Mengenal Fazlur Rahman, Sang Tokoh Neo Modernis Pemikiran Islam

Mengenal Fazlur Rahman, Sang Tokoh Neo Modernis Pemikiran Islam

Pecihitam.org – Yang kadang faktor perbedaan para ulama ketika menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an ialah ketika memandang aAl-Qur’an dari sudut yang berbeda. Juga perbedaan tempat dan kondisi di mana mereka tumbuh menjadi seorang mufassir.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Karenanya, para pemikir terdahulu pun sebisa mungkin mencari metode untuk mempermudah dalam menafsirkan Al-Qur’an. Dan salah satu tokoh yang melakukan hal tersebut ialah Fazlur Rahman, sang pemikir yang dikenal dengan teori Double Movement-nya.

Dialah Fazlur Rahman yang lahir pada tanggal 21 September 1919 di Hazara, yakni suatu daerah di anak Benua Indo-Pakistan yang sekarang terletak di Barat Laut Pakistan dan menutup usia di Rumah Sakit Chicago pada tanggal 26 Juli 1988.

Sedangkan dari latar belakang keluarganya berasal dari Mazhab Hanafi dan dikenal sangat religius. Sehingga dari keluarga yang amat taat dengan agama inilah, rupanya sangat berpengaruh terhadap pembentukan watak dan keyakinan awal keagamaan dari seorang Fazlur Rahman. Bahkan dikatakan bahwa beliau telah menghafal Al-Qur’an di usianya yang masih belia.

Perjalanan pendidikan Fazlur Rahman

Seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa keluarga Fazlur Rahman memang berada pada status keluarga yang religius, dan tentu ini akan menjadikan kedua orang Fazlur sebisa mungkin memberikan pendidikan terbaik kepada sang anak. Dimana sang ibu (Zaibar Hadir) tiada henti mengajarkan tentang nilai-nilai kebenaran dan nilai-nilai kasih sayang, ketabahan, cinta padanya.

Sedangkan sang ayah (Maulana Syahab al Din) adalah seorang ulama tradisional sekaligus tempat Fazlur Rahman mendapatkan pendidikan dan pengajaran tradisional dari sang ayah. Dan pendidikan ini didapatkannya ketika menempuh pendidikan di Darul Ulum Doeband di wilayah Utara India.

Baca Juga:  Muhammad Iqbal, Si Kumis Pembaharu Pemikiran Islam dari Pakistan

Meskipun sang ayah dikenal sebagai Ulama Tradisional, rupanya beliau tidak sefanatik dengan ulama lainnya. Malah sang ayah dikenal sebagai ulama yang tidak seperti mayoritas ulama pada zaman itu yang menentang dan menganggap pendidikan modern yang dapat meracuni keimanan dan moral.

Usai menyelesaikan pendidikan menengahnya, Fazlur Rahman kemudian melanjutkan pendidikannya dengan memilih Konsentrasi Studi Bahasa Arab pada tahun 1940 dan berhasil mendapatkan gelar Bachelor of Art. Kemudian melanjutkan S2 nya dalam meraih master Bahasa Arab pada tahun 1942 di Departemen Ketimuran Universitas  Punjab, Lahore.

Tidak sampai disana, beliau kembali lagi mengambil doctor di universitas Oxford University  (Inggris) dalam bidang Filsafat. Dan memperoleh gelar Ph.D pada tahun 1949. Yang dimana disertasinya diterbitkan oleh Oxford University Press dengan judul Avicenna’s Psychology. Dan penyelesaian pada pendidikan tersebut berada di bawah bimbingan Prof. Simon Van Den Berg dan H.A.R Gibb.

Penyelesaian pendidikan Fazlur Rahman rupanya tidak mendorong beliau untuk segera kembali di kampung halaman. Melainkan beliau memilih untuk menetap beberapa waktu disana dengan memperluas cakrawala yang dimiliki beliau. Dan ini dapat dilakukannya karena memang beliau menguasai beberapa bahasa, yang diantaranya Latin, Yunani, Inggris, Jerman, Turki, Arab dan Urdu. (Abd. A’la, dari Neomodernisme ke Islam Liberal: Jejak Fazlur Rahman dalam wacana di Indonesia, h. 34)

Setelah beberapa tahun kemudian, Fazlur Rahman pun kembali ke kampung halaman yang pada saat itu Pakistan telah memisahkan diri dari India pada tahun 1947. Dan proses kembalinya beliau ke Pakistan tidak lain karena atas permintaan Ayyub Khan (Presiden Pakistan) untuk membangun negara asalnya. Namun ternyata, pengabadian dirinya terhadap Pakistan hanya berkisaran beberapa tahun saja (1960-1969).

Baca Juga:  Ketika Cucu Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani Mempersaksikan KH Maimoen Zubair Sebagai Wali Allah

Karena pada tahun 1969 beliau meninggalkan Pakistan untuk memenuhi tawaran Universitas California, Los Angeles dan langsung diangkat sebagai guru besar pemikiran Islam. Di mana pada mata Kuliah Tersebut meliputi Pemahaman Al Qur’an, Filsafat Islam, Tasawuf, Hukum Islam, Pemikiran Politik Islam, Modernisme Islam, Kajian tentang tokoh tokoh Islam dan lainnya,.

Berangkat dari sini, mungkin kita sempat bertanya tentang mengapa Fazlur Rahman lebih memilih negara luar sebagai tempat untuk menyalurkan segala keilmuwannya, dan ternyata hal ini dikarenaka Fazlur Rahman merasa bahwa menetap dan mengajar di Barat disebabkan oleh keyakinan bahwa gagasan gagasan yang ditawarkannya tidak akan diterima dan berkembang di Pakistan.

Selain itu, beliau juga ingin adanya keterbukaan atas pelbagai gagasan dan suasana perdebatan yang sehat dan yang tidak ia temukan di Pakistan. (Taufik Adnan Amal, Islam dan Tantangan Modernitas Studi atas pemikiran Hukum Fazlur Rahman, h. 104)

Karya Karya Fazlur Rahman

Tentu bukan hal yang asing lagi, ketika kita mencoba mendalami hidup seorang tokoh terlebih jikalau dirinya masuk dalam daftar nama ulama yang sangat berpengaruh maka yang menjadi point penting dalam mengenang sang tokoh ialah dengan karya karyanya.

Sama halnya dengan Fazlur Rahman yang jikalau kita mencoba menengok karya karyanya maka dapat dibagi atas tiga periode.

Pertama, Periode Awal (Dekade 50-an) dimana tulisan beliau pada periode ini bersifat kajian Historis

-Avicenna’s Psychology (1952)

-Avicenna’s De Anima (1959)

-Prophecy in Islam: Philosophy and Orthodoxy (1958)
Pada buku ini beliau menjelaskan tentang perbedaan doktrin ke-Nabi-an antara yang dianut oleh para filsuf dengan yang dianut oleh ortodoksi.

Baca Juga:  Karomah Kyai Kholil, Sebab KH Hasyim Asyari Ngaji 120 Tahun

Kedua, Periode Pakistan yang dimana tulisan beliau pada periode ini bersifat Historis sekaligus interpretasif (Normatif)

-Islamic Methodology in History (1965)
Pada buku ini beliau memperlihatkan evolusi historis perkembangan empat prinsip dasar pemikiran islam (Al Qur’an, Sunnah, Ijtihad, dan Ijma) serta peran aktual prinsip prinsip ini dalam perkembangan sejarah Islam.

-Islam
Yakni buku yang berisikan tentang rekontruksi sistemik terhadap perkembangan Islam selama empat belas abad.

Ketiga, pada periode Chicago yang dimana pada tulisan beliau pada periode ini bersifat normatif Murni dan pada periode inipula beliau mendeklarasikan dirinya sebagai juru bicara neo-modernis.

-The Philosophy of Mulla Sadra (1975)

-Major Theme of The Al Qur’an (1980)

-Islam and Modernty: Transformation of an Intellectual Tradition (1982)

Adapun pemikiran beliau terkait teori Double Movement yang menjadi akar pemikiran beliau guna mempermudah kita dalam memahami Al Qur’an akan dibahas pada artikel selanjutnya …

Sumber Bacaan : Al Fikr (Jurnal Pemikiran Islam) Volume 19, Nomor 1, Januari – Juni Tahun 2015 dan beberapa jurnal lainnya.

Rosmawati