Stop Rasisme! Papua adalah Indonesia, Papua adalah Kita, #KitaIniSama

papua adalah kita, kita ini sama

“Tidak boleh lagi ada pembedaan kepada setiap warga negara Indonesia, berdasarkan perbedaan Agama, kebudayaan serta bahasa Ibu” (Gus Dur)

Pecihitam.org – Indonesia adalah negara yang majemuk memiliki berbagai macam suku, agama, ras dan kebudayaan. Sejarah sebelum Indonesia merdeka telah membuktikan indahnya kebersamaan dalam perbedaan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Bahkan kemerdekaan negeri ini dibangun secara bersama-sama dengan latar belakang suku, agama, ras dan budaya yang berbeda-beda, dengan saling menghargai maka terciptalah kemerdekaan Indonesia.

Sayangnya setelah kemerdekaan Negeri ini pernah mengalami perpecahan atas dasar perbedaan suku, agama, ras dan antar golongan (SARA). Bahkan sejarah tersebut telah banyak merugikan Negeri kita tercinta dalam hampir disetiap aspek kehidupan.

Indonesia memiliki sejarah kelam dalam hal konflik sara, diantaranya konflik antar etnis tionghoa dan etnis jawa yang terjadi ketika krisis moneter melanda Indonesia tahun 1998 atau konflik yang terjadi di ambon yang melibatkan umat muslim dan umat kristiani yang hanya terjadi selang satu tahun dari konflik etnis tionghoa dan etnis jawa.

Baca Juga:  Ceramah Gus Muwaffiq Tidak Salah, Tapi Otakmu yang Belum Nyampai

Dalam konflik-konflik yang terjadi tentu saja bukan hanya golongan yang dirugikan tapi juga negarapun merasa kehilangan yang sangat besar, sebab konflik-konflik tersebut banyak menghilangkan nyawa warga negara Indonesia.

Kenyataan pahit tersebut harus kita ingat dan akui bersama agar tidak terjadi hal serupa, sebab dari kejadian tersebut kita bisa melihat dan belajar bahwa nyawa yang dipertaruhkan tidak lebih berharga dari sebuah kepuasan sebagian golongan.

Ketika KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjabat sebagai presiden, keran demokrasi dibuka selebar-lebarnya dan menyoroti konflik-konflik kemanusiaan yang terjadi sampai berusaha untuk memperbaikinya.

Setelah sekian lama Indonesia mengalami masa damai dan hidup berdampingan dengan nyaman serta saling menghargai dalam perbedaan baik suku, agama, ras dan antar golongan. Kini indonesia kembali digemparkan dengan kasus Rasisme yang terjadi di Surabaya.

Baca Juga:  Islam Menolak Rasisme, Menjunjung Tinggi Kemanusiaan

Kronologis kejadiannya adalah ketika diduga ada mahasiswa Papua yang merusak tiang bendera didepan Asramanya dan membuang bendera merah putih di selokan. Kemudian selang beberapa jam saja kejadian perusakan dan pembuangan bendera tersebut tersebar cepat di dunia maya sampai akhirnya aparat (kepolisian dan TNI) serta beberapa ormas mengepung asrama mahasiswa papua tersebut. (Kompas.com)

Sampai saat ini yang menjadi perhatian kita bersama adalah ketika aparat memaksa masuk dengan menembakkan gas air mata serta ada maki-makian yang bernada rasis yang sebetulnya tidak perlu dilontarkan kepada teman-teman mahasiswa papua.

Sebagai muslim tentulah kita merasa simpati kepada teman-teman mahasiswa atas kejadian tersebut, sehingga dapat menimbulkan kekisruhan yang panjang dan merugikan.

Dalam buku Islamku, Islam anda, Islam Kita Gus Dus pernah mengartikan kata “al-islami” dengan makna Perdamaian dan memberikan penafsiran yang gamblang bahwa perdamaian ada untuk seluruh umat manusia bahkan untuk selain orang Islam sekalipun.

Baca Juga:  Beredar Selebaran Bubarkan Banser, Aktivis Papua; Itu Bukan Kami, Waspada Provokasi

Dengan demikian sebagai muslim dan warga negara yang baik kita memulai untuk bisa menebar perdamaian dalam hal yang sangat kecil yakni simpati dan mengecam keras semua tindak rasisme di Indonesia.

Sebab terciptanya Baldatun thayyibatun wa robbun ghofur tidak bisa dibangun hanya dari satu golongan saja. Tabik!

Fathur IM

Leave a Reply

Your email address will not be published.