Begini Tatacara Baiat dan Macam-Macam Pembagian Tarekat

Begini Tatacara Baiat dan Macam-Macam Pembagian Tarekat

Pecihitam.org- Tarekat dibangun di atas landasan sistem dan hubungan yang erat dan khas antara seorang guru (murshid) dengan muridnya. Hubungan murshid dan murid ini dapat dianggap sebagai pilar terpenting dalam organisasi tarekat.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Hubungan tersebut diawali dengan pernyataan kesetiaan (baiat) dari seorang yang hendak menjadi murid tarekat kepada shaikh tertentu sebagai murshid.

Teknis dan tatacara baiat dalam tarekat seringkali berbeda satu dengan lainnya, tetapi umumnya ada tiga tahapan penting yang harus dilalui oleh seorang calon murid yang akan melalui ritual tatacara baiat, yakni talqin al dhikr(mengulang-ulang zikir tertentu), akhdh al Ahd (mengambil sumpah), dan libs al khirqah (mengenakan jubah).

Proses inisiasi melalui tatacara baiat ini sedemikian penting menentukan dalam organisasi tarekat, karena baiat mengisyaratkan terjalinnya hubungan yang tidak pernah akan putus antara murid dengan murshidnya.

Begitu baiat diikrarkan, maka sang murid dituntut untuk mematuhi berbagai ajaran dan tuntunan sang Murshid, dan meyakini bahwa murshidnya itu adalah wakil dari Nabi. Lebih dari itu diyakini bahwa baiat juga sebuah perjanjian antara murid sebagai hamba dengan Al Haqq sebagai Tuhannya.

Setelah menjadi murid biasanya perjalanan spiritual (suluk)nya sang murid dimulai dengan mempelajari tasawuf. Berapa lama waktu yang ditentukan oleh sang murid tidak ada ketentuan pasti, dan berhak mengajarkan ilmunya, semuanya tergantung dari Sang Murid sendiri dalam menjalani beberapa tahapan pengalaman spiritual (maqamat) hingga sampai pada pengetahuan tentang al haqiqat (kebenaran hakiki).

Baca Juga:  Imam Ghazali, Merobohkan Permainan Akrobatisme Intelektual

Beberapa murid bisa saja menyelesaikan pelajaran mistisnya dalam waktu singkat sebagian lainnya perlu waktu lama.Keluluasan murid ditentukan sang Murshid.

Apabila sang murid telah dianggap lulus dalam perjalanan spiritualnya dalam memahami hakikat, maka sang Murshid akan mengangkatnya sebagai khalifah yang proses pengangkatannya biasanya diberikan ijazah (otorisasi atau lisensi).

Dalam dunia tarekat itu selain ada ijazah untuk murid yang naik jadi khalifah, ada juga istilah ijazah yang diberikan kepada murid tetapi bobotnya lebih ringan, yakni ijazah amalan untuk mengamalkan ritual atau zikir tertentu yang diajarkan oleh murshidnya, dan ijazah oleh murid yang dianggap telah menyelesaikan tahap tertentu dari ajaran tarekat dari murshidnya itu.

Berbeda dengan yang pertama, kedua ijazah yang terakhir disebut itu tidak memberikan wewenang kepada yang menerimanya untuk mentahbiskan orang lain menjadi anggota tarekat, melainkan hanya untuk yang bersangkutan saja.

Tarekat dibagi menjadi 3 bagian :

Pertama, Tarekat Naqsyabandiyah. Tarekat ini didirikan oleh Muhammad Bahauddin An-Naqsabandi al-Uwaisi al-Bukhari (w.1389M) di Turkistan.

Baca Juga:  Rasa Takut Manusia pada Allah Tidaklah Sama, Berikut Derajat-Derajatnya

Tarekat ini merupakan salah satu tarekat sufi yang paling luas penyebarannya, dan terdapat banyak di wilayah Asia Muslim (meskipun sedikit di antara orang-orang Arab) serta Turki, Bosnia Herzegovina, dan wilayah Volga Ural.

Ciri yang menonjol dari Tarekat Naqsyabandiyah adalah diikutinya syari’at secara ketat, keseriusan dalam beribadah menyebabkan penolakan terhadap musik dan tari, serta lebih mengutamakan berdzikir dalam hati, dan kecenderungannya semakin kuat ke arah keterlibatan dalam politik (meskipun tidak konsisten).

Kedua, Tarekat Syatariyah, nama Syatariyah dinisbahkan kepada Syaikh ‘Abd Allah al-Syaththari (w.890 H/1485 M), seorang ulama yang masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan Syihab al-Din Abu Hafsh, Umar Suhrawardi (539-632 H/1145-1234 M), ulama yang mempopulerkan Tarekat Suhrawardiyah.

Ketiga, Tarekat Qodiriyah adalah nama sebuah tarekat yang didirikan oleh Syeikh Muhyidin Abu Muhammad Abdul Qodir Jaelani Al Baghdadi (1077-1166M).

Tarekat Qodiriyah berkembang dan berpusat di Iraq dan Syria kemudian diikuti oleh jutaan umat muslim yang tersebar di Yaman, Turki, Mesir, India, Afrika dan Asia.Syekh Muhyiddin Abu Muhammad Abdul Qodir Al-Jaelani Al-Baghdadi, ini adalah urutan ke 17 dari rantai mata emas mursyid tarekat.

Tarekat Qodiriyah ini dikenal luwes, yaitu bila murid sudah mencapai derajat syekh, maka murid tidak mempunyai suatu keharusan untuk terus mengikuti tarekat gurunya.

Baca Juga:  Benarkah Jika Sudah Bertasawuf Tidak Perlu Lagi Syariat? Ini Penjelasannya

Bahkan dia berhak melakukan modifikasi tarekat yang lain ke dalam tarekatnya. Hal itu seperti tampak pada ungkapan Abdul Qadir Jaelani sendiri, “Bahwa murid yang sudah mencapai derajat gurunya, maka dia jadi mandiri sebagai syeikh dan Allah-lah yang menjadi walinya untuk seterusnya”.

Demikian proses masuknya seseorang menjadi murid tarekat melalui baiat, dan pembagian macam-macam Tarekat serta proses pengangkatan murid menjadi khalifah melalui proses pengangkatan murid menjadi khalifah melalui pemberian ijazah. Pada gilirannya proses tersebut melahirkan sebuah mata rantai hubungan spiritual murshid dan murid yang disebut silsilah atau organisasi tasawuf.

Mochamad Ari Irawan