Surah Hud Ayat 82-83; Terjemahan dan Tafsir Al Qur’an

Surah Hud Ayat 82-83

Pecihitam.org – Kandungan Surah Hud Ayat 82-83 ini menjelaskan akibat yang ditanggung oleh kaum Nabi Luth. Allah SWT menurunkan hujan batu dan tanah yang membakar dari langit, serta menjadikan gempa bumi dahsyat yang membuat rumah dan tempat tinggal mereka jungkir-balik.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Balasan dan siksa di dunia bagi kaum homoseksual dan pendosa itu sungguh sangat pedih. Al-Quran menjelaskan nasib kaum Nabi Luth dengan gamblang supaya menjadi peringatan dan teladan bagi generasi manusia yang lainnya.

Terjemahan dan Tafsir Al Qur’an Surah Hud Ayat 82-83

Surah Hud Ayat 82
فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا جَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ مَنْضُودٍ

Terjemahan: Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi,

Tafsir Jalalain: فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا (Maka tatkala datang perintah Kami) untuk membinasakan mereka جَعَلْنَا عَالِيَهَا (Kami jadikan bagian atas) dari negeri kaum Luth سَافِلَهَا (ke bawah) artinya malaikat Jibril mengangkat negeri mereka ke atas kemudian menjatuhkannya ke bumi dalam keadaan terbalik

وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهَا حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ (dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar) yaitu lumpur yang panas membara مَنْضُودٍ (dengan bertubi-tubi) secara terus-menerus.

Tafsir Ibnu Katsir: فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا (Maka tatkala datang adzab Kami) waktu itu adalah saat terbitnya matahari. جَعَلْنَا عَالِيَهَا (“Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas,”) yaitu Sadum. سَافِلَهَا (“Ke bawah [Kami balikkan].”) Sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Lalu Allah menimpakan atas negeri itu adzab besar yang menimpanya.” (QS. An-Najm: 54).

Baca Juga:  Surah Al-Qashash Ayat 14-17; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Maksudnya, Kami menghujaninya dengan batu dari sijjil, yaitu berasal dari bahasa Persia, artinya adalah batu dari tanah liat, ini adalah perkataan Ibnu Abbas dan lainnya.

Sebagian ulama berkata: “Maksudnya dari batu dan tanah liat dan sungguh Allah telah berfirman dalam ayat lain: ia adalah batu dari tanah liat, maksudnya, yang telah membatu kuat dan keras.” Dan sebagian yang lain berkata: “Ia adalah batu tanah liat yang dibakar.”

Al-Bukhari berkata: “Sijjil adalah yang keras dan besar.” Kalimat “sijjil dan sijjin” adalah satu arti, Tamim bin Muqbil berkata: Dengan kekuatan gerak kaki mereka memukul topi baja di tengah hari. Pukulan yang keras panas (sijjin) yang dipesankan oleh para pahlawan.

Firman-Nya: مَنْضُودٍ (Dengan bertubi-tubi) Sebagian ulama berkata: “Maksudnya disiapkan untuk itu.” Dan sebagian yang lain berkata: maksudnya bertubi-tubi jatuhnya kepada mereka.

Tafsir Quraish Shihab: Tatkala waktu terjadinya azab yang telah Kami tentukan datang, Kami jadikan negeri yang ditinggali kaum Luth terbalik, yang di atas menjadi ke bawah. Pada saat itu, Kami hujani mereka dengan bebatuan yang berasal dari tanah terbakar.

Surah Hud Ayat 83
مُسَوَّمَةً عِنْدَ رَبِّكَ ۖ وَمَا هِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ

Baca Juga:  Surah As-Saffat Ayat 99-113; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Terjemahan: Yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim.

Tafsir Jalalain: مُسَوَّمَةً (Yang diberi tanda) telah ditandai masing-masing tanah yang membara itu dengan nama orang yang dikenainya عِنْدَ رَبِّكَ (oleh Rabbmu) menjadi zharaf bagi lafal mu’allamatan

وَمَا هِيَ (dan hal itu) makna yang diisyaratkan di sini adalah azab yang berupa batu itu atau negeri mereka مِنَ الظَّالِمِينَ (dari orang-orang yang zalim) artinya penduduk Mekah بِبَعِيدٍ (tidak jauh).

Tafsir Ibnu Katsir: مُسَوَّمَةً (Yang diberi tanda) Maksudnya, ditandai dengan terpahat di atasnya nama-nama orangnya, setiap batu tertulis di atasnya nama orang yang akan ditimpa dengannya.

Qatadah dan Ikrimah berkata: مُسَوَّمَةً (Yang diberi tanda) dikelilingi dengan percikan bara, mereka menyebutkan bahwa batu itu mengenai penduduk negeri dan penduduk yang terpencar berbagai desa sekitarnya. Suatu saat salah seorang sedang berbicara di tengah-tengah manusia, tiba-tiba ia tertimpa batu dari langit dan jatuh di antara mereka, kemudian batu bertubi-tubi menghujani mereka hingga seluruh negeri, sehingga mereka mati semuanya, tidak tersisa seorang pun dari mereka.

Mujahid berkata: “Jibril mengambil kaum Luth dari tempat gembala dan dari rumah mereka. Ia membawa mereka dengan binatang-binatang harta benda mereka, kemudian ia mengangkatnya hingga penduduk langit mendengar jeritan anjing mereka, lalu ia membungkamnya.”

Baca Juga:  Surah Hud Ayat 112-113; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Dan firman-Nya: وَمَا هِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ (Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zhalim) Maksudnya, tidaklah siksa ini jauh dari orang yang menyerupai mereka dalam kezhaliman (kaum musyrikin Makkah).

Imam Syafii dalam salah satu perkataannya dan segolongan ulama berpendapat, bahwa orang yang melakukan liwath (sodomi) adalah dibunuh, baik ia muhshan (sudah menikah) atau tidak, dengan berpegang kepada hadits ini.

Imam Abu Hanifah berkata; bahwa orang itu adalah dilemparkan dari tempat tinggi lalu dilempari dengan batu seperti apa yang telah dilakukan oleh Allah terhadap kaum Luth. Mahasuci Allah dan Mahatinggi Allah Yang lebih mengetahui tentang kebenarannya.

Tafsir Quraish Shihab: Bebatuan itu menimpa mereka secara bertubi-tubi sebagai tanda siksaan dari Tuhanmu, wahai Muhammad. Siksaan berupa bebatuan itu tidak akan jauh dari orang-orang zalim dari kalangan kaummu.

Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Hud Ayat 82-83 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S