Apa Itu Kalimat Istirja’ dan Keistimewaan Membacanya

apa itu istirja' dan keistimewaannya

Pecihitam.orgInnaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun atau yang sering di sebut dengan Istirja’ merupakan suatu Frase atau sejenis istilah yang diungkapkan umat Islam khusus dalam ruang lingkup musibah atau Cobaan yang diberikan Allah kepada hambaNya guna melatih kesabaran seorang hamba sekaligus menjadikannya sebagai pelajaran untuk kedepannya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

“(Yaitu) orang orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ‘innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’. Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang orang yang mendapatkan petunjuk,” (QS. Al Baqarah [2]: 156-157)

Itulah mengapa sebagai umat islam pastinya ketika sedang dilanda musibah atau malapetaka maka sepatutnya mengucapkan kalimat “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un”.

Namun yang perlu kita ketahui ialah pengucapan ini tidak hanya ditujukan pada musibah atau malapetaka yang terbilang besar, namun pada musibah kecilpun kita sepatutnya mengucapkan kalimat Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un atau yang disebut dengan kalimat istirja’.

Seperti sebuah riwayat dari Akaramah menyebutkan bahwa pada suatu malam lentera Rsulullah Saw mendadak padam, lalu Rasulullah Saw menyebut Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un. Lantas sahabat bertanya “Apakah ini termasuk salah satu Musibah wahai Rasulullah?”, kemudian beliau pun menjawab “Benar, setiap penderitaan yang dirasakan oleh seorang mukmin adalah sebuah musibah” (HR. Muslim)

Hingga dari hadits diatas yang hanya menggambarkan padamnya lentera Rasulullah pun rupanya dianggap sebagai Musibah, maka gugurlah pandangan pandangan kita pada umumnya yang hanya melontarkan kalimat istirja’ dikala peristiwa kematian atau musibah musibah besar seperti kecelakaan atau bencana alam.

Baca Juga:  5 Dasar dan Landasan Mendoakan Keburukan Orang Lain

Lantas apa keistimewaan kita sebagai umat yang mengamalkan kalimat ini?

Diceritakan dari Abu Sinnan bahwa ketika Anaknya meninggal dunia, Abu Thalhah Al Khaulani ikut serta mengantarkan jenazah anakku. Lalu tatkalah aku hendak pulang, tanganku digamit olehnya, kemudian ia menghiburku dengan mengatakan:

Wahai Abu Sinnan, maukah engkau jika aku beritahukan sebuah kabar gembira? Aku pernah diberitahukan oleh Adh-Dhahak, dari Abu Musa, bahwa Rasulullah Saw bersabda “Jika salah seorang hamba ditinggal wafat oleh anaknya, maka Allah bertanya kepada malaikatnya: apakah kalian telah mengambil nyawa anak dari hamba-Ku? Para malaikat pun menjawab: ya. Kemudian Allah bertanya kembali: apakah kalian telah mengambil nyawa buah hati dari hamba-Ku? Para malaikat pun menjawab: ya. Kemudian Allah bertanya: lalu apa yang dikatakan oleh hamba-Ku itu? Para malaikat pun menjawab: ia memuji-Mu (bertahmid) dan mengucapkan innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji ‘uun. Kemudian Allah berfirman: dirikanlah sebuah rumah untuk hamba-Ku itu di dalam surga, dan namakanlah rumah tersebut ‘rumah pujian” (HR. Tirmidzi pada pembahasan tentang jenazah, bab Fadhilah sebuah musibah jika tetap bermuhasabah (3/341, hadits no. 1021). At Tirmidzi juga memberikan komentar bahwa Hadits ini adalah hadits hasan Gharib)

Baca Juga:  Ya’juj dan Ma’juj, Tanda Kiamat Yang Harus Diketahui

Sedangkan dalam hadits Imam Muslim meriwayatkan dari Ummu Salamah, ia berkata: Rasulullah Bersabda:

Tidak ada seorang muslim pun yang mengalami musibah lalu ia mengucapkan (sesuai dengan) ucapan yang diperintahkan Allah kepadanya (yaitu): ‘innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’ (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami akan kembali), ya Allah ganjarlah aku sesuai dengan musibahku, dan gantikan aku dengan yang lebih baik dari yang sebelumnya, kecuali Allah akan menggantikan yang lebih baik untuknya” (HR. Muslim pada pembahasan tentang jenazah, bab: Apa yang diucapkan ketika mengalami musibah (2/631-632, hadits no. 918).

Seperti lanjutan Firman Allah pada QS. Al-Baqarah yakni “Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabb-nya, dan mereka itulah orang orang yang mendapatkan petunjuk”

Pada kalimat diatas menandakan akan limpahan Nikmat Allah begitu luas bagi mereka yang bersabar dan yang tiada henti hentinya mengucapkan kalimat Istirja’ pada setiap musibah yang terjadi dalam hidupnya sekalipun itu hanyalah musibah ringan atau kecil guna meredakan kesedihan. Sedangkan pada kata Rahmat sendiri yang tercantum pada ayat diatas bermakna menghilangkan kesulitan dan memberikan yang dibutuhkan.

Baca Juga:  Jangan Mengeluh! Jadikanlah Sabar dan Shalat Sebagai Penolongmu

Umar r.a., mengatakan bahwa dua ayat ini [QS. Al Baqarah [2]: 156-157) adalah sebaik baik dua nilai dan sebaik baik derajat. (HR. Al Bukhari pada pembahasan tentang jenazah)

Rosmawati

Leave a Reply

Your email address will not be published.