Begini Cara Mengetahui Hadits Palsu

Begini Cara Mengetahui Hadits Palsu

Pecihitam.org – Setelah peristiwa terbunuhnya khalifah Usman bin Affan, lalu disusul lahirnya kelompok-kelompok politik dalam islam, sebagian orang berani membuat hadis-hadis palsu. Apa saja motif seseorang melakukan pemasuan hadits? Ada banyak motifasinya sebagaimana yang sudah penulis jelaskan sebelumnya. Nah, bagaimana cara mengetahui hadits palsu?

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dikutip dari buku Kritik Hadis karya Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA., ada beberapa cara mengetahui hadits palsu, antara lain:

1. Pengakuan pemalsu

Para pemalsu hadits terkadang mengakui sendiri bahwa mereka membuat hadits palsu, seperti pengakuan Abu ‘Ishmah Nuh bin Abu Maryam al-Marwazi, ia mengakui membuat hadits-hadits palsu yang berkaitan dengan fadhilah (keutamaan) membaca surah-surah al-Qur’an. Ia menyebutkan bahwa hadits-hadits itu diterimanya dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas. Sementara murid-murid Ikrimah yang lain tidak menerima hadits-hadits itu.

Ketika ditanya hal itu Abu Ishmah menjawab, “Sekarang ini saya melihat orang-orang sudah tidak mau lagi membaca dan mempelajari al-Qur’an, karenanya saya membuat hadits-hadits itu agar orang-orang mau kembali mempelajari al qur’an”. (lihat di Jami’ al-Ushul fi Ahadits al-Rasul karya Ibnu al-Atsir, hal: 137).

2. Semi Pengakuan

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 31 – Kitab Iman

Pemalsu hadits kadang tidak mengakui bahwa ia memalsukan hadits. Namun ketika ditanya ketika ia lahir dan kapan gurunya wafat, ia memberikan jawaban yang tidak tepat, misalnya gurunya ternyata wafat sebelum ia lahir. Jadi ia tidak pernah bertemu sama sekali dengan gurunya itu, sementara hadits yang ia sampaikan hanya berasal dari gurunya itu.

3. Subyektifitas Rowi

Apabila rawi (periwayat) hadits adalah orang yang fanatik bahkan mengkultuskan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, dan hadits yang ia riwayatkan berkaitan dengan keutamaan dengan keluarga Sayyidina Ali, maka besar kemungkinan hadist itu palsu, karena faktor subyektifitas perawinya. Demikian pula sebaliknya.

4. Keganjilan Dalam Materi Hadits

Apabila materi hadits bertentangan secara tegas dengan maksud al-Qur’an, dimana tidak mungkin di fahami dengan metode jama’ dan sebagainya, maka besar kemungkinan hadits itu palsu.

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 621-622 – Kitab Adzan

Tapi tidak mudah menvonis seperti itu, sebab kontroversial antara hadits dengan al-Qur’an terkadang hanya berangkat dari ketidaktahuan kita dalam memahami maksud dari keduanya. Begitu juga ketika suatu hadits yang sangat jelek bahasanya, atau bertentangan dengan akal yang sehat, maka besar kemungkinan ia palsu.

5. Rawinya Pendusta

Menerut pendapat Imam al-Suyuti dalam kitab Tadribur Rawi hal. 264- 275, apabila dalam rawi hadits terdapat rawi yang pendusta, maka para ahli hadits itu palsu. Sementara apabila rawinya hanya diduga sebagai pendusta, maka haditsnya hanya dinilai matruk (tidak dipakai), suatu klasifikasi terburuk alam hadits-hadits lemah.

Selain dengan cara-cara diatas, untuk mengetahui hadits palsu, para ulama telah melakukan penelitian kemudian membukukannya, agar kepalsuan itu diketahui umat islam. Diantaranya adalah kitab al-Maudhu’at karya Ibn al-Jauzi, kitab al-La’ali al-Masnu’ah fi al-Hadits al-Maudhu’ah karya al-Suyuti, Kiblat Tanzih al-Syari’ah al-Marfu’ah ‘an al-Ahadits al-Syani’ah al-Maudhu’ah karya Ibn ‘Arraq al-Kannani. (lihat di Taisir Mustalah al-Hadis karya Mahmud al-Thahan, (Beirut, hal. 93).

Baca Juga:  Memahami Esensi Hadis Tentang Hijrah yang Sebenarnya

Begitu juga kitab Tadzkirah al-Maudhu’at karya Muhammad Thahir al-Hindi, kitab al-Fawaid al-Majmu’ah fi al-Ahadits al-Maudhu’ah karya al-Syaukani, dan lain sebagainya.

Seperti itulah cara mengetahui hadits palsu. Nah, jika kita mendengar hadits yang kemungkinan masuk dalam salah satu ketegori tersebut, maka kemungkinan hadits itu masuk dalam kategori (palsu) tersebut. Oleh karena itu, patutlah bagi kita, terlebih pada sebagian orang yang mendalami ilmu hadits, untuk tidak semerta merta menerima hadits yang sampai padanya, namun sebaiknya diteliti terlebih dahulu. Wallahu A’lam.

Nur Faricha

Leave a Reply

Your email address will not be published.