baru. Apa-apa yang mereka usahakan dahulu itu tidak berguna untuk menolak datangnya azab dari Allah karena mereka selalu bersikap mendustakan dan mencemooh kedatangan utusan Allah.

Baca Juga:  Surah At-Taubah Ayat 121; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Tafsir Quraish Shihab: Ucapan seperti itu pernah pula dikatakan oleh orang-orang sebelum mereka. Harta yang mereka, orang-orang terdahulu, kumpulkan dan kenikmatan yang mereka miliki tidak mampu melindungi mereka dari azab Allah.

Surah Az-Zumar Ayat 51
فَأَصَابَهُمۡ سَيِّـَٔاتُ مَا كَسَبُواْ وَٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنۡ هَٰٓؤُلَآءِ سَيُصِيبُهُمۡ سَيِّـَٔاتُ مَا كَسَبُواْ وَمَا هُم بِمُعۡجِزِينَ

Terjemahan: Maka mereka ditimpa oleh akibat buruk dari apa yang mereka usahakan. Dan orang-orang yang zalim di antara mereka akan ditimpa akibat buruk dari usahanya dan mereka tidak dapat melepaskan diri.

Tafsir Jalalain: فَأَصَابَهُمۡ سَيِّـَٔاتُ مَا كَسَبُواْ (Maka mereka ditimpa oleh akibat buruk dari apa yang mereka usahakan) yakni menerima pembalasannya. وَٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنۡ هَٰٓؤُلَآءِ (Dan orang-orang yang lalim di antara mereka) yakni orang-orang Quraisy سَيُصِيبُهُمۡ سَيِّـَٔاتُ مَا كَسَبُواْ وَمَا هُم بِمُعۡجِزِينَ (akan ditimpa akibat buruk dari usahanya dan mereka tidak dapat melepaskan diri) dari azab Kami; maka Kami timpakan kepada mereka paceklik selama tujuh tahun, sesudah itu mereka dimudahkan lagi rezekinya.

Tafsir Ibnu Katsir: فَأَصَابَهُمۡ سَيِّـَٔاتُ مَا كَسَبُواْ وَٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مِنۡ هَٰٓؤُلَآءِ (“Maka mereka ditimpa oleh akibat buruk dari apa yang mereka usahakan. Dan orang-orang yang dhalim di antara mereka.”) yaitu orang-orang yang pembicaraan ini dituukan kepada mereka. سَيُصِيبُهُمۡ سَيِّـَٔاتُ مَا كَسَبُواْ (“Akan ditimpa akibat buruk dari usahanya.”) yaitu, sebagaimana yang menimpa mereka. وَمَا هُم بِمُعۡجِزِينَ (“dan mereka tidak dapat melepaskan diri.”)

Tafsir Kemenag: Ayat ini menjelaskan bahwa mereka ditimpa oleh akibat buruk dari apa yang mereka lakukan. Allah mempercepat datangnya azab kepada mereka seperti Karun yang ditelan bumi, gelegar halilintar yang menyambar kaum Lut, dan bencana abadi yang akan menimpa mereka di akhirat.

Orang-orang yang zalim di antara mereka akan ditimpa akibat buruk dari usahanya, termasuk pula orang-orang musyrikin yang selalu menentang Rasulullah saw. Mereka pasti akan ditimpa azab sebagai akibat buruk dari kekafiran mereka seperti azab yang ditimpakan kepada orang-orang terdahulu.

Di antara contoh azab itu ialah bencana kelaparan yang melanda mereka selama tujuh tahun, pemuka-pemuka mereka terbunuh dan ditawan pada waktu Perang Badar. Mereka juga tidak akan dapat lolos dan melarikan diri dari azab Allah pada hari Kiamat.

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang kafir terdahulu mendapat balasan buruk dari perbuatan mereka. Dan orang-orang zalim dari mereka yang termasuk dalam pembicaraan Ayat di atas akan mendapat balasan buruk dari perbuatan mereka. Sesungguhnya mereka tidak akan terlewatkan dari balasan.

Surah Az-Zumar Ayat 52
أَوَلَمۡ يَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوۡمٍ يُؤۡمِنُونَ

Baca Juga:  Dilindungi Dari Dajjal: Salah Satu Keutamaan Membaca Surat al-Kahfi

Terjemahan: Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman.

Tafsir Jalalain: أَوَلَمۡ يَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ (Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki) meluaskannya لِمَن يَشَآءُ (bagi siapa yang dikehendaki-Nya) sebagai ujian baginya وَيَقۡدِرُ (dan menyempitkannya?) membatasinya bagi siapa yang dikehendaki-Nya sebagai cobaan baginya.

إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوۡمٍ يُؤۡمِنُونَ (Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman) kepada-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir: أَوَلَمۡ يَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقۡدِرُ (“Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rizky dan menyempitkan bagi siapa yang dikehendaki-Nya?”) yaitu, Dia melapangkan [rizky] bagi satukaum dan menyempitkannya kepada kaum yang lain.

إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوۡمٍ يُؤۡمِنُونَ (“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman.”) artinya, pelajaran-pelajaran dan hujjah-hujjah.

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini, Allah memperlihatkan bukti atas kekuasaan, keagungan dan kebijaksanaan-Nya. Orang-orang musyrikin itu tidak mengetahui bahwa Allah-lah yang melapangkan rezeki kepada siapa yang Ia kehendaki dan menyempitkan bagi siapa yang dikehendaki-Nya.

Suatu kenyataan yang tak dapat dibantah bahwa keadaan manusia berbeda-beda tentang milik dan kekayaannya, ada yang sangat kaya dan ada yang sangat miskin. Hal yang demikian itu tidak dapat dikaitkan hanya dengan kepandaian atau keterampilan saja. Kadang-kadang yang berpendidikan tinggi hidupnya serba kekurangan sebaliknya yang berpendidikan rendah hidupnya serba berkecukupan.

Sesungguhnya pada kejadian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang beriman. Mereka mengetahui bahwa semua itu diatur oleh Allah. Tidak ada suatu kejadian pun dalam kehidupan ini yang di luar aturan-Nya.

Tafsir Quraish Shihab: Apakah mereka mengucapkan perkataan itu tanpa tahu bahwa Allah melapangkan rezeki bagi siapa saja di antara hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki, dan bahwa Dia membatasi rezeki siapa saja yang dikehendaki-Ny sesuai dengan kebijakan-Nya? Sungguh, hal itu benar-benar mengandung pelajaran bagi orang-orang Mukmin.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Az-Zumar Ayat 49-52 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S