Teori Keseimbangan Antara Agama dengan Dunia Melalui Pendekatan Tasawuf

Teori Keseimbangan Antara Agama dengan Dunia Melalui Pendekatan Tasawuf

Pecihitam.org- Berkenaan dengan problem manusia modern, Ahmed mengemukakan teori keseimbangan antara agama dengan dunia melalui tasawuf (Ahmed, 1992: 23).

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Frankl, dengan logoterapinya mengusulkan perbaikan atas dimensi rohaniah manusia agar ia memperoleh kehidupan bermakna. Logoterapi adalah pemberdayaan nilai rohani (kejiwaan) dalam mengobati pasien yang menghadapi kemurungan, ketegangan, kecemasan dan kerisauan.

Badri menilai bahwa Frankl telah menggunakan pendekatan psikologi optimistik yang bukan hanya selaras dengan prinsip-prinsip humanisme tetapi juga dengan agama dalam mencapai makna hidup (Badri, 1979: 74).

Manusia bukan hanya makhluk yang berdimensi fisik semata melainkan juga berdimensi ruhaniah atau kejiwaan. Manusia adalah makhluk yang berdimensi fisis dan psikologis.

Keduanya saling membutuhkan dan saling mengisi serta saling bersinergi. Oleh karena itu manusia selalu dianggap sebagai makhluk yang paling rumit dan penuh teka-teki, abstrak dan misterius.Dalam rangka memahami manusia, telah lahir pelbagai ilmu tentang kemanusiaan diantaranya adalah psikologi.

Di zaman teknologi informasi dan transformasi ilmu pengetahuan seperti sekarang ini kerap kali terjadi goncangan kebudayaan karena warisan modernisme yakni “sains yang bebas nilai‟ masih mengakar dalam kehidupan sehari-hari termasuk di Indonesia.

Masyarakat yang terkena dampak langsung warisan budaya modern adalah masyarakat yang hidup dan berdomisili di pinggiran kota-kota besar.

Masyarakat ini di satu sisi telah kehilangan citra kedesaannya dan di sisi lain telah terpengaruh gaya hidup perkotaan yang serba mahal dan mewah.

Baca Juga:  Diri Sendiri adalah Destinasi Wisata Religi yang Paling Asyik

Untuk bergaya hidup mewah mereka tidak mampu sedangkan untuk kembali ke gaya pedesaan tidak mau.Akhirnya mereka selalu dalam keadaan depresi berat sehingga mereka terpaksa melakukan pelbagai tindakan krimnal/kejahatan.

Hasil survei Ikatan Dokter Indonesia (IDI), melalui Persatuan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa, pada tahun 2007 menyatakan bahwa 94 % masyarakat Indonesia mengalami depresi ringan dan berat (Harian Sijori Mandiri, 2007, halaman muka).

Al-Ghalsani menyebutkan bahwa manusia yang berada di persimpangan modern dan postmodern adalah manusia yang menderita secara kejiwaan. Manusia model ini adalah manusia yang banyak murung, gelisah, fobia dan stress.

Umumnya mereka mengalami ketidakstabilan emosi, spiritual dan psikologis sehingga ada di antara mereka yang melakukan tindakan bunuh diri. Warisan sains modern yang terlampau materialis, mekanis, fragmentaris dan fragmatis mengabaikan nilai-nilai agama yang normatif serta tidak dipahami secara kritis.

Manusia transisional antara modern dan postmodern ini kurang bisa menempatkan antara diri, dunia sekelilingnya, sains dan agama secara seimbang (Al-Ghasani, 1993: 9).

Pendiri psikologi, Wundt (1883-1920) mengajukan metode dasar psikologi sebagai pengamatan eksperimental ke atas diri seseorang yang disebut dengan metode introspeksi (Wundt, 1973).

Wundt meyakini bahwa tugas utama psikolog adalah menyelidiki serta mempelajari proses dasar kesadaran manusia sebagai pengalaman langsung, kombinasi dan hubungannya, laiknya ahli kimia saat meneliti elemen dasar suatu zat.

Bagi Wundt yang terpenting adalah mempelajari cara kerja mental yang terpusat kepada perhatian, maksud serta tujuan yang dimiliki seseorang. Wundt mengembangan satu metode yang disebut sebagai analytic introspection (intropeksi analitik), yaitu satu bentuk formal dari observasi yang dilakukan terhadap diri sendiri (Davidoff, 1988: 11-12).

Baca Juga:  Benarkah Imam Asy-Syafi'i Mencela Sufi Sebagaimana Tuduhan Para Salafi Wahabi?

Individu selalu mencari jawaban atas diri, kehidupan di dunia, ketenangan dan kebahagiaan serta kehidupan setelah kematian. Hazrat Pir menguraikan, bahwa ada dua pertanyaan mendasar berkenaan dengan perilaku manusia.

Pertama, bagaimana manusia sempurna (insan kamil) dapat dibentuk? Kedua, bagaimana masyarakat sempurna dapat dibina? (Nader Syah, 1987: 97).

Iqbal menyebut Muhammad SAW sebagai satu-satunya manusia yang dapat menjadi insan kamil. Muhammad SAW dipandang Iqbal sebagai seorang yang ma‟shûm, yang terbebas dari dosa dan maksiat.

Muhammad adalah seorang Nabi yang memiliki kepribadian rabbani yang secara holistik bisa menyesuaikan diri dengan alam, lingkungan, umat Muslim ataupun non Muslim (Rahmat, 1991).

Secara umum Muhammad SAW telah menguraikan bagaimana mewujudkan kebahagiaan dan kesehatann mental.

Pertama, menguatkan aspek rohani. Selama 13 tahun Muhammad SAW menghabiskan waktunya untuk meluruskan akidah dengan meneguhkan akar-akar keimanan ke dalam hati umat dan membersihkannya dengan mempraktikkan ibadah-ibadah dan ber-taqarrub kepada Allah.

Iman yang tertanam dalam hati umat telah mengubah kepribadian bangsa Arab dari belenggu jahiliyyah menjadi bangsa yang berkebudayaan tinggi.

Kedua, dengan mengendalikan kesadaran manusia agar senantiasa eksis dalam perlindungan al-Qur‟an. Muhammad mengajarkan umatnya untuk memenuhi kebutuhan ini dengan jalan halal dan tidak mubadzir (Najati, 1993: 8-10).

Baca Juga:  Adakah Cara Mencintai Allah SWT dalam Bentuk Perilaku? Berikut Dalil-Dalilnya

Sebaliknya, manusia modern-postmodern cenderung kurang memiliki raushan fikr (pemikir tercerahkan). Raushan fikr yaitu orang yang mengenal Allah, memahami dunia dan menemukan nilai-nilai luhur yang dikaruniakan Allah SWT kepadanya.

Manusia transisional adalah manusia yang secara umum pesimis sehingga selalu dalam keadaan bimbang serba salah paham dalam mendidik diri secara layak.

Dalam konteks mendidik diri, Syariati menafsirkan al-Qur‟an Surat al-Rum [30]: 60 yang menyatakan; “karena itu bersabarlah engkau hai Muhammad, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan janganlah engkau merasa berkecil hati terhadap orang-orang yang tidak meyakini hari kiamat itu”.

Menurut Syariati, ayat ini sangat pas dalam mendasari manusia transisional yang butuh cara untuk mendidik diri dengan raushan fikr (Syariati, 1995: 131). Dalam konteks yang lebih formal, mendidik diri mestinya menjadi tujuan inti pendidikan terutama pendidikan Islam.

Mochamad Ari Irawan